
Apa makna komedi erotis bagi bintang iklan, pesinetron dan pemain film seperti Andi Soraya? Menurut ibu dua anak kelahiran Jakarta, 18 Juni 1976 itu, komedi erotis itu jika dipertontokan tidak akan membangkitkan syahwat penontonnya, melainkan tawa yang berderai.
Meski demikian, imbuh artis yang dilabeli bintang ''panas'' itu, tafsir erotisme bisa berbelok, jika penonton memaknainya dengan cara yang berbeda. ''Kalau sudah masuk dalam tataran mesum, itu bergantung kepada siapa yang menontonnya,'' kata dia.
Atas alasan itulah, dia tidak segan mempertontonkan kebisaannya memeragakan adegan striptease, pada salah satu adegan di film teranyarnya berjudul Hantu Puncak Datang Bulan. ''Kapan lagi bisa nonton saya striptease,'' katanya berkelakar.
Andi yang juga telah berlakon di sejumlah film bertema sejenis seperti Anda Puas, Saya Loyo (2008), Hantu Aborsi (2008), Ku Tunggu Jandamu (2008), Susuk Pocong (2009), dan Mau Dong Ah (2009) itu juga tahu diri, jika film-film yang dibintanginya cenderung ''mengundang'', dan ''membangunkan'' syahwat. Meski demikian, katanya lagi, dia tidak mempunyai tendensi macam-macam, kecuali berkalon secara profesional belaka.
(G20/Nv@)