
PIDATO merupakan salah satu sarana komunikasi politik yang paling sering digunakan. Mulai dari pemimpin negara, pemerintahan, institusi, politikus, dan aktivis, menggunakan pidato untuk memengaruhi massa atau publik mereka. Namun efektif atau tidaknya pidato bersifat sangat relatif, tergantung pada kapan, di mana, dan suasana apa pidato disampaikan.
Di berbagai belahan dunia, terutama di Amerika, pidato merupakan suatu hal yang dianggap sangat vital, untuk memberikan penjelasan kepada publik. Kepiawaian berpidato pun di negeri Paman Sam itu kerap dihubung dengan kompetensi kepemimpinan seseorang. Seorang Presiden Amerika Serikat, bahkan memiliki agenda tetap ‘’Pidato Mingguan’’ dan itu pun masih dibagi-bagi lagi menjadi pidato televisi, radio, dan online. Di Eropa dan Asia pun, pidato berperan penting dalam mengubah pandangan dan persepsi publik akan sesuatu.
Buku ini menyajikan 40 pidato yang disampaikan sejak 1945 hingga 2008, yang paling berpengaruh, lantang, dan dikenang. Ruang lingkup pilihan Hywell Williams sangat kaya dengan nuansa. Buku ini dimulai dari pidato berisi peringatan keras akan ancaman totalitarianisme hingga menyambut kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan.
Buku ini merupakan sebuah antologi berisi banyak suara dari para diktaktor, tokoh demokrat, kaum liberal maupun konservatif, tokoh nasionalis maupun internasionalis, prajurit, pejuang perdamaian, negarawan, dan pengusaha.
Dalam buku ini tersaji pula pidato-pidato dari para tokoh politik paling menonjol di abad ke-20 dan abad ke-21: Churcill, de Gaulle, Kennedy, King, Nehru, Nasser, Mandela, Mao, Thatcher, Blair, Castro, hingga Obama. Masing-masing naskah pidato yang disajikan dalam buku ini disertai pula dengan biografi singkat oratornya, uraian ringkas tentang situasi yang ada atau konteks sejarahnya, serta tinjauan tentang dampak dan konsekuensi dari setiap pidato tersebut.
Paling Diingat
Pidato-pidato paling terkenal di masa pasca Perang Dunia II juga tersaji dalam buku ini, termasuk yang paling diingat dalam sejarah. Pidato ‘’Tirai Besi’’ yang disampaikan Churcill di Fulton, Missouri pada 1946, pidato bersejarah David Ben-Gurion di depan Majelis Yahudi Palestina yang beru terbentuk dari pemilu tahun 1947, ‘’pidato rahasia’’ Nikita Khrushchev yang begitu mengejutkan ketika dirinya secara terbuka mengecam ekses stalinisme, hingga pidato pelantikan yang begitu menggugah dari Presiden John F Kennedy pada 1961. Ada pula pidato mengesankan Martin Luther King Jr di Lincoln Memorial pada 1963 hingga pidato menyentak Barack Obama tentang ras dan politik di National Constitution Center di Philadelphia pada 2008.
Pidato-pidato yang dipaparkan dalam buku ini mencerminkan pola pemikiran dan perimbangan kekuatan yang membentuk dunia kontemporer yang kita kenal sekarang ini. Kebanyakan pidato tersebut disampaikn oleh para politikus, khususnya para pemimpin nasional yang piawai mengomunikasikan arti penting pesan mereka dan akurasi kebenran yang terkandung di dalamnya. Pada umumnya para pemimpin ini memperoleh kekuasaan melalui cara-cara yang demokratis, di mana kata-kata merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengaruh, sehingga sejauh mana mereka mampu memainkannya dapat secara langsung mencerminkan sejauh mana mereka sudah belajar membujuk orang lain.
Pidato-pidato Fidel Castro, Nikita Khrushchev, dan ketua Mao membuktikan bahwa para diktaktor pun perlu memanfaatkan kahlian berkata-kata untuk membuat orang lain terkesan , yamg dimana bagi mereka hal tersebut hanyalah kekuatan tambahan atau sekadar selingan karena kekerasanlah yang menjadi andalan mereka untuk menancapkan dan melanggengkan kekuasaannya.
Buku ini merangkum banyak suara dengan tema yang bervariasi, mulai dari situasi di era rekonstruksi pascaperang hingga bangkitnya kekuatan politik Islam di dunia sejak awal abad 21. Banyak orator dalam buku ini berusaha menjawab soal identitas nasional. Ben Gurion bicara tentang hal itu di Israel, Nehru di India, Nyerere di Tanzania, dan de Valera di Irlandia. Mereka adalah para bapak bangsa yang hidup dalam kebudayaan yang sudah sangat tua. Persepsi mereka kontras dengan Thatcher di Inggris dan De Gaulle di Perancis, yang sama-sama membela negara dengan semangat kebangsaan yang kuat berkat sejarah panjang pemerinthannyayang tertata rapi. Sedangkan pidato-pidato politik Amerika selalu mengisyaratkan semangat dan keyakinan baru dari sebuah bangsa yang terus sibuk membangun peradabannya yang baru.
Penghormatan
Pierre Trudeau melalui pidatonya berusaha keras menyeimbangkan penghormatan terhadap keragaman dan semangat persatuan ketika merumuskan konstitusi baru untuk Kanada. Permohonan Maaf Kevin Rudd kepada penduduk asli Australia bukan hanya beangkat dai rasa penyesalan, namun juga keinginan untuk menciptakan arah baru bagi negaranya. Dalam berbagai contoh ini, di negara tua maupun negara baru, pidato selalu memainkan peran yang penting dalam menggugah sentimen maupun pemikiran tentang akar-akar identitas.
Kecakapan baku berpidato memang tidak terlalu ditekankan sekarang, namun dalam kenyataannya tetaplah penting. Tanpa kemampuan itu, seorang tokoh akan kehilangan khalayak pendengarnya, dan gagal menyampaikan argumentasinya. Kemampuan untuk membangkitkan minat intelektual dan emosional orang banyak melalui penyampaian buah pikiran dan isi hati secara tertata rapi merupakan dasar dari pidato yang hebat. Satu orang berdiri di depan banyak orang, menyesuaikan diri dengan situasi, lalu mulai bicara. Lakon ini akan terus berlanjut, dan melalui hal ini mengalir suara-suara yang sangat berpengaruh bagi kehidupan kita dewasa ini. (Delia Artipratiwi-35)