panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
02 Mei 2013
SUARA GURU
Pendidikan Transformatif
  • Oleh Mardiyanto

PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini masih dalam suasana prihatin berkait kisruh ujian nasional (UN) 2013. Kisruh UN semakin menambah daftar ‘’rapor merah’’ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), setelah awal tahun ini Mahkamah Konstitusi (MK) menilai kebijakan RSBI/SBI melanggar UUD 1945 dan harus dihapus.

Tak bisa dimungkiri berbagai kebijakan pendidikan semakin menunjukkan kegamangan pendidikan nasional. Boleh jadi pemerintah selama ini keliru dalam mengambil pilar pendidikan nasional. Banyak pakar pendidikan memperingatkan bahwa arah pendidikan telah terjebak dalam paradigma liberalis. Paradima liberal yang cenderung bersifat terbuka. Pendidikan dalam perspektif liberal cenderung bersifat fisik. Karena itu, masalah perbaikan dalam dunia pendidikan sebatas usaha reformasi ‘’kosmetik’’ seperti perlunya membangun gedung baru, memodernkan sekolah, komputerisasi, menyehatkan rasio murid-guru, metode pengajaran yang efisien seperti dynamics group, learning by doing, dan experimental learning.

Sayang, perubahan-perubahan ini dibarengi dengan biaya pendidikan yang sangat mahal, sehingga tidak menjangkau masyarakat miskin. Alhasil, pendidikan berkualitas hanya dapat dinikmati sebagian golongan mampu. Hal inilah yang tampaknya saat ini sedang terjadi. Padahal, masih ada paradigma pendidikan transformatif yang tepat untuk diterapkan di Indonesia.

Buka Wawasan

Dalam perspektif ini, pendidikan harus mampu memberikan perubahan dan membuka wawasan serta cakrawala berpikir, baik pendidik maupun peserta didik. Atau dengan kata lain, lebih menekankan pada pembentukan mental dan karakter siswa, walaupun dalam berbagai keterbatasan sarana dan prasarana. Hal ini sangat cocok dengan keragaman kualitas dan sarana pendidikan di negeri ini yang masih timpang di berbagai daerah.

Baik guru maupun peserta didik berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling menyubordinasi. Masing-masing pihak mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan, sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog, saling menawarkan apa yang mereka mengerti, dan bukan menghafal pelajaran.

Yang terjadi sekarang, pendidik dan peserta didik selalu terjebak dalam latihan soal persiapan UN yang kering dari model pembelajaran bermakna. Karena itu, momentum Hari Pendidikan seyogianya mendorong pemerintah dan para pendidik untuk segera gayung bersambut guna mengubah paradigma pendidikan liberal ke arah pendidikan transformatif. Jika berhasil, maka pendidikan benar-benar menjadi jalan transformasi (perubahan) ke arah lebih baik. (37)


— Mardiyanto SPd, guru SMP 2 Sukoharjo, Wonosobo


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER