panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kesehatan
03 April 2013
TAB, Kelainan Jantung Bawaan
  • Oleh F Suryadjaja

Meskipun kelainan jantung bawaan yang langka, namun transposisi arteri besar yang dialami oleh bayi Deka Argantara yang lahir pada 09-02-2013 dengan berat badan normal 3,1 kilogram, menjadi fokus perhatian setelah dirilis oleh sejumlah media massa pada 27 Maret 2013.

Awalnya kondisi fi­sik normal, na­mun pada umur 26 hari, manifestasi siano­sis mun­cul pada bibir dan kuku tatkala menangis.

Insidensi kelainan jantung bawaan berkisar 8 per 1000 kelahiran hidup baik di negara berkembang maupun di negara maju. Hanya saja di negara maju, angka insidensi lebih menunjukkan realita, lantaran hampir semua kelainan jantung terdeteksi pada masa neonatus (bayi berusia 1-28 hari). Sementara di negara berkembang, hanya sebagian kelainan jantung bawaan terdiagnosis pada usia anak.

Kelainan jantung bawaan (KJB) dibagi menjadi KJB nonsianotik dan KJB sianotik. Data dari RSUP Tjipto Mangunku­suno, Jakarta, menunjukkan proporsi KJB nonsianotik sekitar 77 persen, sedangkan sisanya 23 persen merupakan KJB sianotik. KJB nonsianotik adalah penyakit jantung bawaan yang tidak mem­berikan manifestasi sianosis.

Sebaliknya KJB sianotik lebih parah kondisinya lantaran me­munculkan manifestasinya sia­nosis sehingga bibir dan kuku bayi berwarna kebiruan terutama saat menangis. Meskipun jauh lebih sedikit proporsinya, KJB sianotik menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi ketimbang PJB nonsianotik.

TAB (transposisi arteri besar) atau TGA (transposition of great arteries) merupakan kelainan jantung bawaan sejak masa embrional dalam kandungan. Kelainan jantung ini membahayakan masa kehidupan bayi, di mana angka kematian mencapai 80 persen pada usia di bawah 1 tahun. Se­men­tara angka kematian menurun menjadi 5 persen pada pada anak prasekolah. Sekitar 15 persen penyandang TAB dapat bertahan hidup hingga usia 15 tahun. Penyebab kematian terutama akibat timbulnya komplikasi gagal jantung kongestif dan infeksi paru.

Manifestasi  Klinis

Dari aspek anatomi jantung, struktur normal jantung terdiri dari 4 rongga yaitu atrium kanan dan atrium kiri yang dipisahkan oleh septum atrium yang utuh, serta ventrikel kanan dan ventrikel kanan yang dipisahkan oleh septum (sekat) ventrikel. Antara atrium kanan dengan ventrikel kanan dihubungkan oleh katub trikuspidalis, sedangkan antara atrium kiri dengan dihubungkan oleh katub mitralis.

Pembuluh darah besar (aorta) berpangkal pada ventrikel kiri untuk mengalirkan darah bersih (dominan hemoglobin teroksigenasi) ke seluruh tubuh. Semen­tara, pembuluh darah besar arteri pulmonalis berpangkal pada ventrikel kanan untuk mengalirkan darah kotor (dominan hemoglobin terreduksi) ke organ paru-paru. Pada kondisi normal per kali denyut jantung, sekitar 40 persen volume darah jantung dialirkan ke organ paru (sirkulasi paru), sedangkan 60 persen dialirkan ke seluruh (sirkulasi sistemik) dari ventrikel kiri.

Pada kelainan jantung bawaan TAB, aorta berpangkal pada ventrikel kanan untuk mengalirkan darah kotor ke seluruh tubuh. Se­dangkan arteri pulmonalis ber­pang­kal pada ventrikel kiri untuk mengalirkan darah bersih ke organ paru-paru. Lantaran darah yang mengalir ke organ paru bersumber dari ventrikel kiri pada penyandang TAB, maka 60 per­sen darah per denyut jantung mengalir ke organ paru. Dengan demi­kian berpotensi untuk terjadi edema paru dan menimbulkan gejala sesak napas dan napas tersenggal-senggal. Sebaliknya, darah kotor dari ventrikel kanan dialirkan ke seluruh tubuh, se­hingga mengakibatkan sel tubuh kekurangan oksigen dengan gejala sianosis pada saat beraktivitas atau menangis.

Untungnya, sekitar 30 persen kelainan TAB disertai dengan defek septum ventrikel. Kon­sekuensi positifnya adalah keberadaan defek (celah, stoma, lu­bang) septum ventrikel justru menjadi penyelamat jiwa bayi yang menyandang TAB. Pasal­nya, sianosis dapat tertunda lantaran darah bersih dari ventrikel kanan dapat bercampur dengan darah kotor dalam rongga ventrikel kiri sebelum dialirkan ke seluruh tubuh lewat aorta.

Meskipun kelainan TAB telah terjadi sejak masa janin dalam kandungan ibu, bayi tetap dila­hir­kan dengan berat badan normal dan tidak prematur. Pasal­nya, selama dalam kandungan, se­lain keberadaan foramen ova­le, da­rah bayi mendapat suplai oksigen dari darah ibu lewat pla­senta. Hambatan atau perlambatan masa pertumbuhan badan mulai terjadi setelah bayi berusia 3 bulan di mana terdapat kelambatan pertambahan berat badan dan panjang badan, serta gangguan perkembangan otot tubuh, sebagai konsekuensi dari rendahnya suplai oksigen (hi­pok­sia) pada sel tubuh dan asidosis metabolik.

Intervensi  Bedah

Diagnosis ditegakkan dengan manifestasi klinis, pemeriksaan fisik, foto rontgen, elektrokardiografi, ekokardiografi, pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit, asam basa, elektrolit, tekanan parsial oksigen (PO2) dan karbon dioksida (PCO2), serta kateterisasi jantung. Khusus pada gambaran foto rontgen dada bayi, bayangan jantung tampak elips seperti bayangan telur (egg on side) dengan corak vaskular paru yang meningkat.

Sebagian besar KJB tidak me­merlukan tindakan darurat medis. Pasalnya, diperlukan pengobatan suportif  terlebih dahulu sembari menunggu waktu yang tepat untuk dilakukan tindakan bedah korektif kelainan anato­mis jantung bayi. Pengobatan suportif dengan pemberian oksigen, antibiotik, obat inotropik (digitalis, dopamin), diuretik, dan obat untuk koreksi asidosis.

Kendala penanganan kasus KJB di antaranya di Indonesia, adalah masih kurangnya jumlah dokter ahli jantung anak, serta kurangnya fasilitas untuk diagnosis dan operasi jantung. Selain itu, terbatasnya pengetahuan orang tua seputar KJB dan biaya operasi jantung yang mahal sehingga tidak mampu ditanggung oleh sebagian besar orang tua bayi yang menderita PJB.

Teknik septostomi atrium dengan balon (balloon-atrialseptostomy, prosedur Rashkind) telah menjadi tindakan terapeutik pada penyandang TAB pada masa kini. Prosedur Rashkind diperkenalkan oleh Rashkind dan Miller pada 1965. Merupa­kan prosedur rutin pada setiap pasien TAB lewat penggunaan kateterisasi dengan balon khusus untuk membuat lubang pada septum atrium (septostomi), sehingga terjadi aliran darah dari atrium kiri ke atrium kanan. Dengan demikian, tindakan bedah jantung dengan prosedur Blalock-Hanlon untuk membuat defek sep­tum atrium, yang dulunya sangat emergensi, kini dapat diundurkan sampai pada suatu saat diperlukan pada bayi pe­nyan­dang TAB. Dulunya, seba­gi­an besar bayi dengan TAB bertahan hidup hingga 15 tahun, kini dapat diselamatkan jiwanya de­ngan intervensi tindakan be­dah pada organ jantung bayi. (11)


— F Suryadjaja, dokter di Dinas Kesehatan Kabu­paten Boyolali


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER