panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
23 Mei 2013
Koneksitas dan Loyalitas
  • Oleh Didik G Suharto

SECARA politis, Pilgub Jateng 2013 akan menguji elektabilitas dan strategi tiga pasangan cagub-cawagub. Masing-masing kandidat memiliki nilai lebih sekaligus nilai kurang. Nilai lebih (kekuatan) masing-masing calon itulah yang tampaknya dieksplorasi dan diandalkan sebagai penopang guna menjaring suara pemilih.

Pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono mempunyai kelebihan dalam hal mengembangkan jaringan, terutama dari kalangan organisasi/ komunitas masyarakat. Nilai lebih pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo terletak pada keterkenalan. Adapun potensi andalan pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmiko ada pada kekuatan PDIP, sebagai pengusung dan partai terbesar di provinsi ini.

Intinya, pilgub bisa dianggap ajang untuk menguji koneksitas yang dibangun HP-Don, popularitas Bibit-Sudijono, dan loyalitas kader PDIP dalam mendukung Ganjar-Heru. Sejauh mana potensi kekuatan itu secara signifikan melahirkan dukungan suara dan tanggal 26 Mei 2013 adalah waktu pembuktiannya.

Potensi dan karakteristik tiap calon yang relatif berbeda membuat strategi untuk mendekati publik pun tak sama. Pergerakan pasangan HP-Don dengan membentuk dan memberdayakan jaringan ekstrapartai lebih dominan ketimbang pergerakan mesin parpol pengusung dalam merapatkan barisan dukungan. Dari 6 parpol pendukung, PKS paling intens memopulerkan calon yang mereka usung.

Langkah merangkul komunitas masyarakat atau relawan-relawan lebih realistis bagi HP-Don, mengingat pasangan ini bukan kader dari partai pengusung. Selain kemungkinan tidak efektif, upaya mengonsolidasikan kekuatan parpol pengusung memerlukan biaya besar.

Adapun Bibit-Sudijono dengan bermodalkan ketenaran Bibit, memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi sehingga tidak terlalu ngaya menyosialisasikan diri ke publik. Sebagai calon incumbent (petahana), publik sudah cukup mengenal sosok Bibit. Aktivitas kedinasannya cukup efektif memperkuat kedekatan dengan masyarakat bawah, terutama dalam rangka meraih simpati publik.

Sementara Ganjar-Heru lebih mengembangkan strategi optimalisasi dukungan parpol. Loyalitas dan soliditas dukungan PDIP menjadi penopang utama. Wajar jika jargon yang digemakan membawa-bawa ajaran Bung Karno. Kantong utama PDIP (sebagian wilayah Solo Raya, Pantura, dan Jateng selatan) menjadi basis eksplorasi dukungan bagi Ganjar-Heru.

Peta Kemenangan

Bagaimana peta persaingan antarcalon? Siapa paling berpeluang meraih suara terbanyak? Sulit menjawabnya. Pada saat penetapan pasangan calon, beberapa pihak melihat bahwa kekuatan tiga pasang calon itu relatif seimbang. Hingga menjelang hari pencoblosan, posisi berimbang tersebut belum terlalu bergeser.

Di atas kertas, Ganjar-Heru potensial mendapatkan 3,4 juta suara (berdasarkan perolehan suara PDIP pada Pileg DPRD Provinsi 2009). Dibanding  pasangan lain, kekuatan partai pengusung Ganjar-Heru (PDIP) boleh dikata paling bisa diandalkan. Apakah dukungan  PDIP akan bulat mutlak sehingga suara itu cukup menjadi modal memenangkan Ganjar-Heru?

Harus disadari masih ada puluhan juta suara pemilih (27,3 juta pemilih dalam DPT) yang potensial diperebutkan semua calon. Selain itu, loyalis Rustriningsih yang enggan bergabung dengan Ganjar-Heru merupakan persoalan serius bagi pasangan itu.

Juga, apakah masyarakat Jateng yang telah mengenal incumbent tetap akan menjatuhkan pilihan pada Bibit-Sudijono? Bagaimanapun, popularitas tidak linier dengan tingkat elektabilitas. Terlebih di beberapa tempat resistensi kepada Bibit belum hilang sama sekali.

Terakhir, apakah koneksi (jaringan) yang dibangun intens oleh HP-Don juga bermakna sehingga signifikan bisa mendongkrak suara pasangan yang diusung PKS, Gerindra, PKB, PPP, Hanura, dan PKNU?

Waktu yang singkat tampaknya tidak cukup bagi HP-Don untuk memperluas dan memperkuat jaringan hingga seluruh pelosok kabupaten/ kota. Posisinya sebagai penantang (challenger) tidak optimal dimanfaatkan pasangan ini dengan menawarkan sesuatu yang baru (perubahan), yang sesungguhnya dinantikan sebagian masyarakat.

Akuntabilitas

Peluang kemenangan calon dalam pilgub tidak mudah diprediksi. Potensi dan kekuatan riil masing-masing calon bisa dianggap masih misterius. Hal itu dapat pula dipahami bahwa peluang tiga pasangan calon untuk memenangi pilgub masih terbuka lebar. Sejumlah kejutan mung­kin saja terjadi hingga saat penghitungan terakhir suara.

Melihat beberapa realitas, tidak menutup kemungkinan pula angka golput (pemilih yang tak datang ke TPS atau suara tidak sah) tinggi. Kemungkinan ’’kemenangan’’ golput terutama disebabkan keminiman daya magnet calon, kemelemahan  sosialisasi, dan kejenuhan masyarakat atas pemilu-pemilu selama ini yang cenderung tidak mampu menghadirkan pemimpin harapan publik.

Proses pilgub sekarang pun miskin terobosan baru untuk menjamin akuntabilitas calon kelak setelah terpilih. Masing-masing calon lebih sering menjalankan kampanye konvensional yang tak jelas maknanya. Jarang sekali ada kontrak politik atau sejenisnya yang bisa ’’mengikat’’ sejumlah janji dari calon tersebut setelah kelak terpilih.

Namu, proses demokrasi perlu terus berjalan. Dengan keterbatasan dan kelebihan masing-masing, siapa pun nanti yang unggul, diharapkan yang terbaiklah yang akan memimpin Jawa Tengah. (10)


–  Dr Didik G Suharto, dosen FISIP dan Magister Administrasi Publik UNS Surakarta


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER