
Suara Merdeka CyberNews. Apa arti penting persabahatan, cinta, dan keperawanan? Dalam film drama remaja percintaan berjudul The Sexy City ketiga hal itu dihadirkan dengan rumitan yang tidak begitu mengecewakan. Helfy C.H Kardit, sutradara yang selama ini terlanjut diidentikkan dengan film-film kelas dua, berupaya menghadirkan sebuah film drama yang lebih bermartabat. Tidak sebagaimana film terakhirnya Arisan Brondong, dan Suster Keramas misalnya.
Sebagai sebuah film yang coba menyoroti persoalan remaja dengan semua dinamikanya, kemudian dibenturkan dengan persoalan mempertahankan hidup di kota megapolitan bernama Jakarta. Sejatinya, tidak ada yang baru dengan tema yang diemban sutrdara. Sudah berbilang film bertema serupa seperti Virgin; Ketika Keperawanan Dipertanyakan, dan yang terkini Bidadari Jakarta, juga menyoroti betapa kejamnnya Jakarta, bagi para gadis yang hendak mengakrabinya.
Gadis disini, hampir selalu distereotipekan dengan sosok udik, yang datang ke Jakarta, dengan berbekal pendidikan sekedarnya. Dan untuk mempertahankan hidup, hampir dapat dipastikan dengan hanya mengandalkan kerupawanan paras, dan kesentosaan tubuhnya. Kisah selebihnya, semua orang hampir pasti dapat menebaknya, para gadis udik itu, cenderung menggadaikan hidupnya, atas nama mempertahankan nasib, yang tidak ada membelanya kecuali dirinya sendiri. Caranya, ya dengan menggadaikan tubuhnya.
Cara-cara Fatalis
Demikian pula dalam film yang memasang Ardina Rasti, Fauzi Baadila, Baim ''The Dance Company'', dan Tio Pasukadewa sebagai pelakon utamanya itu. Sengakarut persoalan hidup yang superklise membalut pelakon utamanya, akhirnya dipecahkan lewat cara-cara fatalis; membunuh dirinya sendiri.
Poppy (Ardina Rasti), yang berseiring nasib dengan Stella (Michella Adlen), dan Nanda (Jamsa Prajasmita), harus berkelahi dengan kerasnya nasib di Jakarta, dengan cara apapun. Di bawah lindungan Om Reno (Tio Pasukadewa), Poppy dan Stella bekerja menjadi seorang penari streptease, sekaligus LC, atau teman minum di rumah hiburan malam. Sementara Nanda, yang bekerja sebagai wanita panggilan paruh waktu, bersama Vino (Fauzi Baadila), pacar sekaligus ''manajer'' atas tubuh Nanda, juga mempunyai persoalan pada narkoba.
Ihtiar tiga sekawan dalam menyiasati, mengakali, bahkan mencurangi nasibnya masing-masing itulah, yang dialirkan di film yang akan mulai edar 25 Maret mendatang itu. Sebagai film yang ditujukan kepada remaja, khususnya perempuan, yang hendak mengadu nasib di Jakarta,film The sexy City menyajikan sebuah pesan yang baik. Bahwa pesan untuk mencapai impian bisa ditegakkan dengan cara-cara yang baik, tanpa harus menjadi jelek tidak tersampaikan kepada penontonnya, itu dua hal yang berbeda.
(Benny Benke/CN15)