panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Kanal Sehat -- Empat Manfaat Kasih Ibu bagi Kesehatan Anak Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
20 Mei 2013
Membangun Perikanan dan Kelautan
  • Oleh Nur Taufiq Syamsudin

"Yang terpenting, bagaimana gubernur terpilih mengajak

masyarakat berperilaku ramah  terhadap lingkungan"


Mendekati masa minggu tenang Pilgub Jateng 2013, saya ingin menyampaikan usulan kepada gubernur terpilih, berkait bidang perikanan, kelautan, dan lingkungan. Setelah dilantik, rasanya gubernur perlu segera tahu jumlah penduduk di wilayah kerjanya. Penduduk Indonesia diprediksi lebih dari 250 juta orang pada 2020, dan Jateng berada pada posisi ke-3 dengan populasi 32.882.700 orang (2015) dan 33.138.900 orang (2020).

Itu berarti banyak manusia yang harus diberi makan, dan berkonsekuensi pada kewajiban meningkatkan produksi berbagai sektor. Sektor perikanan dan kelautan merupakan sektor pangan utama, setelah pertanian. Karena itu, mendorong produksi protein perikanan 17,2 kg/ kapita/ tahun, ekuivalen 569,989 ton/ tahun, menjadi keharusan.

Sementara kewajiban standar konsumsi protein ikan setidak-tidaknya 30 kg/ kapita/ tahun, setara dengan 994.167 ton untuk jumlah penduduk Jateng tahun 2020. Bila total produksi perikanan tahun 2012 bisa mencapai 420.000 ton maka untuk 2020 harus ditingkatkan minimal 136,7 % atau setara dengan 17.08 % per tahun.

Namun kegiatan produksi tidak boleh mengorbankan kemampuan daya dukung lingkungan perairan, baik di darat maupun di lautan. Pola produksi dan eksploitasi sumber daya perikanan kelautan tersebut sedapat mungkin mengacu pada paradigma Blue Economy dari Gunter Pauli (2010).

Paradigma itu mendasarkan pada prinsip tanpa limbah, kepedulian sosial, efisiensi sumber daya alam, keseimbangan produksi dan konsumsi, serta mengikuti hukum fisik dengan beradaptasi terhadap alam secara kontinu.

Berdasarkan kondisi itu, kita masih membutuhkan kelengkapan infrastruktur, termasuk panjang dermaga dengan pole tambatan kapal, akses ke kota ataupun fasilitas cold storage dan stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN). Terlebih keberadaan koperasi unit desa (KUD) masih butuh pembinaan untuk keberlangsungan usaha mereka.

Butuh Perhatian

Kemenurunan jumlah tangkapan per unit effort disebabkan oleh banyak hal. Tahun 2002, banyak nelayan pantai di daerah Sayung, Morodemak, dan Wedung Kabupaten Demak, menggunakan jaring garuk (bottom trawl dengan beam berpaku).

Semestinya mereka mendapatkan semuanya yang ada di dasar laut. Realitasnya, dengan modal Rp 35 ribu untuk pembelian BBM saat itu (2002), mereka hanya bisa mendapat hasil Rp 15 ribu, alias tekor Rp 20 ribu (rugi 57%). Fakta itu sekaligus menunjukkan sumber daya di pantai tersebut sudah rusak, habis, dan tak tersisa. Semua itu butuh perhatian dari gubernur terpilih.

Walau saat ini dunia perikanan sudah mulai tertata, gambaran implikasi dari ketidakhadiran pemerintah (dinas yang terkait) mengakibatkan ekonomi nelayan kecil makin terpuruk. Pembinaan dan pencarian solusi terhadap kebutuhan nelayan pesisir tidak menunjukkan sinergitas dinas terkait, yang seharusnya bertanggung jawab. 

Perhatian terhadap produksi pascapanen juga belum optimal, termasuk belum tertanganinya persoalan kesulitan sumber air bersih untuk produksi es dan pengolahan ikan pindang. Industri pengolahan pindang di Juwana Kabupaten Pati tahun 2012 masih memanfaatkan air Sungai Silugangga (Kali Juwana).

Jumlah pabrik es higienis juga belum mencukupi, dan sentra produksi pengolahan ikan belum memenuhi kriteria standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Dari sisi panjang pantai, Jawa Tengah hanya mempunyai pantai sepanjang 791,76 km, atau hanya 0,83 % dari total panjang pantai Indonesia (95,151 km).

Dari semua persoalan tersebut, yang terpenting adalah bagaimana gubernur terpilih bisa mengajak masyarakat untuk benar-benar berperilaku ramah terhadap lingkungan. Langkah sederhana dengan berhemat energi, berperilaku sehat, tak membuang sampah, tak membakar sesuatu, ramah terhadap seluruh komponen bumi, air, dan udara, tentu mensyaratkan penerapan perundangan secara adil dan berkeadilan. (10)


– Ir Nur Taufiq Syamsudin M AppSc, dosen  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER