panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
26 April 2013
Pupuk dan Efisiensi Produksi
  • Oleh Harjuli Hatmono

Masih sulit rasanya keluar dari permasalahan periodik kelangkaan pupuk pada musim tanam. Hal ini selalu berulang dari tahun ke tahun di berbagai wilayah. Ribuan petani Jateng mengalami kesulitan mencari pupuk NPK pada musim tanam kali ini. Terdapat dugaan terjadi praktik monopoli dalam distribusi pupuk karena hanya merek tertentu yang beredar di pasar (SM, 5/4/13).

Selain urea dan ZA, semula ada tiga jenis pupuk majemuk beredar di Jawa Tengah, yakni NPK Kujang dengan formula 30-6-8, NPK Pelangi 20-10-10. dan NPK Phonska  15-15-15. Namun sejak Februari NPK Kujang dan Pelangi menghilang dari pasaran. Menurut anggapan kebanyakan petani NPK 15-15-15 tidak cocok untuk tanaman padi karena formula tersebut dibuat untuk tanaman perkebunan, terutama kelapa sawit.

Rayonisasi Pupuk

Pupuk bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan usaha pertanian budi daya. Usaha padi telah menempatkan kebutuhan mutlak akan pupuk, terutama pupuk kimia. Pemerinah saat ini sedang menata distribusi melalui rayonisasi. Pertimbangannya jenis pupuk yang sama akan menjadi lebih efisien dilakukan dengan cara ini.

Tetapi untuk jenis pupuk yang berformula berbeda, pada pupuk majemuk NPK tidak diberlakukan rayonisasi. Ini merupakan jawaban bagi keinginan HKTI Magelang agar peredaran jenis NPK tidak dibatasi di Jawa Tengah.

Tidak hanya di Jawa Tengah, NPK Kujang juga ditarik sementara dari Jawa Timur. Menurut Direktur Pupuk dan Pestisida Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian hal ini terkait dengan penajaman dan efisiensi distribusi (Sinar Tani, 13/4/13).

NPK Kujang memiliki komposisi kandungan nitrogen tinggi. Inilah yang menjadi kesukaan petani. Penggunaan jenis pupuk NPK yang berbeda tidak menjadi masalah mengingat ada factor penentu lain yang berperan dalam produksi.  Bagaimana cara mengetahui hal ini? Pertama; masyarakat dapat berkonsultasi lewat ponsel melalui call center Kementerian Pertanian.

Tekan angka 135, kirim. Kita akan mendapat sambutan pilihan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Selanjutnya kita diminta data luas tanam mulai 0,2, 0,5 hektare dan seterusnya, ditanam pada musim kemarau atau musim hujan.

Pertanyaan terakhir berupa pilihan menggunakan pupuk NPK Kujang, Phonska, atau Pelangi.

Peningkatan Pendapatan

Jawaban seketika, berupa pesan singkat (SMS), berapa dan kapan pupuk NPK dan pupuk urea dipergunakan. Ini layanan gratis, tanpa kehilangan pulsa. Ini baru dari jenis penggunaan pupuk NPK yang dijadikan variabel. Kedua, Pada saat ini penyuluh di tingkat kecamatan (balai penyuluhan) telah dibekali dengan alat canggih untuk mengukur kandungan unsur hara dalam tanah.

Kandungan N dalam tanah dapat diketahui dalam waktu singkat. Anggota kelompok tani dapat meminta pengujian tanah di satu kawasan bud idaya. Hasilnya? Petani di Kecamatan Mijen Semarang mempraktikkan tidak menggunakan pupuk urea pada tanah sawah yang kandungan N-nya memang relatif tinggi.

Adalah Mbah Suparmin, petani di Wanareja Kabupaten Cilacap mempraktikkan cara produksi yang efisien. Apa yang dikerjakan bukanlah penelitian dasar, bukan pula program pelatihan, juga bukan proyek titipan melainkan semata-mata upaya meningkatkan pendapatan. Tanpa seremonial panen raya.

Dengan sawah seluas 1.400 m2, diperlakukan dengan 100 % pupuk kimia (nol organik), jarak tanam 25 x 25 dari 4 bibit tumbuh 15 anakan per rumpun dengan hasil 0,7 ton gabah.

Dengan 0,2 ton pupuk organik, jarak tanam 30 x 30 dari 2 bibit tumbuh 30 anakan per rumpun hasil 1,2 ton. Yang membuat senang Suparmin, dengan 1 ton pupuk organik (nol kimia), jarak tanam 50 x 50 dari 1 bibit saja tumbuh 90 anakan per rumpun, dengan hasil 2,5 ton. Mengapa kita masih ribut dengan pupuk? Efisiensi, kunci produksi dan daya saing yang tinggi.

Ini semua merupakan program prioritas pembangunan pertanian. (10)

–  drh Harjuli Hatmono MSi, Kabid Kelembagaan Penyuluhan Sekretariat Bakorluh Jawa Tengah; Sekretaris ex-officio Komisi Penyuluhan Provinsi Jawa Tengah


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER