
Suara Merdeka CyberNews. Bagi saya terlalu kotor. Di Jakarta pula, selama dua tahun saya pernah digosipkan mundur dan vakum dari musik jazz. Saya dianggap tidak bisa apa-apa lagi. Makanya, saya sampai kini tetap memilih tinggal di Surabaya, kota kelahiran saya, dan saya tetap berkarya,".
Kalimat itu meluncur dari Bubi Chen (72) menjelang pergelaran jazz dalam rangka penganugerahan "Life Achivement" dari pemerintah provinsi Jawa Timur oleh Gubernur Sukarwo di Gramedia Expo Surabaya Sabtu (13/3). Ikhwal mengapa sampai sekarang maestro jazz itu tetap memilih berdiam di Surabaya, karena ia sebagai "arek Suroboyo" amat mencintai kotanya.
Sebenarnya sejak tahun 60-an di zaman Presiden Soekarno, ia pernah ditawari sebuah rumah tinggal di Jakarta. "Saya inget waktu itu presiden Soekarno pernah menawari saya tinggal di daerah Menteng. Tapi saya tetap memilih tinggal di Surabaya. Dan kalau berada di Jakarta saya lebih suka menginap dari hotel ke hotel saja,'' kata Bubi Chen yang pada tahun 2004 pernah menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden Megawati Soekarnoputri.
Bicara Lewat Jemari
"Memang sekarang saya tidak bisa bicara banyak, berjalan pun sudah susah, maka saya sekarang hanya bisa berbicara lewat jari-jari tangan saya," lanjut sang mastro. Itu berarti Bubi Chen terus berkarya, merekam album dan melakukan konser.
Bubi Chen menerima penghargaan itu di tengah gencarnya promosi album terbaru dia The Many Collors of Bubi Chen, ini album pertama Bubi Chen sejak dia diisukan mundur dari dunia musik jazz. Sejak album itu dirilis 4 bulan lalu, penjualannya menurut Lodhy Surya, manajer Bubi Chen, sudah melampaui target. Album The many Collors of Bubi Chen berisi beberapa lagu rock klasik bertema balada (slow rock) dari Deep Purple, Led Zeppelin, Scorpion dan Kansas.
(Bambang Isti/CN15)