panel header
DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
27 Januari 2010 | 13:03 wib
Film 18+ (true love never dies).
Sinematrografi dan Skenario Seperti Diadu Domba
image

Lebih prinsip mana kedudukan antara gambar dan cerita dalam sebuah film? Dalam film drama percintaan remaja berjudul 18+ (true love never dies), kedudukan sinematografi dan skenario seperti diadu domba.
 
Sebagai sebuah satu kesatuan yang seharusnya laras membangun sebuah cerita, bersama cara penyutradaraan, keaktoran, music score dan lini lain yang melengkapi bangunan orkestrasi sebuah film 18+ menjadi timpang.

Nayato Fio Nuala, sutradara yang pernah terbukti membajak ilustrasi musik film Korsel berjudul Kaeguki, dalam film Ekskul 2006 lalu, masih saja gamang melaraskan antara bahasa cerita dengan gambar. Hasilnya, film produksi Starvision yang akan liris mulai hari ini (28/1), mengalir jauh dari kata sempurna.

Sebagaimana telah dikenal dalam jejak rekammnya, Nayato yang rapi, jeli dan pintar memainkan, serta meletakkan cahaya, untuk kemudian berhasil menyajikan gambar yang apik, masih saja kepayahan menyajikan sebuah cerita yang wajar dan runut. Maksud baik ketiga penulis skenarionya, yaitu Ery Sofid, Eka D. Sitorus, dan Viva Westi untuk menghadirkan cerita yang kuat, hanya membekas dalam eksekusi bentuk filmnya, dalam bentuk sekedarnya.
 
Tema besar tentang perjalanan romantisme dua pria bersahabat dalam melakukan pengorbanan untuk kekasih-kekasih hati yang mereka cintai, tersaji dengan tidak runut, timpang, dan janggal. Padahal kualitas gambarnya, teristimewa komposisi dan pencahayaannya, sebagaimana diamini pemerhati film Yan Widjaja, mengingatkan pada film-film art sutradara Taiwan, Wong Kar Wai.

Namun sayang, film ini akhirnya semakin meneguhkan keberadaan film Indonesia terkini cenderung kedodoran pada masalah penyajian cerita. Meski tidak harus runut, paling tidak, karena masuk dalam kategori film cerita, sepatutnya tetap patuh pada logika drama. Apalagi sebagai film yang menyasar penonton remaja 18+, akan dinikmati penonton ABG.

Cinta di Mata Remaja

Film 18+ memusat pada konflik antara Raka (Samuel Zyglwyn), Topan (Adipati), Chanisa (Stevanie Nasyahab), Nayla (Arumi Bachsin), dan Helen (Leylarey Lesesne). Kelima sekawan itu berperan sebagai sepasang kekasih, dan seorang perempuan mantan kekasih diantara mereka berempat.

Raka juga mempunyai seorang kakak yang berprofesi sebagai penjaja sex (Bella Nasyahab). Sementara kekasih Raka, yaitu Helen, adalah teman baik Chanisa. Sedangkan Chanisa yang terjangkit penyakit paru-paru akut itu, adalah kekasih Topan, yang tak lain adalah kawan baik Raka. Sementara Nayla, adalah mantan kekasih Topan, yang dikisahkan mempunyai kecenderunga posesif kepada Topan, meski telah memutuskannya.

Pada subplot kecil lainnya, juga dikisahkan orang tua Topan adalah potret keluarga broken home. Bahkan Topan dikisahkan harus memergoki, dan belajar berbesar hati harus mengetahui jika bapaknya (Arie Sudarsono) gay. Sedangkan ibunya (Wulan Guritno) sibuk browsing di internet untuk kemudian gemar ''memuaskan dirinya sendiri''.
 
Konflik memuncak ketika Chanisa harus melakukan rawat inap di rumah sakit, sementara Raka sebagai kawan baik Topan, harus mengutang sejumlah bilangan juta kepada rentenir. Dari sini sangat bisa ditebak, hutang tak berbayar meski telah melewati tenggatnya. Sebagai bayarannya, rentenir dan gengnya menyekap Helen, untuk kemudian menistakannya.

Selanjutnya, sebagai laki-laki Raka dengan sok gagah maju ke medan laga, seorang diri melawan puluhan geng rentenir. Tentu saja Raka tumpas. Topan pun mulai berhitung, atas semua jasa baik kawan baiknya, yang telah menyelamatkan nyawa pacarnya itu. Sebagaimana Raka, Topan pun mengasah keberaniannya, untuk menuntut, dan melunaskan dendam kepada kawanan rentenir. Kisah selanjutnya, layaknya film India tahun 80-an.

Film 18+ juga menampilkan group band Koil dalam salah satu scene-nya, ketika menembangkan singgel hit ''Dalam Dunia Fantasi''. Selain itu, group band Pilar lewat tembang ''Kau'' juga dimasukkan sebagai salah satu original soundtracknya. Semua unsur musikalitas itu, dengan tidak mengecewakan ditata oleh Tya Subiakto Satrio sebagai music director.

Sedangkan kelebihan lain, selain gambar di film ini adalah kualitas suaranya. Kualitas sound engineer-nya digarap Khikmawan Santosa, sekaligus dia mixing ke agen Dolby Laboratories Inc di Technicolor, Bangkok untuk aplikasi Dolby Digital Stereo.

(G20/Nv@)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
11 Februari 2012 | 19:02 wib
Dibaca: 306
image
11 Februari 2012 | 16:01 wib
Dibaca: 163
image
11 Februari 2012 | 15:03 wib
Dibaca: 440
image
11 Februari 2012 | 09:06 wib
Film Malaikat Tanpa Sayap
Hidup Tak Ada yang Mudah
Dibaca: 434
image
11 Februari 2012 | 00:24 wib
Dibaca: 238
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER