panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
07 Februari 2014
KRI Usman Harun Diprotes Singapura
image

JAKARTA - TNI AL berniat menamai kapal perang terbaru, KRI Usman Harun. Namun pemerintah Singapura mengajukan keprihatinan. Mereka tak setuju kedua prajurit anumerta itu yang meledakkan kompleks kantor di Singapura pada 1960-an itu malah dijadikan nama kapal perang.
Namun, TNI AL menegaskan, nama gabungan kedua prajurit itu disematkan karena sudah menjadi pahlawan nasional.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Kamis (6/2), Kementerian Luar Negeri Singapura menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri K Shanmugam telah membahas masalah ini dengan Menlu Indonesia Marty Natalegawa. Dijadwalkan, pekan ini, Menlu Shanmugam akan berkunjung ke Jakarta.

”Keprihatinan Singapura terhadap penamaan kapal AL tersebut dan dampaknya terhadap warga Singapura, terutama keluarga korban (ledakan),” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Singapura. Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati menjelaskan prosedur pemberian nama kapal yang berlaku di TNI AL.  ”Ini dikerjakan tim. Kapal ini dikasih nama apa itu ada prosesnya, tidak ujug-ujug ketemu. Pemberian nama itu dasar argumentasinya beda-beda sesuai dengan kelas tertentu,” kata Laksma Untung, kemarin.

Dia menambahkan, kapal lokal prosedurnya diberi nama teluk. Untuk kapal selam, nama yang dipakai adalah nama-nama senjata menurut mitologi Hindu, seperti Cakra dan sebagainya. Ada pula penamaan kapal sesuai dengan kota-kota besar di Indonesia. Untuk kapal kombatan atau kapal perang, sesuai prosedurnya diberi nama pahlawan nasional.

”Seperti kapal yang akan datang ini, dari Inggris, ada KRI Bung Tomo nomor lambung 357, Usman Harun dan John Lee. Ada pertimbangannya. Pertama, kebetulan Usman Haru itu prajurit marinir yang sangat layak dan sudah menjadi pahlawan nasional dari TNI AL dan diabadikan, disematkan menjadi salah satu nama KRI kombatan kami,” tuturnya.

Bung Tomo

Ketiga kapal kombatan itu, imbuh Untung, posisinya masih di Inggris. Dan, akan dikapalkan ke Indonesia pada Juni 2014. Untuk pemberian nama, kemungkinan Maret 2014. ”Yang sudah hampir pasti diberi nama nanti Bung Tomo. Usman Harun masih lebih lama. Ini ibarat bayinya belum lahir sudah diributkan,” tuturnya.

Mengenai keprihatinan pemerintah Singapura, imbuhnya, pihaknya baru sebatas menerima informasi dari media. Untung mempersilakan menanyakan tanggapan ke Kemenlu RI karena sudah masuk wilayah politis. ”Yang perlu diingat, pertama, Lee Kuan Yew sendiri pernah nyekar, ziarah ke makam Usman Harun di TMP Kalibata pada 28 Mei 1973. Kedua pahlawan itu digantung 17 Oktober 1968 turun SK Presiden RI Nomor 050/PK/ 1968 tentang penganugerahan keduanya sebagai pahlawan nasional. Presidennya saat itu Suharto,” jelas dia.

Kopral Anumerta Harun Said dan Sersan Dua KKO Anumerta Usman Janatin adalah anggota KKO (Korps Komando Operasi, kini disebut Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia. Konfrontasi tersebut yang juga dikenal dengan istilah ”Ganyang Malaysia” itu dilakukan sebagai bentuk penolakan atas masuknya Sabah dan Sarawak ke dalam Federasi Malaysia.

Mereka meledakkan kawasan perkantoran Singapura, MacDonald House, Orchard Road. Usman dan Harun akhirnya tertangkap saat hendak kabur dengan motor boat dan menjadi tawanan. Mereka kemudian dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Singapura. Pemerintah Indonesia telah mengupayakan pengampunan melalui langkah diplomasi, namun semuanya ditolak Singapura.

Berdasarkan penelusuran Suara Merdeka, Kapal ini awalnya pesanan Tentara Laut Diraja Brunei 2001 dengan nama KDB Nakhoda Ragam nomor lambung 28, KDB Bendahara Sakam 29, dan KDB 30. Namun karena terdapat ketidaksesuaian spesifikasi teknis maka Pemerintah Brunei Darussalam menolak menerima kapal tersebut.

Persoalan tersebut dibawa oleh BAE Systems Marine selaku pabrik pembuat hingga ke pengadilan arbitrase internasional. Ketika perselisihan selesai, kapal itu selanjutnya diserahkan ke galangan Lurssen, Jerman untuk dijual. Pada November 2012 Pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan Inggris untuk membeli tiga kapal itu dengan harga murah. (nvr,dtc-71)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER