panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
25 Juni 2013
SURAT PEMBACA
Masukan untuk BRI Plantungan

Kami, perangkat desa yang menjadi nasabah BRI Unit Plantungan di Desa Tirtomulyo Kecamatan Plantungan Kendal berterima kasih atas pelayananselama ini. Ruangan kantor bank cukup nyaman, halaman luas untuk parkir motor/ mobil, malah ada kanopi yang melindungi motor nasabah dari panas/ hujan.

Kami kaget mendengar kabar kantor bank itu akan pindah ke depan Pasar Plantungan. Calon kantor baru itu terletak di tepi jalan, tak memiliki halaman untuk parkir motor/ mobil. Padahal jalan Sukorejo-Plantungan (Kendal)-Bawang (Batang) cukup ramai, dan lokasi depan kantor rawan kecelakaan karena dekat pertigaan dan turunan/ tanjakan tajam.

Kondisi itu membuat nasabah waswas mengingat kini banyak pencurian motor. Kendati di desa, kebanyakan nasabah BRl membawa motor, bahkan beberapa naik mobil. Hal itu mohon menjadi pertimbangan pimpinan bank tersebut. Terima kasih.

Budi Teguh Siantono
Kades Tirtomuyo
Kec Plantungan Kendal
 
Mujiono
Kades Manggungmangu
Kec Plantungan Kendal

 

Aktivasi Hawa Murni

Era reformasi memunculkan sosok seperti Andrie Wongso,Tung Desem Waringin, Mario Teguh. Di tengah kecenderungan spirit membangun sekat mewabah, mereka menumbuhkan nuansa yang sebaliknya. Dalam setiap paparan, bukanlah sebagai yang paling benar, tapi yang muncul adalah semangat berbagi/sharing terkait kebenaran dan kebaikan universal, yang sebenarnya ada di setiap budaya.

Siapa sosok ini? Sosok yang belum tentu lulus sebagai penatar di era dulu? Darimana kualifikasi mereka diperoleh? Sudahkah mereka ikut sertifikasi? Ternyata ''kualifikasi'' mereka diperoleh dari kawah Candradimuka kehidupan. îSertifikasiî mereka didapat setelah berproses panjang kuliah di universitas kehidupan.

Bukan persyaratan jenjang karier maupun lulus uji lembaga resmi penerbit sertifikasi. Andrie Wongso yang mengawali berbagi kalimat motivasi yang berasal dari perenungan pribadinya, melalui kartu-kartu ucapan yang dijajakan secara door to door. Mario Teguh, Tung Desem Waringin, mantan eksekutif di bank terkemuka, berbagi pengalaman perjalanan hidupnya berliku, raihan jenjang kariernya merangkak dari bawah, tidak instan. Saat berbagi, mereka menyentuh sanubari, dimana sang kecerdasan spiritual berada. Sharing mereka menyadarkan bahwa ada ''hawa murni'' yang luar biasa dalam diri masing-masing individu, namun (mungkin) sekian lama terbonsai dan kerdil oleh doktrin, jargon dan slogan.

Untuk mengaktifkan hawa murni ini bisa dioperasikan sendiri. Semua insan, apa pun latar belakangnya mampu, asal mau mendengar, membuka mata hati dan berproses. Paparan mereka seolah menjadi oase di tengah masyarakat yang kehausan makna ketulusan. Yang dibagikan sosok-sosok ini  lebih dirasakan sebagai pencerahan.

Tema dan pola cuci otak, jargon, dan slogan pun, dirasa semakin tidak relevan lagi. Di era keterbukaan Informasi, pencerahan yang berdampak mengoptimalkan seluruh talenta secara total lebih dibutuhkan untuk struggle dan survival, bahkan untuk menghasilkan inovasi, kreasi, dan terobosan.

Seperti gerakan tai chii, aktifasi hawa murni akan menghasilkan energi yang perlu saluran untuk  aktualisasi. Getaran-getarannya akan menjadi stimulan yang terus menguat secara simultan dan masif seiring berjalannya waktu. Ini akan terekam dalam ''skala Ritcher''. Artinya, akumulasi  energi positif akan mendesakkan diri dalam kekuatan besar.

Epicentrum semakin menyebar dengan kedalaman bervariasi dimasing relung hati setiap sanubari. ''Gempa dan tsunami'' energi positif akan menjadi berkah bagi siapa saja yang selalu bersyukur. Kalau pun ditafsirkan sebagai ''bencana'', itu bagi yang memuja ketamakan, karena akan menghancurkan kekokohan menara gading penuh dinding-dinding penyekat. Yang dibangun dengan keangkuhan argumentasi dengan memberhalakan kecerdasan logika yang sarat adonan manipulasi untuk tujuan menjadikannya istana bermukimnya sang keculasan.

Bangunan baru  berpondasi kokoh dan yang lebih bersemangat menyatukan untuk bangkit sebetulnya telah mulai berdiri. Menggunakan campuran material baru dengan komposisi yang lebih berimbang. Material itu  bernama nurani. Nantinya akan berdiri bangunan-bangunan yang lebih berjiwa tempat suara hati bermukim. Bangunan bukan untuk ajang saling adu dogma apalagi adu domba. Tapi bangunan bertabur cahaya dogma untuk menuntun umatnya agar paham makna ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pencerahan yang dilakukan Andrie Wongso, Mario Teguh, Tung Desem Waringin dan para motivator bisa dimaknai dengan  menyebarkan energi positif dan semangat konstruktif. Kehadiran mereka tanpa embel-embel atribut, tanpa berperilaku bak pertapa, tanpa kefasihan bertutur untuk mengesankan sebagai sosok resi.

Bahasanya pun terasa bersahaja, kadang menggelitik syaraf tawa. Canda yang muncul karena menertawakan diri, bukan lawakan untuk mencemooh orang lain. Bahasa dan canda khas orang biasa. Para motivator, atau apapun sebutannya, sebenarnya adalah berkah alam semesta bagi rakyat Indonesia.

Mereka pemicu untuk membangkitkan semangat di saat krisis melanda. Apa yang mereka bagikan tetap senafas dengan nilai-nilai  Pancasila. Tapi paparan lebih berupa sebaran yang menjadi himpunan-himpunan hawa murni yang terus berhimpun bergerak bak bola salju. Maka pada saatnya tak akan bisa dibendung lagi untuk berdampak luar biasa positif.

Purnomo Iman Santoso-EI
Villa Aster II Blok G No 10
Srondol, Semarang 50268

* * *

Jalur Demak-Grobogan Butuh Jembatan Layang

Surat pembaca ini terutama saya tujukan kepada seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan, khususnya jajaran DPRD Kabupaten Demak. Hal ini menyangkut pembangunan infrastruktur vital berupa pembangunan/perbaikan jalan dan jembatan, terutama di jalur Semarang-Purwodadi pada titik perlintasan rel kereta api di Stasiun Brumbung, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak (lebih dikenal dengan Stasiun Ganefo).

Jalur Semarang-Purwodadi adalah salah satu jalur vital bagi perekonomian untuk kawasan Demak, Grobongan dan Semarang. Tidak bisa dipungkiri bahwa De-mak dan Grobongan adalah salah satu pemasok tenaga/pekerja untuk Semarang. Kami sebagai masyarakat pengguna jalan raya merasakan bahwa makin hari kemacetan sangat memprihatinkan. Jika dulu hanya terjadi pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari, sekarang hampir setiap saat terjadi kemacetan. Saya bisa memprediksikan setiap pagi antara pukul 06.00-08.00 ada lebih dari 2.000 kendaraan baik roda dua, empat atau kendaraan berat seperti bus dan truk yang melintasi perlintasan kereta di Stasiun Brumbung, Mranggen.

Jelas dengan kondisi seperti ini kemacetan tidak bisa dielakkan. Ditambah pada jam-jam tersebut juga melintas kereta api yang mengharuskan jalur jalan ditutup oleh palang perlintasan kereta yang menyebabkan penumpukan kendaraan dari dua arah. Kami berharap para pemangku kepentingan tidak menutup mata dengan hal ini.

Saya tidak ingin menguraikan penyebab/pemicu kemacetan pada titik ini, karena tidak ingin ada indikasi saling tuding. Pada kesempatan ini saya mencoba memberikan usulan wacana solusi. Saatnya Pemerintah Kabupaten Demak memikirkan untuk membangun jembatan layang atau fly over yang melintas di atas perlintasan kereta api. Sehingga akses transportasi tidak terganggu dengan adanya kereta api. Hal ini bisa diadopsi dari fly over Ba-ngetayu, Genuk, Semarang.

Perlu kita cerna bersama bahwa PT KAI telah membangun rel ganda yang juga melintasi stasiun Brumbung, Mranggen. Tentu jika proyek ini sudah rampung akan menambah intensitas kereta api yang melintas. Lalu pertanyaannya adalah berapa sering jalur utama Semarang-Purwodadi akan ditutup palang pintu ketika kereta melintas di jalur ganda? Tentu ini akan menambah penumpukan kendaraan. 

Saya telah membaca Suara Merdeka yang menyebutkan pembangunan jalur lingkar sepanjang 12 Km dari Mranggen hingga Onggorawe. Dalam berita dikatakan bahwa masih ada kendala dalam pembebasan tanah dan keterbatasan anggaran daerah. Maklum, pembebasan tanah ini melewati empat desa. Sudah barang tentu membutuhkan anggaran yang tinggi.

Jika bisa dibuat perbandingan antara pembangunan jalur lingkar sepanjang 12 Km dengan pembangunan fly over, perhitungan saya sebagai masyarakat awam mungkin pembangunan fly over biayanya bisa lebih ditekan. Keuntungan lain, lebih aman bagi pengguna jalan. Dengan adanya fly over ini pengguna jalan tidak akan melakukan kontak langsung dengan jalur kereta api. Jelas ini lebih memberikan rasa aman bagi pengguna jalan karena tidak memikirkan risiko ketika kereta melintas di atas rel ganda. Sudah banyak contoh fly over yang melintang di atas perlintasan kereta api dan bisa dijadikan rujukan.

Aditya D. Sugiarso
Desa Kuripan RT 03 / RW 03
Kecamatan Karangawen
Kabupaten Demak 59566.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER