panel header
NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
04 Februari 2010 | 19:08 wib
Kejutan "IX" dari Bangkutaman
image

SEPULUH tahun bukanlah waktu yang singkat dalam berkarir, termasuk karir bermusik seorang musisi atau sebuah band. Banyak cara yang dilakukan musisi atau band untuk merayakan sepuluh tahun perjalanan karir mereka di industri musik tanah air. Dan setelah sepuluh tahun perjalanan karir mereka di dunia musik independen, Bangkutaman (Jakarta), mengeluarkan sebuah album digital bertajuk "IX", dibawah net label, Yesnowave.

Bangkutaman yang digawangi tiga orang, Wahyu Nugroho (vokal, bas gitar), J. Erwin (backing vocal, lead guitar), dan Dedyk Erianto (drum), merilis album "IX" yang tepat di penghujung tahun 2009 lalu, yaitu pada 31 Desember. Album ini bisa diunduh secara gratis lewat net label asal Yogyakarta, www.yesnowave.com. Keunggulan dari album ini, pengunduh tidak hanya mendapatkan sebuah album yang berisi 12 lagu, tapi juga sebuah booklet sebanyak 15 halaman.

Dua belas lagu ini, beberapa diantaranya adalah single unrelease (lagu yang tidak masuk ke dalam album) Bangkutaman sebelumnya, Love Among The Ruins (2004), lagu-lagu dari penampilan live mereka, beberapa lagu versi "mentah" alias versi rekaman asli yang belum di mastering, serta sebuah lagu, "Ode buat Kota", yang nantinya dimasukkan ke album Bangkutaman yang rencananya akan dirilis pada April 2010.

Sedangkan bookletnya, berisi catatan perjalanan karir Bangkutaman yang lahir dan eksis di Yogyakarta, hingga mereka hijrah ke Jakarta pada 2007, selama satu dekade (1999-2009), foto-foto, diskografi, komentar-komentar kritikus dan pengamat musik, ataupun musisi lainnya yang mengomentari Bangkutaman, dan cerita (deskripsi) dari keduabelas lagu yang ada di album "IX". Manajer Bangkutaman, Nuki Nugroho, mengatakan kalau "IX" merupakan proyek iseng namun serius. Tujuannya, sebagai teaser menuju album baru Bangkutaman, dan membeberkan sejarah Bangkutaman kepada para penggemarnya, terutama para penggemar anyar mereka.

Eksis kembali
Jadi, sebelum para penggemar nantinya membeli album baru Bangkutaman, mereka disuguhi terlebih dahulu dengan sejarah dan gambaran mengenai band ini. Apalagi, Bangkutaman vakum selama kurang lebih tiga tahun. "Takutnya orang-orang mengira ini band baru, padahal mereka sudah eksis sejak lama," ungkap Nuki. Selain itu, sang vokalis, Wahyu, atau yang biasa disapa Acum, menambahkan, ini tidak hanya sebagai gambaran bagi para fans, tapi juga para kritikus musik, agar mereka bisa melihat juga menilai perkembangan musik Bangkutaman, dengan mengikuti perjalanan musiknya.  

Kemudian, tujuan dari dirilisnya "IX", tidak lain untuk merayakan satu dasawarsa karir mereka di dunia musik, khususnya dunia musik indie. "Kita mencoba membuat sesuatu untuk merayakan sepuluh tahun karir kita. Kita membongkar materi (lagu) lama, ada yang sudah pernah dirilis secara resmi, ada yang belum, dan ada satu lagu baru yang nantinya masuk ke album baru kita," jelas Acum.
 
Persiapan Bangkutaman dalam merilis "IX", hanya butuh waktu sekitar sebulan. Mereka merasa, banyak sekali materi bagus yang mereka miliki, tapi jarang ter-ekspose. Kalaupun (dulunya) sudah ada yang dirilis, jumlahnya sangat terbatas, hanya sekitar 500 kopi. Makanya, mereka merasa, daripada hanya disimpan, lebih baik dikemas ulang, dan disebarkan secara gratis. Dan mereka memilih Yesnowave sebagai label digital untuk menyebarkan musiknya.

Butuh Referensi yang Menginspirasi
Band ber-genre brit-pop atau yang akrab di telinga kita dengan nama indie-pop ini, sempat tak lepas dari anggapan orang-orang yang mengatakan kalau musik mereka sangat mirip, bahkan ada yang mengatakan mereka meniru, musik the Stone Roses, band asal Manchester, Inggris yang berjaya pada tahun '80an-'90an. Mereka sendiri, tidak berusaha menampik anggapan itu. Karena, mereka juga menyadari, kala itu (tahun 1999) memang belum terlalu banyak referensi musik, dan internet juga belum se-canggih sekarang. Namun, semakin ke depan, mereka semakin memperlihatkan 'warna' musik mereka, seiring dengan bertambahnya referensi, sekaligus inspirasi dalam bermusik.

Yang banyak menginspirasi mereka adalah, kehidupan sehari-hari yang mereka jalani, terutama sejak kepindahan mereka ke Jakarta, yang dimulai dari Acum dan Dedyk pada 2007, kemudian disusul Erwin pada 2009. Meskipun telah hijrah ke Jakarta, Bangkutaman tetap menunjukkan kecintaannya pada kota asal mereka berkarir, Yogyakarta, dengan tetap mendukung perkembangan musik independen di Yogyakarta. Mereka juga masih aktif di Shine Zin dan Indie Pop Rising Club, media alternatif di Yogyakarta.

Selain itu, mereka masih selalu menyempatkan untuk manggung atau sekadar berkunjung ke Yogyakarta. Bahkan, dalam memproduksi merchandise untuk Bangkutaman pun, mereka masih mempercayakannya pada rekan mereka di Yogyakarta.

(Mutiara Manggia/Nv@)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
11 Februari 2012 | 19:02 wib
Dibaca: 313
image
11 Februari 2012 | 16:01 wib
Dibaca: 163
image
11 Februari 2012 | 15:03 wib
Dibaca: 442
image
11 Februari 2012 | 09:06 wib
Film Malaikat Tanpa Sayap
Hidup Tak Ada yang Mudah
Dibaca: 439
image
11 Februari 2012 | 00:24 wib
Dibaca: 239
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER