
SEHARUSNYA tidak ada kegelisahan bagi Haikal sore itu. Istrinya yang hamil berat sudah diantarkan ke rumah ibunya. Tak berapa lama lagi sang istri akan melahirkan anak ketiga. Dua anaknya yang masih kecil juga sudah ikut sang ibu. Haikal berharap, dalam kesendiriannya dia bisa mengkhayal dan menuangkannya dalam wujud karangan sebanyak-banyaknya. Dia bisa menulis cerita pendek sampai jemu. Dia ingin prestasi bisa meningkat dari biasa. Dia telah menggantungkan obsesinya tinggi-tinggi demi diri dan keluarganya.
Begitu senja menyelubungi awang-awang dan jiwanya, Haikal sudah berpakaian rapi. Sebisa-bisanya dia membangunkan suasana hati untuk bisa berinspirasi. Dia coba umpankan dirinya untuk direbut fantasi-fantasi. Dengan kesendiriannya ini, Haikal bisa lebih menumpukan perhatiannya menulis fiksi. Sejenak, dia ingin beristirahat menulis berita untuk majalah. Meski dia sudah 15 tahun bekerja di majalah berita itu, tapi Haikal hanya bisa makan gaji bulanan. Perihal tugas redaksi ini, Haikal sudah siap menantang arus. Dia sudah siap dipecat Pemimpin Redaksi bila dinilai agak melalaikan tugas rutinnya. Haikal berdalih dirinya membutuhkan suasana kerja yang lain.
Sengaja Haikal makan malam lebih awal dengan memesan nasi bungkus beserta beberapa potong daging di warung langganan. Dia makan sekenyang-kenyangnya. Dia butuh waktu satu jam lebih untuk memulihkan perutnya yang terlalu padat. Merasa suasana sudah memungkinkan, Haikal menghadapi meja tugasnya di pojok ruangan tamu. Maklum, rumah sederhana yang dihuninya bertahun-tahun tak punya kamar kerja khusus. Sebuah mesin tik tua siap diterkamnya dengan jemarinya.
Merenung-renung sejenak, Haikal mulai menyentuhkan ujung-ujung jemarinya di keyboard mesin tik itu. Persis ketika jari telunjuknya mau menekan huruf S, secara mendadak perutnya mulas. Haikal membatalkan niat karena bergegas ke kamar belakang. Sementara gulungan kertas di mesin tik itu kosong. Dia berusaha mengeluarkan isi perut sebanyak-banyaknya agak tidak mengganggu lagi bila sudah asyik mengetik.
Haikal kembali menghadapi mesin tik tua itu. Angannya menjalar ke mana-mana. Beberapa jam dia coba mengumpulkan imajinasi, tapi tetap sia-sia. Haikal tiba-tiba jadi bodoh. Haikal berpikir sendiri dalam hati, jangan-jangan inspirasi yang ingin dia himpun malam itu telah terbuang bersama kotoran-kotorannya saat di WC tadi.
Malam berangkat jauh, Bulan memang tak muncul malam itu sehingga yang bertakhta hanya gelap gulita dan sunyi. Lelaki bertubuh tegap itu mematung di depan mesin tik yang dingin. Tangannya mencoba beralih ke huruf A. Serempak dengan itu, tiba-tiba suara anjing tetangga menggonggong sekali. Nyaring. Diulanginya sekali lagi menancapkan ujung jemarinya di tuts mesin tiknya, anjing tetangganya menyalak lagi.
Senyap sejenak. Suara anjing tadi berlalu begitu saja. Merasa sudah aman, Haikal menatap mesin tiknya dalam-dalam. Tangannya siap mematuk huruf-huruf di keyboard. Dirabanya semua huruf itu dan ditekannya sesukanya:
1#$68()&740qbhnhdjpkrnhba=-0jhdbhyrkjdnhvabgrynkshdv
Haikal terkesan putus asa. Namun dia masih berdalih bahwa jurus mabuk yang diperankan jemarinya semata-mata untuk menghimpun imajinasi.
Ditatapnya huruf-huruf yang berderetan di mesin tik itu. Ada yang berubah tiba-tiba. Dia menemukan sederetan mata anjing yang menyala. Mata anjing itu berkedip-kedip. Mata-mata itu begitu bening dan nyalang. Melotot. Mencibir. Membelalak. Mengejek. Dan serempak dalam suasana asing itu, tiba-tiba mulai muncul lolongan. Mulanya seekor anjing. Lama-kelamaan bersahutan gonggongan belasan anjing yang lain. Suara-suara lengkingan itu memenuhi seluruh ruangan. Memenuhi lantai. Loteng. Dinding-dinding.
Haikal merasa seolah-olah lengkingan suara anjing itu tertuju ke dirinya. Haikal mencoba berkonsentrasi dalam keributan mendadak itu. Tapi tetap tak bisa. Dia coba pejamkan mata. Suara anjing-anjing itu agak mengecil dan pelan. Seketika lenyap tak berbekas. Haikal pun membuka katup matanya perlahan.
Gila! Benar-benar gila! teriak Haikal kuat-kuat. Mengapa anjing itu beranak-pinak di dalam benakku? Kenapa anjing-anjing itu. Aku tak butuh anjing sekarang. Aku hanya butuh ketenangan agar jemariku lincah menari di atas tuts mesin tik ini. Lalu, imajiku secara liar menuliskan tingkah banyak orang. Aku tak suka anjing. Tapi kenapa anjing-anjing itu kini memenuhi rongga benakku Aku tak suka anjing. Tidak. Taktaktaktak..!
Malam itu, Haikal tak bisa melakukan apa-apa. Padahal segala tumpuan imajinya sudah dimatangkan. Tapi pikirannya tetap kejurus ke anjiang-anjing itu.
Pagi-pagi, sebelum keluar rumah, Haikal berdiri di balik pagar rumahnya. Dia coba mengintip hati-hati, seperti apa anjing yang menggonggong malam tadi. Dia ingin tahu, apakah anjing itu sebenar-benar anjing?
Derit pintu rumah tetangganya mulai berbunyi. Pelan saja. Seorang lelaki bertubuh tegap muncul di beranda. Haikal mulai berpikir. Jangan-jangan, orang itulah yang telah melolong sekadar mengacau imajinasinya. Haikal mencoba menatap lelaki itu d