panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
15 Juni 2013
SURAT PEMBACA
68 Tahun Pancasila

Istilah Pancasila diusulkan oleh Ir Soekarno dalam penyampaian pendapatnya ketika berlangsung sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945. Sidang yang merumuskan tentang dasar negara itu berlangsung 28 Mei-1 Juni 1945. Pada hari terakhir, Soekarno dalam pidatonya mengemukakan lima dasar negara yaitu, Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tidak hanya Soekarno yang memberikan pidato tentang rumusan dasar negara. Ada dua tokoh lain yaitu Mr Mohammad Yamin, Prof Dr Mr Supomo. Tanggal 29 Mei 1945 Mr M Yamin menawarkan lima asas dasar Negara Republik Indonesia. Yaitu Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan yang Berkebudayaan.

Tanggal 31 Mei 1945, Prof Dr Mr Supomo mengajukan dasar negara yaitu, Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan Lahir dan Batin, Musyawarah, dan Keadilan Rakyat. Setelah sidang berakhir, terbentuklah panitia kecil yang diketuai Ir Sukarno, dengan anggota Drs Mohammad Hatta, Sutarjo Kartohadikusumo, Wahid Hasjim, Ki Bagus Hadikusumo, Oto Iskandardinata, M Yamin, dan AA Maramis. Panitia kecil ini bertugas menampung saran dari anggota BPUPKI. 

Pada 22 Juni 1945, terjadilah rapat pertemuan antara panitia kecil dengan anggota BPUPKI. Dalam pertemuan itu juga dibentuk panitia kecil lain yang beranggota sembilan orang yang dikenal dengan nama panitia sembilan. Anggotanya Ir Sukarno, Drs Moh Hatta, Mr M Yamin, Mr Ahmad Subarjo, Mr AA Maramis, Abdulkadir Muzakir, Wahid Hasyim, H Agus Salim, dan Abikusno Cokrosuyoso.

Mereka menghasilkan suatu rumusan pembukaan UUD yang menggambarkan maksud dan tujuan pembentukan negara Indonesia Merdeka. Rumusan itu disepakati dan ditandatangani bersama oleh anggota panitia sembilan. Rumusan itu kemudian diberi nama Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Pancasila yang kita kenal sebagai dasar Negara Republik Indonesia saat ini merupakan penyempurnaan dari Piagam Jakarta. Rumusan dasar negara dalam Piagam Jakarta itu tidak ubahnya sila-sila Pancasila yang kita kenal saat ini. Perbedaannya hanya pada sila pertama yaitu Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya yang kemudian kita kenal dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pengubahan sila pertama itu terjadi setelah pada 17 Agustus 1945 sore, seorang opsir angkatan laut Jepang menemui Drs Mohammad Hatta.
Opsir itu menyampaikan keberatan dari tokoh-tokoh rakyat Indonesia bagian timur atas kata-kata ”Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta.

Sebelum rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, Drs Moh Hatta dan Ir Sukarno meminta empat tokoh Islam, yakni Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr Kasman Singodimejo, dan Mr Teuku Moh Hassan untuk membicarakan hal tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk mengubah menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Rumusan dasar negara yang resmi bukanlah rumusan-rumusan yang dikemukakan oleh Mr Mohammad Yamin, Prof Dr Mr Supomo, maupun Ir Sukarno. Dasar negara yang resmi juga bukan rumusan panitia kecil. Pancasila sebagai dasar negara yang resmi adalah rumusan yang disahkan PPKI pada 18 Agustus 1945.

Adapun setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila, karena pada hari itu Ir Soekarno mengenalkan istilah Pancasila untuk kelima dasar negara yang diusulkannya dalam sidang I BPUPKI. Ini membuktikan bahwa Pancasila bukanlah hasil pemikiran seorang Bung Karno saja. Tetapi Pancasila merupakan hasil perumusan bersama para tokoh pendiri negeri ini dalam tujuannya mendirikan sebuah negara yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah perumusan dasar negara yang telah diajarkan sejak bangku kelas V sekolah dasar ini seakan menjadi tanggung jawab bagi kita untuk mengokohkan akar nasionalisme dan cinta tanah air pada generasi muda. Jangan sampai anak-anak generasi penerus bangsa ini menyaksikan terlebih dahulu bendera-bendera selain Merah Putih berkibar di sebagian wilayah NKRI, sebelum ditanamkan terlebih dahulu bahwa NKRI dengan dasar negaranya yaitu Pancasila adalah jati diri kita sebenarnya sebagai warga negara.
 
Dede Awan Aprianto, SPd SD
SDN Rowopanjang
Kecamatan Bruno,
Purworejo


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER