panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Banyumas
14 Agustus 2013
Makam Eyang Singadipa Cilongok
Diziarahi Calon Lurah Hingga Presiden Soeharto

BARANG siapa punya hajat menduduki jabatan ketatanegaraan hendaknya ia berziarah ke Makam Eyang Singadipa di Desa Panembangan, Cilongok Banyumas. Dipercaya oleh banyak orang, berkat karomah dan lantaran ziarah ke makam tersebut hajat mereka terpenuhi. ''Saya selalu anjurkan kalau ziarah adalah untuk mencari ridla Allah, bukan meminta kepada yang sudah dimakamkan. Maka niatnya dan caranya harus diluruskan sesuai dengan ajaran agama,'' ujar Jaenuri (72), juru kunci Makam Eyang Singadipa, kemarin.

Kelebihan dan keutamaan Eyang Singadipa tidak bisa dilepaskan atas jasanya sebagai tokoh agama sekaligus tokoh nasional. Selain sebagai ahli perang, dia juga dikenal sebagai tokoh yang mumpuni dalam hal ilmu kaprajuritan, kenegaraan dan keagamaan. Tak ayal jika makamnya selalu dikunjungi oleh peziarah dari berbagai strata sosial.

''Dari calon lurah, pejabat, DPRD dan para Bupati Banyumas serta penggedhe lain banyak berziarah ke sini. Termasuk dulu sekitar tahun 1972 dan 1982, Presiden Soeharto juga pernah berziarah,'' ujar Jaenuri yang telah 30 tahun menjadi juru kunci makam dan situs cagar budaya tersebut.

Sebagai Lurah Prajurit Pangeran Dipanegara, dia yang mempunyai nama kecil Raden Nurkaton itu berjuang tanpa tunduk pada kekuatan kompeni Belanda. Dengan kekuatannya, dia juga dikenal oleh warga dan kompeni sebagai tokoh yang disegani. Dia meninggal pada umur 90 tahun, sekitar tahun 1878.

''Karena tak mau tunduk kepada penjajah, dia kemudian lari ke wilayah Banyumas sambil menyusun gerakan-gerakan rakyat. Dia menggunakan akal umpetan sajroning kemben, artinya bersembunyi dan terus melakukan perjuangan kemerdekaan dengan cara mengawini perempuan di wilayah Kadipaten Ajibarang,'' kata Suyitno (60), salah satu keturunan Singadipan asal Cikidang, Cilongok. Disebutkan oleh Suyitno, putra Tumenggung Singawijaya itu secara resmi memperistri lima orang perempuan yang kini telah menurunkan anak cucunya.

Jabatan Penting

Salah satu anaknya adalah Singadrikrama yang menjadi Wedana Ajibarang. Hingga kini trah Singadipa pun banyak menduduki jabatan-jabatan penting di lingkup lokal maupun nasional. ''Soepardjo Roestam, Soesilo Soedarman, Ir Achmad Husein dan pejabat di lingkungan teras Pemkab Banyumas adalah beberapa dari keturunan trah Singadipa. Selain itu banyak lagi menyebar di seluruh penjuru nusantara, bahkan luar negeri,'' katanya.

Lima orang istri Singadipa dimakamkan berbeda-beda, namun istrinya yang  bernama Roro Parwati dimakamkan bersama Eyang Singadipan di Panembangan, Cilongok.

Sementara istri lainnya Mas Ajeng Jini dimakamkan di Jatisawit Bumiayu-Brebes, Nyi Birah Datar dimakamkan di Glempang Tumiyang Pekuncen, Nyi Kasian Kedompon Ajibarang dan Nyi Jaga di Ajibarang. Selain istri, Pangeran Buther Singadikrama yang menjadi wedana Ajibarang dan keturunan Singadipa lain juga dimakamkan di makam Panembangan.

Untuk mencapai Makam Eyang Singadipa, para peziarah dapat mencapainya dengan melakukan perjalanan kendaraan bermotor 15 kilometer dari Kota Purwokerto ke arah barat menuju Desa Panembangan Kecamatan Cilongok.(Susanto-17,88)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER