panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
08 Februari 2014
Endang Yuniastuti
Blusukan untuk Teliti Durian Langka
image

Semula hanya gemar pada buah durian. Kemudian menjadi peduli terhadap verietas tersebut. Kegigihannya meneliti di berbagai daerah pun menggangkat dirinya sebagai peneliti spesialis buah durian, termasuk varietas langka. 

BERAWAL  dari ke­ge­­maran pada buah durian,  Endang Yuniastuti me­na­ruh perhatian khusus dan sering melakukan pe­nelitian terhadap buah yang bernama latin Durio zibetinus itu.

Salah satu yang diperhatikan adalah keberadaan sejumlah va­rietas durian lokal yang nyaris punah. Durian sukun yang berasal dari Matesih, Kabupaten Karang­anyar, pun tak luput dari obyek penelitiannya.

Dia juga lebih dikenal sebagai pakar durian. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) itu ia melakukan penelitian terhadap buah yang banyak digandrungi masyarakat tersebut. Di negeri tropis seperti Indonesia, terdapat ratusan va­rietas durian lokal. Endang Yuniastuti  penasaran untuk meneliti buah yang juga dikenal sebagai king of fruit tersebut.

Berbagai Tempat

Dia pun sering berkunjung ke berbagai daerah yang memiliki durian bercitarasa istimewa serta unik. Tujuannya untuk menjadikan objek penelitian. Kecintaan terhadap durian juga menjadikan wanita yang memimpin Pusat Studi Biodiversitas dan Biotek­nologi UNS itu melanglang ke berbagai tempat. Kebetulan hal itu sejalan dengan kesukaannya untuk travelling.

Di suatu tempat dia betah tinggal selama berhari-hari untuk meneliti tanaman secara morfologi atau ke pengamatan terhadap fisik tanaman dan buahnya.

Lalu saat pulang, tak lupa ia mengambil pucuk batang, daun atau batang untuk dikembangbiakkan secara kultur jaringan. Beberapa tanaman durian unik atau langka sudah berada di tempat konservasi namun belum berhasil diperbanyak. Pasalnya, di tempat konservasi itu hanya sedikit bagian tanaman yang boleh diambil, misalnya pucuk tanaman atau daun. Dosen Prodi Agronomi ini juga ahli kultur jaringan sehingga dengan mudah berbagai jenis bisa  dibudidayakan.

”Kemana-mana selalu memba­wa botol kecil untuk menyimpan bagian tanaman entah itu pucuk, daun atau batang untuk di­tanam secara kultur ja­ringan,” katanya.

Belum lama ini ia meneliti durian tanpa duri yang ditemukan di Nusa Tenggara Barat dan berhasil melakukan pembibitan terhadap jenis tersebut di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian UNS.  Ia berharap jenis durian itu juga bisa dikembangkan di daerah lain, termasuk di Karanganyar.  Juga durian Le yang ditemuinya di Pontianak yang berbeda dari durian pada umumnya. Durian jenis ini berwarna oranye, bertekstur keras dan rasanya renyah seperti buah apel, namun beraroma dan bentuknya seperti durian.

Dalam waktu dekat, ia juga berancang-ancang mengunjungi Papua untuk meneliti durian pelangi. Ibu dari Morani Ratu Yunika Sibuea ini mengaku selalu tertantang saat memperoleh informasi mengenai keberadaan jenis durian yang unik atau hampir punah di suatu wilayah.

”Ada lebih dari 100 spesies durian yang ada di Indonesia ini. Bagi saya, durian itu seperti magnet yang selalu menarik untuk diteliti, apalagi yang jenis lokal. Sayangnya karena serbuan buah impor terkadan varietas lokalnya punah. Itu juga terjadi pada durian. Ada durian montong, lalu petani ramai-ramai menggantinya dengan jenis itu dan melupakan yang lokal,” kata Endang.

Yang memprihatinkan, salah satu jenis durian yang cukup bercitarasa dan banyak disukai yakni durian sukun yang terancam punah. Jenis durian ini merupakan salah satu komoditas buah yang menjadi incaran masyarakat terutama yang menyukai buah durian. Durian sukun memiliki bentuk dan ukuran sedang dengan daging buah yang tebal karena biji buah tidak berkembang sempurna (bijinya ge­peng). Selain karena rasa buahnya yang manis dan enak, buah durian sukun juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Buah durian sukun berasa manis dan memiliki aroma yang kuat, warna kuning menarik serta memiliki aroma kuat.

Terpanggil

Berdasar penelitiannya, pohon induk tanaman spesies ini di Matesih, Karanganyar hanya tinggal beberapa saja. Karena itu istri Pendeta Samuel Sibuea ini merasa terpanggil untuk menyelamatkan jenis tanaman yang bernilai ekono­mis tinggi ini agar tidak punah.

Kondisi tersebut membuat peraih Insentif Riset Terapan dari Kemenristek selama tiga tahun berturut-turut ini tergerak untuk melakukan pembibitan. Pembibitan hanya bisa dilaku­kan dengan sistem okulasi yakni menggunakan teknik sambung pucuk, dengan me­nyilangkan durian sukun dengan jenis durian petruk sebagai tanaman bawahnya. Tanaman durian petruk dipilih sebagai batang bawah dalam okulasi  dengan pertimbangan lebih tahan terhadap ke­keringan.

Untuk pembiakan secara vegetatif tidak bisa dilakukan lantaran biji durian sukun tak bisa ditanam karena tidak berkembang sempurna.

Endang, aktivis Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS ter­sebut tak segan-segan membagikan 1.000 bibit durian sukun kepada sejumlah petani di Matesih.

Permasalahan utama budidaya tanaman durian sukun adalah produksi menurun serta kualitasnya yang rendah. Selain itu juga tanaman kurang tahan terhadap hama, terutama penggerek batang.

''Produktivitas yang rendah ini disebabkan kurang dipelihara dengan baik serta usaha pembudidayaan yang tidak tepat. Lambatnya pertumbuhan tanaman durian dan tidak adanya regenerasi atau pembibitan yang baru menyebabkan tanaman durian yang ada hanya sebagai warisan yang turun-temurun,'' katanya.

Strategi pemuliaan tanaman durian sukun lebih cenderung untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Saat ini Dia pun lebih banyak mengarahkan untuk pembibitan dan produksi buahnya. (Evie Kusnindya-80)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER