panel header
AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
12 Maret 2010 | 16:05 wib
Film Hachiko: A Dog's Story
Menjaga Kesetiaan dengan Bayaran Nyawa
image

Suara Merdeka CyberNews. Kepada siapa semestinya kesetiaan disematkan? Kepada sepasang kekasih yang berikrar menjaga kemurnian cintanya? Apapun tantangan, dan bayarannya. Tidak! Dalam film Hachiko: A Dog's Story, kesetiaan dipertontonkan dengan mengharukan oleh seekor anjing bernama Hachiko. Dari anjing bernama Hachiko itulah, arti dan makna kesetiaan dibuktikan dengan bayaran terpuncaknya, nyawa.

Demikianlah film drama yang sebenarnya telah dirilis sejak Agustus 2009 lalu di AS, dan baru akan diedarkan di Indonesia dalam waktu dekat ini, bercerita. Film ini beranjak dari kisah nyata anjing setia bernama Hachiko di Jepang. Di Jepang sendiri versi filmnya sudah pernah dibuat tahun 1987, dengan judul Hachiko Monogatari.
 
Di versi terkininya, sutradara Lasse Hallstrem, memasang aktor Richard Gere, Joan Allen dan Sarah Roemer, sebagai pelakon sentralnya. Dan aktor sesunguhnya, tak lain dan tak bukan adalah anjing Hachiko. Plot dalam versi film terkininya memang sederhana. Prof Parker Wilson (Richard Gere) dikisahkan adalah seorang pengajar seni pada sebuah universitas. Yang selalu menggunakan kereta diesel sebagai alat transportasi, dari dan ke universitasnya menuju rumahnya, di Rhode Island.

Hingga pada sebuah persimpangan nasib, dia menemukan anakan anjing jenis Akita yang konon hanya ada di Jepang. Anjing jenis ini, sangat dipercaya sejak zaman kekaisaran Jepang, memang dikenal sangat setia dengan majikannya, siapapun dia. Bahkan ketika majikannya telah wafat, sang anjing tetap akan bersetia duduk di samping jenasah tuannya.

Dalam film Hachiko: A Dog's Story, kematian sang profesor pun tidak membuat Hachiko, yang berarti delapan,- angka keberuntungan untuk orang Jepang-, surut menanggalkan kesetiannya. Selama sepuluh tahun penuh, tanpa jeda, setiap hari, Hachiko bersetia menunggu, di sudut taman, tempat paling leluasa dan tinggi, dimana ia biasanya menanti mendiang tuannya datang, dan jelma dari dalam stasiun kereta.

Selama sepuluh tahun itupula, para pedagang yang juga menggantungkan nasib dari hiruk pikuk stasiun kereta, menjadi bagian dari hidup Hachiko. Mereka selain memberika makan, dan minum, juga salut, haru, iba dan perasaan campur aduk lainnya, melihat kesetiannya kepada tuannya, yang telah lama mangkat. Bahkan ketika musim telah berganti berbilang tahun, tidak ada yang mampu menghentikan kesetiaan Hachiko kepada tuannya, sampai ajal akhirnya menamatkan kesetiaannya.

Replika Patung Hachiko Sebagai Penghormatan
Dalam versi kisah nyatanya, cerita Hachiko lebih mengharu biru. Hachiko yang lahir pada 10 November 1923, dan mati pada 8 Maret 1935, di Jepang dikenal dengan nama chuken Hachiko, anjing setia bernama Hachiko. Pada tahun 1924, Hachiko dibawa ke Tokyo oleh tuannya, Hidesaburo Ueno, seorang profesor agriculture di Universitas Tokyo.

Nah, selama di Tokyo, setiap pagi, dia selalu mengantar, menunggu, dan melihat tuannya keluar masuk pintu depan sebuah stasiun, sebelum akhirnya menyapa kembali Hachiko di dekat stasiun kereta Shibuya, sore harinya. Pasangan manusia dan anjing itu, terus mengulang rutinitas itu sampai bulan Mei 1925. Hingga akhirnya, tanpa sepengetahuan Hachiko, professor Ueno tidak kembali lagi sore itu, di tempat biasanya mereka bertemu, hingga waktu seterusnya.

Sebagaimana versi filmnya, dalam kisah nyatanya sang profesor terkena stroke di universitas, dan mangkat, untuk tidak kembali ke stasiun selamanya. Meski sahabat setianya itu, selalu menantinya, saban hari, hingga sepuluh tahun kemudian! Meski sebenarnya, Hachiko pernah dipindahkah kepemilikannya kepada orang lain, tapi ia memilih minggat, dan terus menunggu tuannya datang di depan stasiun kereta.

Menyadari tuannya tidak pernah jelma, ditempat biasanya. Hachiko, yang semakin lama semakin renta, menetapkan kesetiaanya mati di depan stasiun. Selama proses menunggu itulah, puluhan kaum komuter yang lewat di depan stasiun Shibuya, memberikan simpati dengan memberi makan, dan minum padanya. Sebagian berpoto, dan mengabadikannya. Untuk menghormati kesetiaan Hachiko, masyarakat Shibuya membangun replika pantung Hachiko di depan stasiun kereta Shiyua. Pada masa perang dunia ke-II, patung itu pernah rusak, sebelum diperbaiki kembali, dan menjadi perlambang kesetiaan hingga kini.

Di tangan Lasse Hallstrem, yang pernah dinominasikan sebagai sutradara terbaik lewat film The Cider House Rules pada ajang Academy Award, keharuan kisah anjing bernama Hachiko dialirkan dengan liris.

(Benny Benke/CN15)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
11 Februari 2012 | 19:02 wib
Dibaca: 255
image
11 Februari 2012 | 16:01 wib
Dibaca: 156
image
11 Februari 2012 | 15:03 wib
Dibaca: 420
image
11 Februari 2012 | 09:06 wib
Film Malaikat Tanpa Sayap
Hidup Tak Ada yang Mudah
Dibaca: 425
image
11 Februari 2012 | 00:24 wib
Dibaca: 233
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER