
Judul: Televisi, Kekerasan, dan Perempuan
Penulis: Sunarto
Penerbit: Penerbit Buku Kompas,
Cetakan: Pertama, April 2009
Tebal: xvi+ 240 halaman
Dalam buku yang berangkat dari disertasi program doktoral tersebut, Sunarto menggunakan pendekatan feminisme sosialis yang menganggap akar penindasan terhadap perempuan adalah apa yang dia sebut ”seekor binatang buas berkepala dua”: patriarki dan kapitalisme. Menurut Sunarto, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai patriarkis dan kapitalis dilakukan oleh perempuan dalam posisinya sebagai pengasuh anak-anak mereka. Selain itu, perempuan juga berfungsi menjaga stamina tenaga kerja (dalam hal ini laki-laki sebagai kepala rumah tangga) agar siap bekerja kembali keesokan harinya (halaman 37).
Dengan feminisme sosialis itulah Sunarto menganalisis interaksi sosial dalam lingkup komunikasi massa terutama media televisi, yang selama ini mungkin menyajikan kekerasan dan ”membimbing” anak-anak untuk berpola pikir patriarkis. Interaksi sosial tersebut (halaman 70-1) terjadi pada level mikro (melalui teks), meso (dalam bentuk interaksi antarindividu pada organisasi media dalam memproduksi teks), serta makro (mengambil bentuk interaksi antarinstitusi: komunikasi sosial antara media televisi dengan berbagai institusi sosial di masyarakat).
Televisi, Kekerasan, & Perempuan (TKP) sendiri membahas naturalisasi kekerasan sistemik terhadap perempuan melalui tayangan-tayangan anak. Sunarto menganggap, kartun impor semacam Doraemon, P-Man, serta Crayon Shinchan, memiliki daya untuk merepresentasikan kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan fisik, psikologis, maupun simbolik. Implikasinya, tayangan-tayangan itu sangat berpotensi memapankan peran gender yang asimetris antara laki-laki dan perempuan.
Pengamalan Nilai
Setelah diterpa dengan berbagai tayangan kartun tersebut, penonton anak-anak akan menelaah, mempelajari, dan mungkin akan mengamalkan nilai-nilai patriarkis yang berujung pada pemosisian perempuan sebagai pelestari ruang privat, dan pengukuhan laki-laki sebagai gender yang lebih dominan dan seolah-olah berhak merepresi perempuan.
Dalam tayangan Doraemon misalnya, ada relasi yang tidak seimbang antara tokoh pria seperti Nobita dan tokoh perempuan seperti Shizuka. Ideologi patriarkis maupun kapitalis terekam dalam relasi gender tayangan asal Jepang yang sudah tayang sejak 1990 ini. Kekerasan dalam dunia anak-anak perempuan di Doraemon adalah menampilkan kesan seolah-olah dunia ini penuh dengan anak laki-laki (halaman 144). Pemosisian perempuan di ruang domestik dan pria di kancah publik pun dilakukan secara alamiah di sini. Hubungan Nobita dengan teman-teman lelakinya, kurangnya porsi untuk Shizuka, maupun penggambaran ayah Nobita sebagai gender yang bekerja dan ibu Nobita sebagai penjaga keteraturan rumah, merupakan ujud konsep rumah tangga patriarkis dan kapitalis yang disebut-sebut oleh feminisme sosialis.
Internalisasi nilai-nilai patriarkis yang menyusup diam-diam dalam tayangan kartun inilah yang bisa dikategorikan berbahaya menurut Sunarto. Melalui tayangan ini, anak-anak tak sekadar teracuni secara perlahan akan berbagai bentuk kekerasan, baik itu kekerasan psikologis yang implisit, atau pun kekerasan fisik yang eksplisit. Anak-anak juga diberi pemahaman secara terselubung yang mengarah pada kekerasan sistemik terhadapa perempuan, yaitu stereotipikasi perempuan dengan karakteristik-karateristik yang khas patriarkis.
Karakteristik tersebut meliputi ekspektasi pada sifat-sifat personal tertentu (perempuan mengasuh dan tergantung, pria asertif dan mandiri), peran-peran sosial (pria sebagai ayah dan pencari nafkah keluarga, perempuan sebagai istri dan ibu), dan pekerjaan-pekerjaan atau posisi-posisi sosial (pria menjadi tentara dan politisi, perempuan menjadi jururawat dan relawan) (halaman 65).
Terma Wanita
Salah satu yang menarik dari buku ini, adalah digunakannya term wanita alih-alih perempuan oleh Sunarto. Ia sadar ”perempuan” lebih dekat di hati sebagian besar feminis dibandingkan dengan ”wanita” yang cenderung mencerminkan kondisi ”ketidakberdayaan perempuan akan kuasa laki-laki”. Namun ia berdalih, kata dasar ”empu” dalam ”perempuan” justru merupakan ekspresi dari hubungan yang tidak seimbang: mengandaikan posisi perempuan sebagai ”suplemen pria” dan ”sumber segalanya”.
Dalam beberapa hal, melalui TKP Sunarto memang terlihat ingin menyuguhkan temuan-temuan maupun ide yang keluar mainstream namun tetap di jalur paradigma kritis. Di lingkungan kerja misalnya, Sunarto justru menggagas jalan baru penghentian kekerasan terhadap perempuan, yaitu dengan memperlakukan perempuan berbeda dari laki-laki dalam beberapa kasus khusus. Inilah keadilan gender versi Sunarto, yang mengemuka di tengah gelombang ide penyetaraan g ender di ranah apa pun.
Sunarto berpendapat, dalam hal pembagian jam kerja, perempuan seharusnya diberi kompensasi, dengan tidak bekerja sama lamanya dengan laki-laki. Alasan Sunarto adalah, perempuan memiliki beban ganda sebagai pekerja dan sebagai istri sekaligus. Sebagai pekerja di ranah publik, perempuan menerima nilai-nilai maskuliniastik dan kapitalistik untuk bisa diterima (tune in) dalam lingkungan sosial mereka. Adapun di rumah, perempuan (lagi-lagi) mereproduksi nilai maskulinistik yang menempatkan perempuan dalam peran sosial sebagai istri dan ibu (halaman 178).
Buku ini menarik, karena eksplorasi kajian gender dalam tayangan anak-anak masih jarang dilakukan. Sayang, ”jalan” menuju bagian pendedahan episode Doraemon dan tayangan kartun lain yang sebenarnya merupakan bagian yang paling menarik, terlalu panjang dan teoritik sehingga berkemungkinan mengusik ketertarikan pembaca yang sebenarnya sudah terbangun sejak awal. (Isma Savitri-35)