panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
25 Agustus 2013
Sumbang 500 M Dolar AS
  • Kisah Sukses Perantau Indonesia di Negeri Orang

BILA Anda saat ini memakai komputer PC, iPod, iPhone, BlackBerry atau gadget apapun, bisa dipastikan sedang menggunakan prosesor/chip buatan Marvell dan penemuan Solstice di dalamnya.

Anda pasti mengira ”nyawa” komputasi tersebut dibuat dan diproduksi oleh ilmuwan cerdas berdarah bule. Tapi Anda keliru, karena chip/prosesor yang dipakai oleh hampir semua orang di muka bumi ini temuan dua warga keturunan Indonesia, Sehat Sutardja dan Ivan Taslimson.

  Cerita membanggakan ini mungkin tidak banyak diketahui orang jika tidak digelar Kongres Diaspora Indonesia (KDI) II yang berlangsung belum lama ini di Jakarta Convention Center, Jakarta. Lebih dari 6.000 orang keturunan Indo­nesia yang merantau di luar negeri, baik masih berstatus WNI maupun telah beralih menjadi WNA, dari 20 negara bertemu untuk membahas bagaimana mereka dapat berbagi pengetahuan dan berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.

  Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pebisnis, politikus, militer, ekonom, budayawan, olahragawan hingga seniman. Di antarnya Iwan Sunito, warga Indonesia yang sukses membangun bisnis properti Crown International Holding Groups di Australia, Sehat Sutardja (CEO Marvell), Ivan Taslimson (Solstice), Brigjen Richard Rakotorinina (Gubernur Angkatan Bersenjata di Madagaskar), Sri Mulyani Indrawati (Managing Director di Bank Dunia) dan Soewarto Moestadja, pria berdarah Kebumen yang kini menjabat  Menteri Dalam Negeri di Suriname.

Kongres yang mengangkat tema ”Pulang Kampung” itu juga dimeriahkan penampilan musisi berdarah Maluku yang sukses di Belanda, Daniel Sahuleka.

  ”Anda akan selalu menjadi bagian dari keluarga di Indonesia,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat membuka KDI II. SBY menambahkan para perantau ini benar-benar sebagai aset yang bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan tanah leluhurnya.

Awal Pesimistis

 Pertemuan diaspora adalah gagasan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dr Dino Patti Djalal. Menurut Kepala Desk Diaspora Indonesia, M Wahid Supriyadi, sejak digelar KDI I di Los Angeles tahun lalu, hingga saat ini telah terbentuk 55 chapter dari 26 negara.

  ”Awalnya saya agak pesimis bisa mengundang 2.000 perantau, walaupun memang ada perantau yang sudah pulang kampung,” katanya kepada Suara Merdeka.

  Wahid mengakui tak mudah menghimpun para perantau dari berbagai negara ini. Awalnya ada kecurigaan. Tapi begitu diyakinkan bahwa lembaga ini bukan government oriented dan kemudian mereka tahu pihaknya menyiapkan kongres kedua dan mereka dilibatkan dari penyusunan programnya, task force dan sebagainya akhirnya pembentukan DI di berbagai negara mengalir lancar.

”Dulu pegerakan awalnya dari Amerika, seperti American Center. Tapi setelah itu muncul gerakan diaspora-diaspora,” jelasnya.

   SBY menyebut, secara keseluruhan diaspora Indonesia menyumbangkan devisa sekitar 500 miliar dolar AS setiap tahun. Jumlah itu tiga kali lebih besar daripada devisa yang dihasilkan oleh negara maju dalam setahunnya.

  ”Karena itulah dalam menentukan strategi ke depan pemerintah perlu memiliki strategi diaspora untuk memanfaatkan aset dan power yang dimiliki diaspora Indonesia,” ujar SBY.(Fauzan Jayadi-80)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER