panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
07 Mei 2013
"Setanisme" Sepak Bola Kita
  • Oleh Amir Machmud NS

SEPAK bola Indonesia masih belum beranjak juga dari dua wajah keping mata uang. Satu sisi mencoba mengetengahkan rona pengembangan industri kompetisi, sisi yang lain masih menampilkan wajah setan yang beringas jauh dari hakikat keindahan seni sepak bola.

Cabang olahraga ini memang banyak menyajikan pernak-pernik yang "lebih dari sekadar sepak bola". Perluasan "nilai-nilai" itu menjadikan sebuah pertandingan sebagai medium bagi pelepasan ekspresi kesuntukan pikiran, kekecewaan, dan rasa frustrasi.

Tak sedikit yang datang ke stadion dengan membawa kegalauan pikiran. Mereka tak peduli ada apa di lapangan bola, apakah kesebelasan yang didukungnya kalah atau menang. Tribun stadion adalah media yang memberi keluasan  ruang untuk meneriakkan kesumpekan hati, mewakilkan ungkapan perasaan kebencian terhadap nasib yang tak berpihak.

Berbasis pada tesis-tesis Desmond Morris (1981), Richard Giulianotti (2006), dan Franklin Foer (2006), saya selalu menemukan persambungan "rasa" dan "ekspresi" sepak bola sebagai katarsis; karena di dalamnya ada "kegilaan", "kesukuan", dan daya tarik yang bagai "sihir". Juga terdapat persambungan kultural yang membedakan bagaimana suatu kelompok, suku, komunitas, dan bangsa menyikapi sepak bola.

Saya tak hendak menjawab lewat teori-teori Morris, Giulianotti, dan Foer, mengapa meletup kerusuhan dari pertandingan sepak bola Divisi Utama Liga Indonesia antara dua tim bertetangga: PSIS Semarang dan Persipur Purwodadi, Minggu dan Senin kemarin. Sama sulitnya untuk menjawab mengapa sebelum itu suporter Semarang juga terlibat bentrok dengan pendukung Persip Pekalongan.

"Perluasan" Peta Konflik

Jika "hawa panas" itu berlangsung antara suporter Semarang dan Jepara, Solo, atau Yogyakarta, rantai sejarah rivalitas cukup bisa memberi justifikasi. Dengan "masuknya" Pekalongan dan Purwodadi, berarti terjadi "perluasan" peta perseteruan, yang bukan tidak mungkin juga bisa mengembang antara kota-kota yang memiliki tim kebanggaan masing-masing. Bisa Pekalongan dengan Kudus, Purwodadi dengan Pekalongan, atau Semarang dengan Kudus, dan seterusnya.

Masalahnya, insiden di Godong, Grobogan satu hari setelah pertandingan PSIS vs Persipur sungguh melompati nalar pemahaman kita tentang peta supportership di Jawa Tengah. Peru­sakan toko, kelumpuhan pasar karena cekaman ketegangan, pemblokadean lalu lintas karena rute yang menjadi berisiko, hingga kemeluasan potensi bentrok. Ada apa sesungguhnya dengan masyarakat sepak bola kita?

Pertama; egosentrisme lewat ungkapan pendukungan tim-tim sepak bola tumbuh karena psikologi fans yang selalu dinuansai representasi identitas. Identifikasi itu diperkaya oleh representasi kelompok, daerah, dan kesangaran simbolisasi misalnya Pasukan Macan Muria, Laskar Ki Ageng Selo, Laskar Simo Rodra, dan sebagainya.

Kedua; sepak bola membuka ruang bagi naluri tribalisme, berburu, untuk meneguhkan survivalitas hidup suatu kelompok. Maka yang ada dalam mind set para suporter adalah kemenangan dalam perburuan itu. Jika tidak menang, berarti ada faktor-faktor penghalang yang harus mereka taklukkan.

Ketiga; pertandingan sepak bola menjadi medium pelepasan beban hidup. Banyak yang datang ke stadion dengan kesuntukan beban, kekecewaan, dan rasa frustrasi dalam hidup keseharian. Sensitivitas perasaan itu menjadi mudah tersulut manakala sedikit saja tergesek oleh kejadian-kejadian di seputar pertandingan yang menyuburkan kekecewaan.

Keempat; selalu ada orang atau pihak-pihak yang memanfaatkan kerentanan psikologi pertandingan untuk menumpahkan kepentingannya. Apabila terjadi kerusuhan, akan ada keuntungan untuk pencitraan buruk bagi pihak tersasar. Teori konspirasi semacam ini selalu menyer­tai sebagai keniscayaan di balik sebuah kerusuhan.

Kelima; sepak bola menjelaskan identitas sebagai "forum" yang berwajah ganda. Berdaya tarik luar biasa sebagai seni permainan yang berbasis bakat, ilmu, kemampuan, dan keindahan; sekaligus menjadi magnet hebat sebagai "lahan" untuk mengekspresikan sejuta rasa. Maafkan bila saya menyebut, inilah pertarungan antara seni permainan vs ekspresi "setanisme".

Aneka Wajah

Kita tahu, para anak kandung sepak bola seperti Bill Shankly, Franz Beckenbauer, Cesar Luis Menotti, Jose Mourinho, Paolo Di Canio, atau Juergen Klopp mengartikulasikan ekspresi sepak bolanya dengan aneka wajah. Dari arogansi komunitas (Shankly), ekspresi kepemimpinan (Beckenbauer), seni perlawanan rezim politik (Menotti), karakter ego (Mourinho), eksentrisme (Di Canio), hingga kejeniusan (Klopp), dan filosofi yang mereka transformasikan pastilah sedikit banyak memberi warna bagi para pemain, lalu tim yang ditukangi, meluas sampai pada indoktrinasi sikap fans.

Artinya, selalu ada figur, patron, dan kekuatan kepemimpinan untuk menjadikan sepak bola akan terorientasi ke mana. Karena itu saya merefleksikan bentrok suporter dan masyarakat dalam pertandingan Persipur vs PSIS itu sebagai pantulan mikro kondisi organisasi sepak bola nasional kita. Juga bisa kita pahami sebagai representasi kondisi makro berbangsa dan bernegara yang serbaanomali.

Para suporter, masyarakat yang terpancing dalam bentrok seolah-olah anak ayam kehilang­an induk. Benar, tentu banyak indikator lain di balik keberingasan itu, namun tidak ada salahnya kita berintrospeksi betapa masyarakat sedang kehilangan anutan, sikap kepemimpinan, yang menjadikan "para yatim piatu" itu mudah terpancing lantaran impitan frustrasi panjangnya.

Mereka menampilkan wajah-wajah setan, karena memang memantulkan aura para setan besar ...  (10)


–  Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER