
Setelah tahun 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merilis album perdana bertajuk Rinduku Padamu. Disusul kemudian awal 2009 dengan album kedua Evolusi, kini di pembuka tahun 2010 dia kembali merilis album ketiga berjudul Ku Yakin Sampai di Sana.
Album yang memuat sembilan lagu ini, dinyanyikan oleh Vidi Adiano, Joy Tobing, Koeswoyo Junior, Rio Febrian, Elfas Singer, Tantowi Yahya, Dewi Yull, dan Iwan Abdie. Keberadaan album ketiga ini, sebagaimana dikatakan Renny Djayusman sebagai salah satu penggagas acara, memuat beragam genre.
Selain itu, lirik yang merupakan karya presiden SBY itu, mempunyai benang merah, yang mencerminkan keyakinan, komitmen, dan keinginan untuk mencapai sesuatu yang ideal. Jika pada album perdana penata musiknya Dharma Oratmangun, dan Jockie Soeryoprayogo dipercaya mematangkan penataan musiknya di album kedua. Di album ketiga ini, sejumlah musisi dilibatkan secara mandiri.
Diantaranya Fariz RM, Pay, Irwan Simanjuntak, Alvin Lubis, Elfa Seciora, Yan Rusli, Koeswoyo Yunior, dan Tantowi Yahya. Dimata pemerhati musik Remmy Soetansyah keberadaan album di bawah label PT. Suara Hati itu, merupakan bentuk anti-pop atas keberadaan album pop yang beredar dewasa ini. Pada album pop kebanyakan, liriknya hampir dapat dipastikan berkisah tentang permasalahan patah hati, cinta, dan pengkianatan.
''Dan yang menyedihkan, hampir semua band dan penyanyi solo, yang merilis album pop, merasa gagah dan bangga, jika sudah menyanyikan lagu yang berlirik pengkianatan, dan cinta,'' katanya di teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, kemarin. Hal itu menjadi maklum, karena pasarpun hampir dapat dipastikan merespon lagu pop yang bercorak dan berlirik pengkianatan, dan cinta.
Sedangkan album SBY kali ini, menurut dia, bernarasi tentang peristiwa-peristiwa yang berpunggungan dengan tema pengkianatan cinta. Oleh karena itu, dia menyebut album yang akan diedarkan lewat jejaring MLM, selain ''dipaksakan'' dijual kepada instansi pemerintah itu, sebagai album anti-pop. Meski secara musikalitas, ujar Remmy Silado, yang didatangkan khusus untuk mengkritik album itu, menilai album SBY tetap digolongkan dalam album pop.
Remmy Silado, yang lama menjadi redaktur musik di majalah Aktuil, majalah musik terdepan pada tahun 80-an, menggunakan kritik apresiatif sebagai pijakan. Dengan kritik apresiatif, katanya, dia menanggalkan kosa kata cerca, maki, cela dan sebagainya dalam mengkritik sebuah karya. Dengan demikian, dia hanya menilai album SBY dari sudut estetika musikalitas.
Dari pantuannya, di beberapa lagu SBY, teristimewa pada lagu yang dinyanyikan Tantowi Yahya yang berjudul ''Majulah Negeriku'' mengandung unsur Reminesensa. Reminesensa adalah efek saling mempengaruhi antar lagu atau musik, terhadap lagu lain. Karena pada beberapa nada, lagu ''Majulah Negeri'' sangat mirip, untuk tidak mengatakan menjiplak susunan nada lagu milik Baby Blues dan George Baker. Serta mempunyai kesamaan melodi dengan lagu milik Dolly Parton.
Meski demikian, reminesensa tidak masuk dalam wilayah plagiat atau menjiplak. ''Bisa jadi ini hanya kebetulan biasa,'' katanya. Terlepas dari fenonema banyak reminesensa di beberapa lagu SBY, Remmy Silado menilai album pop ini, tak lebih dari ekpresi estetis dari seorang presiden, tidak lebih. Bahwa album lagu itu nanti tidak bersambut dengan selera pasar, sebagaimana album pertama dan kedua, menurut Remmy Soetansyah dan Remmy Silado, itu adalah dua hal yang berbeda.