panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
10 Mei 2013
Dari Temanggung untuk Semua
  • Oleh Eko Budi Prayitno
Tanggal 26 Mei 2013, warga Kabupaten Temanggung akan memilih secara langsung untuk kali kedua bupati dan wakil bupati, bersamaan dengan pemilihan gubernur. Ada  lima pasangan calon bupati/ wakil bupati yang akan memperebutkan kursi AA-1, simbol orang nomor 1 di kabupaten yang terletak di lereng Gunung Sumbing-Sindoro itu.
Namun beberapa kekhawatiran mengiringi proses pilkada di kabupaten tersebut, terutama setelah pengundangan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Tembakau bagi Kesehatan.

Beberapa pihak menganggap penerbitan PP itu melukai dan menzalimi sebagian warga kabupaten itu, yang mayoritas hidup sebagai petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan. Sikap masyarakat diwujudkan melalui demonstrasi yang digalang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, beberapa waktu lalu.
Mereka menuntut pemerintah mencabut regulasi itu, dan petani tembakau sepakat tidak akan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan. Konkretnya antara lain mereka mengancam tak mau membayar pajak dan tidak akan mengikuti semua bentuk demokrasi.

Bila pemerintah tidak menyikapi secara arif tuntutan itu, memang ada kekhawatiran mengganggu proses pilkada yang berujung pada rendahnya legitimasi hasil pemungutan suara. Bercermin pada pilbup 2008, kepedulian warga Temanggung terhadap proses berdemokrasi cukup tinggi. Pada tahun itu, angka partisipasi pemilih untuk pilgub 80,11% sementara untuk pilbup 81,03%.

Kesadaran seperti itulah yang perlu dipertahankan mengingat kemasifan penolakan warga terhadap PP Nomor 109 Tahun 2012. Jangan sampai kesadaran berpolitik yang telah terbangun menjadi pudar, terlebih melihat tren penurunan partisipasi pemilih dalam pilkada, baik gubernur maupun bupati/ wali kota tahun 2012.
Mengutip hasil evaluasi Kemendagri, dari 57 pilkada sejak awal 2012 hingga kini, partisipasi masyarakat rata-rata 60%. Mendagri memprediksi jumlah warga yang menyalurkan hak suara pada 2013 tidak jauh dari angka 60% lewat 43 pilkada yang digelar tahun ini. (inilah.com).

Ironis, melihat Pilgub Sumatera Utara pada 7 Maret 2013, yang berdasarkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), partisipasi pemilih hanya 47,42%. Rendahnya angka partisipasi itu merupakan indikasi apatisme terhadap proses pilkada. Untuk itu, perlu kesadaran kolektif berkaitan dengan arti penting proses pilkada.

Pendidikan Politik

Memang tak mungkin memiliki pemimpin ideal yang bisa mengubah kehidupan secara singkat namun kita perlu menginsyafi kemutlakan keberadaan pemimpin. Dengan demikian menjadi tugas berat bagi KPU Kabupaten Temanggung beserta pemangku kebijakan yang lain, terlebih calon bupati-wakil bupati untuk memberikan pendidikan politik bahwa aspirasi penolakan terhadap PP Nomor 109 Tahun 2012 bisa disalurkan melalui lembaga politik yang ada, semisal DPRD.

Sudah saatnya kita mengembangkan paradigma berpikir paradoks, sudah bukan zamannya aspirasi disampaikan melalui cara-cara yang tidak elegan. Energi dan sumber daya  untuk berdemonstrasi akan lebih baik bila dialihkan untuk pilkada. Marilah kita cari calon bupati yang sanggup dan mau  menyalurkan keberatan petani tembakau terhadap keberadaan PP 109/2012.

Tentu di samping mempunyai political will berkaitan dengan penolakan terhadap PP 109 Nomor 2012, warga Temanggung perlu bersama-sama mendukung calon bupati-wakil bupati yang mampu mencari alternatif lain komoditas pertanian, di luar tembakau.

Bila ada komoditas lebih menarik selain tembakau, petani tembakau akan beralih ke komoditas itu. Mari buktikan pada Indonesia, meskipun ’’dirugikan’’ dengan pengundangan PP Nomor 109 Tahun 2012, kita warga yang melek politik, dan peduli terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa  bernegara, dengan cara berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. (10)

– Eko Budi Prayitno SSos MSc MAP, alumnus Ritsumeikan APU Jepang, warga Temanggung
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER