panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
29 April 2013
Tak Semua Budaya Asing Buruk

SEMARANG - Tidak semua budaya asing buruk atau menjerumuskan apabila diterapkan di Indonesia. Menurut dalang kondang Ki Entus Susmono, budaya tepat waktu bangsa asing menjadi salah satu kebiasaan yang wajib ditiru masyarakat Tanah Air.

”Warga negara asing pada umumnya sangat malu bila datang tidak tepat waktu, baik ketika janjian untuk bisnis atau interaksi sosial. Ini mungkin bisa menjadi contoh bangsa Indonesia yang rata-rata menggunakan jam karet,” ungkap Ki Entus Soesmono dalam Seminar Persoalan dan Kajian Nilai Budaya yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Bahasa Asing (KSBA)  Undip, di kampus Tembalang, Sabtu (27/4).  

Menurut Entus, budaya molor dinilai sangat merugikan. Banyak contoh orang Indonesia tak menghargai betapa berharganya waktu sehingga bermuara pada pemborosan.

Adapun budaya Barat dari sisi positif membagi dengan tegas dan profesional antara pekerjaan dan bersenang-senang.  Tak ketinggalan pula orang Jepang, sangat sungkan bila berjanji tapi tidak datang tepat waktu serta memberikan sangsi sosial untuk pelanggaran.

Sementara itu tradisi China, orang sangat tidak senang dengan korupsi.

Hukuman Sosial

Hukuman untuk orang yang melakukan korupsi tidak hanya pada individu tetapi juga pada keluarga, terutama hukuman sosial berupa penyingkiran dari masyarakat. Cara cara tersebut terbukti sangat efektif menekan budaya korupsi di China.

”Inilah yang seharusnya dicontoh oleh masyarakat Indonesia.  Bagi mereka yang senang melakukan korupsi, hukumannya jangan hukuman mati, cukup mereka diminta untuk bunuh diri saja,” sindir Entus.  

Dia mengaku bangga pada mahasiswa karena merupakan salah satu elemen yang belum terkotori oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Dalang asal Tegal  yang juga Ketua Lembaga Seni dan Budayawan Muslim Indonesia itu sekaligus  mengkritisi praktik pengajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar hingga menengah.

Dia mempersoalkan tentang bagaimana budaya dan bahasa Jawa akan mampu dipahami dengan baik kalau yang diajarkan tak menyangkut keseharian orang Jawa. Pelajaran malah lebih memperhatikan nama-nama hewan, kurang menyinggung masalah penting seperti bahasa untuk percakapan sehari-hari.

Rektor Undip Prof  Sudharto P Hadi  MES PhD meminta seminar itu mampu mencari dan menemukan kerikil kecil persoalan bangsa.

Selebihnya, butuh digagas pemikiran strategis dan solutif untuk membantu memecahkan persoalan bangsa. Hal tersebut untuk menjaga kewibawaan bangsa dan dapat implementasikan terutama pada anak-anak bangsa yang sedang belajar di Undip. (H41-60)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER