
INI buku unik sekali. Kumpulan sembilan cerpen namun bisa kita nikmati sebagai sebuah novel. Jika kita sebut novel, nyatanya setiap ”bab” adalah cerpen utuh yang dapat berdiri sendiri —meski semua bertalian erat dengan seorang perempuan bernama Nadira. Sungguh cara hadir yang memikat setelah 20 tahun Leila S Chudhori, si pengarang, menghilang sejak terbit kumpulan cerpennya, Malam Terakhir (Grafiti, 1989).
Empat cerpen yang direvisi dalam buku ini telah dimuat di majalah, yaitu ”Melukis Langit” (Matra, Maret 1991), ”Nina dan Nadira” (Matra, Mei 1992), ”Mencari Seikat Seruni” (Horison, April 2009), dan ”Tasbih” (Horison, September 2009). Lima cerpen yang lain (”Ciuman Terpanjang”, ”Kirana”, ”Sebilah Pisau”, ”Utara Bayu”, dan ”At Pedder Bay”) ditulis atau paling tidak dirampungkan dalam rangka penerbitan buku ini.
Jejak kesengajaan penyusunan sekumpulan cerpen menjadi entitas baru itu tampak dalam ”Ucapan Terima Kasih”, terutama pada ilustrator Ario Anindito ”yang senantiasa menyediakan waktu dan ruang untuk berdiskusi tentang karakter Nadira, Nina, Arya, Utara Bayu...” serta ”mereka yang membaca dan memberi masukan pada draf awal”, antara lain Budi Darma, Joko Anwar, Lala Hamid, dan Jamal D Rahman.
Jejak lain terlihat pada pengurutan cerpen yang tidak berdasarkan waktu penulisan. Cerpen pertama Nadira adalah ”Melukis Langit” (1991), namun yang menjadi pembuka buku ini justru cerpen yang tergolong mutakhir, ”Mencari Seikat Seruni” (2009). Pilihan yang cerdas memang. Selain mengentak sebagai pembuka karena berawal dari ”kematian tak wajar ibu Nadira”, juga memberikan semacam kerangka kepada pembaca: lewat kesembilan cerita itu, Leila hendak bicara apa.
Bukan tentang
Kenapa Leila memilih judul 9 dari Nadira? Kenapa bukan Nadira saja atau 9 (Cerita) tentang Nadira? Sebab, ini ”dakwaan” yang semoga benar adanya, dia memang tak semata bicara soal Nadira: perempuan berpendidikan, jurnalis andal, idealis, dan lajang (kota) yang kemudian menikah justru dengan ”lelaki yang salah”.
Dengan pola tutur sudut pandang berganti-ganti berikut ulang-alik waktu bahkan dalam satu cerpen, Nadira jadi semacam simpul atau titik acu untuk bercerita tentang siapa dan apa saja. Leila sangat leluasa menghadirkan dan mengeksplorasi seluruh tokoh, berikut kerumitan masalah dan latar belakang psikologis mereka. Tak ada tindakan tanpa alasan yang mungkin saja berada jauh di masa silam. Tak ada garis demarkasi hitam putih dalam kehidupan.
Dari (titik pijak) Nadira, ini hanya untuk menyebut contoh, Leila bisa berkisah dengan sangat detail dan menyentuh tentang Kemala, perempuan yang bebas berpikir, bergaul, dan bersikap sekaligus pribadi yang memendam lelah hingga memutuskan hari ini, aku bisa mati (”Mencari Seikat Seruni”).
Dari Nadira, Leila bercerita tentang betapa masa lalu saudara sekandung yang tak terungkap bisa sedemikian memburu. Bukan sekadar menghantui, melainkan juga membentuk relasi yang tak ideal sama sekali. Pada masa belia, Nina yang menuduh Nadira berbohong mencelupkan kepala adik bungsunya itu ke dalam jamban pesing, berulang kali. Nina terkejar dosa, Nadira terluka hingga dewasa (”Nina dan Nadira”).
Dari Nadira, Leila bertutur tentang Bramantyo, ayah Nadira, wartawan idealis dengan bergudang pengalaman membanggakan yang terjerembab atau dijerembabkan hingga lumpuh semangat, menderita post power syndrome, dan membuat Nadira selalu mengulang ”kebiasaan lama”: mencelupkan kepala ke dalam bak mandi (”Melukis Langit”).
Dari Nadira, Leila menyampaikan perihal kemungkinan muncul hasrat seksualitas yang berbeda pada tiap diri (”Kirana”). Dalam cerpen ini, Leila menyeret pembaca naik-turun panggung di sepanjang pertunjukan tari berjudul Kirana. Dia suguhkan gelindan realitas fiksi dan realitas pribadi dengan sangat lembut —seperti tarian Jawa pada umumnya— hingga hasrat seksual tokoh penari dan Nadira terasa sangat eksplosif dalam kontak asmara diam-diam.
Di cerpen-cerpen yang lain, dari Nadira pula Leila bercerita perihal Arya yang menarik diri dari hirup-pikuk setelah kematian sang ibu, Utara Bayu yang tak pernah berhenti bertengkar dengan diri sendiri perihal cintanya pada Nadira, Gilang Sukma dan Niko Yuliar yang pandai memikat sekaligus mencampakkan perempuan, serta Kris si pemuja rahasia Nadira.
Setia Format
Membaca 9 dari Nadira memang semacam menata potongan-potongan puzzle yang berserak menjadi satu gambar penuh. Kita bisa menyebut gambar apa dalam potongan itu, (separo) roda mobil misalnya, namun baru tahu keseluruhan bentuk mobil setelah semua potongan tertata.
Dengan demikian, sebenarnya, tidaklah harus kita membaca cerita dalam buku ini secara berurutan, dari halaman awal hingga akhir atau dari cerpen pertama hingga kesembilan. Acak pun, saya rasa, tak apa. Apalagi, sebagaimana tertulis di awal, Leila menggunaan pola tutur sudut pandang berganti-ganti dan ulang-alik waktu kejadian.
Catatan khususnya: selain mengutuhkan dan menguatkan setiap karakter, pola tutur sudut pandang berganti-ganti itu kadang-kadang membuat pengarang ”lupa” sedang berada di sudut siapa sehingga ungkapan khas yang dipakai oleh ”aku” Kemala terhadap ayah mertuanya, ”wajah gembil yang senantiasa masam”, misalnya, dipakai juga oleh ”aku” Nadira di bagian cerita yang lain. Ya, Nadira memang membaca buku harian ibunya, tapi mbatin dengan ungkapan yang sama di sudut dan peran berbeda tetap tak pas terasa.
Catatan lebih khusus sangat layak untuk Ario Anindito yang tak hanya menyisipkan ilustrasi sehingga buku ini tidak membosankan secara visual, namun juga turut menghadirkan drama dalam gambar. Di samping goresan yang kuat, dominasi warna cokelat dengan ”selingan” hijau dan kelabu berhasil menarik imaji ke wilayah terdalam cerita. Salut-malilut untuk Ario!
Yang terakhir, kenapa Leila ngotot dan meminta penerbit untuk memahami bahwa 9 dari Nadira adalah kumpulan cerpen, bukan novel sebagaimana ”keyakinan” sastrawan Budi Darma yang ternyatakan di sampul belakang? Jawabnya ada di pengantar buku edisi baru kumpulan cerpen Malam Terakhir (KPG, 2009): Saya hampir selalu memilih cerita pendek sebagai format karena, dalam beberapa hal, cerita pendek memiliki peraturan yang lebih keras, lebih menekan daripada bentuk fiksi lainnya...Cerita pendek menyediakan ruang yang sempit untuk ledakan yang dahsyat... (halaman xii).
Dalam 9 dari Nadira, Leila memilih dan enjoy di sembilan ruang sempit untuk menghasilkan ledakan-ledakan dahsyat di setiap ”bab”. Dan jika membaca entitas baru ini secara urut, kita akan bertemu ledakan terdahsyat di ujung cerita, akhir memesona yang saya hakulyakin memang hanya mungkin terjadi karena Leila setia pada format pilihannya. (35)