panel header
DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
12 Februari 2010 | 10:11 wib
Petualangan Intel Prancis
image

SETELAH berulang kali terjebak dalam arus ”permainan” petinggi-petinggi intel dan kini nyawa keluarganya pun turut terancam, Axel Guermeur, mantan perwira DRM (Dinas Intelijen Militer), akhirnya memutuskan untuk langsung melayangkan surat kepada Presiden Prancis. Permainan yang sesungguhnya baru saja hendak dimulai.
   Kisah novel bergenre detektif ini berawal dari pertemuan Axel dengan kawan lamanya, Laurent Sardou yang juga seorang intel, di Hotel Lutetia. Sebuah tempat yang sempat menjadi pusat kendali para intel Jerman kala menduduki Prancis dulu di era perang dunia 2. Jadi, tepatlah pilihan venue kedua mata-mata ini.
   Laurent menawarkan Axel untuk menjadi intel bayangan dalam menunaikan misinya. Mereka akan memburu orang paling berbahaya yang dicurigai sebagai pendukung finansial gerakan-gerakan Islam radikal semacam Jamaah Islamiah yang merupakan jaringan Alqaedah. Berbagai rencana pun disusun dengan serinci dan seteliti mungkin.
   Penyelidikan dimulai dari Jakarta dengan penyamaran Axel sebagai utusan kantor pusat perusahaan MZX di Prancis untuk melakukan audit keuangan perusahaan Total Indonesia. Sayang, rencana operasi itu tidak berjalan dengan lancar. Laurent yang seharusnya menjadi tokoh kunci misi ini, tiba-tiba saja menghilang dengan meninggalkan sejumlah teka-teki.
   Kemunculan dokumen-dokumen pembantaian keji oleh dr Artonok, terbunuhnya pemilik bar di Kuta, Bali, serta terungkapnya kabar bahwa Laurent sejak setahun yang lalu sudah tidak tercatat lagi sebagai anggota DGSE (Dinas Intelijen Prancis, bisa disetarakan dengan BIN dan CIA), membuat Axel jadi semakin penasaran. Apa sesungguhnya yang telah terjadi? Mengapa ia dilibatkan dalam permasalahan yang kompleks ini? Axel sendiri tidak memahaminya.
   Ternyata permainan masih akan terus berlanjut. Axel dengan dukungan dari Jenderal Dornot, pemimpin sebuah lembaga intel Prancis yang keberadaannya penuh rahasia, memutuskan untuk melakukan penyelidikan dengan pergi ke Bali dan Samarinda. Dua tempat terakhir yang dikunjungi Laurent.
   Di sanalah ia bertemu dengan Robert, Ketut, dan Irish yang baru diketahui kemudian adalah kaki tangan Dornot, orang yang sesungguhnya menjadi pengendali semua ini. Ya, ternyata tak ada sasaran yang akan dibasmi dalam misi ini. Namun Dornotlah yang bermaksud menghabisi mereka, menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya berbahaya dan dipandang akan menjadi penghalang dari ambisi pribadinya untuk meraih harta dan kekuasaan.
   Begitulah, melalui buku ini, kita diajak turut menyelami liku-liku penyelidikan sang intel di Indonesia. Pembaca terus dibuntuti oleh berbagai teka-teki. Pertanyaan yang satu menimbulkan pertanyaan yang lain dan begitu seterusnya, hingga kemudian kita menyadari bahwa di dalam pertanyaan itulah sesungguhnya tersimpan kepingan-kepingan jawabannya.
Intel dan Peranan
   Cara Jean Rocher membuat jalinan peristiwa dari satu adegan ke adegan yang lain, terbilang mengasyikan dan mendebarkan. Ceritanya berjalan mengalir, dan mencerminkan pula situasi serta kondisi hubungan antara Indonesia dengan  Prancis selama ini, terutama terkait soal aksi-aksi teroris internasional. Pengarang yang mantan atase militer pada Kedutaan Besar Prancis di Indonesia pada 1993-1997 ini, tampaknya amat memahami seluk beluk dunia intelijen.
   Melalui buku ke-duanya ini, setelah novel ëLelehan Musim Api” yang berlatar cerita persahabatan antarbangsa, Jean Rocher mencoba untuk membangun hubungan antara fakta dengan fiksi, antara realita kenyataan sehari-hari dalam suatu realitas imajiner yang menawan.
   ”Kisah di dalamnya boleh dikata adalah kepingan-kepingan perjalanan saya selama menjalani tugas di Indonesia. Selama delapan tahun saya menuliskannya dengan menyusun kembali ingatan dan tentunya dibumbui dengan imajinasi,” tutur Jean Rocher.
   Jean Couteau, pengalih bahasa buku ini menegaskan bahwa ada sejumlah pertanyaan yang amat penting yang patut diperhatikan. Apa sesungguhnya peranan dinas intelijen serta sejauh mana intel bekerja demi kepentingan pribadi, bangsa atau kelompok moniritas maupun ekstrem?
Pada dasarnya intelijen dibentuk tentu untuk membaca situasi dan mencari informasi-informasi sensitif yang dipandang berpengaruh terhadap keamanan dan stabilitas Negara. ìHanya saja, info-info penting yang diperoleh para intel tidak digubris dan diperhatikan dengan seksama. Akibatnya, selama ini kriminalitas masih merajalela di Negara ini. Perlu diketahui juga, bahwa tidak sedikit intelijen yang bekerja untuk kepentingannya sendiriî, papar Jean Rocher.
   Penulisan buku ini tentu tidak semata untuk membeberkan bagaimana sistem operasi para intelijen Negara. Namun, melalui ramuan bahasa yang literer dan diolah sedemikian rupa, buku ini mampu tampil sebagai karya sastra yang menjanjikan. 
   Pemilihan kata dalam proses penerjemahannya dari bahasa Prancis ke bahasa Indonesiapun terlihat sangat diperhitungkan. Penerjemah dengan apik menyusun kalimat demi kalimat sehingga kita bisa menikmati dan membaca buku ini dengan mengasyikan.
   Kehadiran buku ini patut diapresiasi oleh kita semua. Upaya sang penulis untuk menyajikan kisah-kisah detektif seperti ini, tentu akan turut memper­kaya khazanah kesusastraan Indonesia. Ke depannya, semoga lebih banyak lagi para elite militer yang menulis karya satra. (Ni Ketut Sudiani-35)

(Ni Ketut Sudiani-35/Nv@)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
11 Februari 2012 | 19:02 wib
Dibaca: 254
image
11 Februari 2012 | 16:01 wib
Dibaca: 156
image
11 Februari 2012 | 15:03 wib
Dibaca: 420
image
11 Februari 2012 | 09:06 wib
Film Malaikat Tanpa Sayap
Hidup Tak Ada yang Mudah
Dibaca: 424
image
11 Februari 2012 | 00:24 wib
Dibaca: 233
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER