panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
28 Maret 2013
Polisi Kantongi Profil Pelaku
  • HP Sipir Terlacak di Jakarta
JAKARTA - Proses penyelidikan kasus penyerangan LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang menewaskan empat tahanan mulai membuahkan hasil. Penyidik Polri sudah mengantongi profil pelaku penyerangan.

Profil tersebut menjadi dasar atau petunjuk untuk penyelidikan selanjutnya.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri, Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, profil para pelaku yang diduga berjumlah 17 orang itu sudah mulai terungkap.

”Jelas, kami sudah punya info itu dari keterangan saksi. Cuma, kami belum bisa sampaikan kepada publik karena akan digunakan lagi untuk penyelidikan.

Itu bagian dari pendalaman penyelidikan,” ujar Boy di sela-sela Rakernis Humas Polri se-Indonesia di Hotel Maharadja, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (27/3).

Dia mengatakan, profil pelaku yang berhasil diidentifikasi tersebut, di antaranya dialek para pelaku, perawakan, dan alat-alat persenjataan yang dipakai. ”Masih dirahasiakan,” ujar Boy ketika ditanya bahasa apa yang digunakan pelaku.
Dia menegaskan, penyerangan tersebut sudah terencana matang, cermat, sistematis dan cepat. Meski demikian, pihaknya belum bisa menduga pelaku penyerangan tersebut berasal dari kelompok mana.

”Istilahnya, kami masih setengah perjalanan di dalam gua yang gelap, sedang mencari satu titik cahaya yang nantinya kami harapkan bisa membawa kami ke suatu tempat yang terang,” ujarnya.
Menurut sumber Suara Merdeka di Polda DIY,  pihaknya sudah mendapatkan kejelasan kelompok yang melakukan penyerangan dan menembak mati tahanan di LP Cebongan tersebut.
”HP (ponsel) yang mereka (pelaku) bawa sudah terdeteksi keberadaannya, yakni di salah satu wilayah di Jakarta,” ujar sumber tersebut.

”Jadi benar kalau Pangdam IV/Diponegoro (Mayor Jenderal Hardiono Saroso) dan pimpinan Kopassus Grup-2/Kartasura (Kepala Seksi Intelijen, Kapten Inf Wahyu Yuniartoto) membantah keterlibatan anggota masing-masing,” ujar sumber itu.

Sebelumnya, Ketua Komnas HAM, Siti Nurlaela mengatakan, selain menganiaya petugas LP dalam aksi penyerangan, para pelaku mengambil barang-barang inventaris LP, antara lain monitor, CCTV, server, dan merampas empat HP milik petugas sipir. Sejauh ini belum diketahui jenis dan merek ponsel yang disita.

Masih menurut sumber tadi, keberadaan ponsel milik sipir LP Cebongan itu terpantau melalui Sistem Pemosisi Global, atau yang lebih dikenal Global Positioning System (GPS). Sistem bekerja untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit.

Kapolda DIY Brigjen Drs Sabar Rahardjo, maupun Direktur Reskrimum Kombes Kris Erlangga Wijaya belum bisa dikonfirmasi tentang hasil deteksi melalui GPS itu. Dihubungi via ponsel masing-masing, tidak dijawab.
Namun, Sabar Raharjo, usai sarasehan Sinergitas Penanganan Konflik Sosial di Gedung Serbaguna Pemerintah Kabupaten Sleman, kemarin, berjanji tidak akan menutup-nutupi kasus tersebut.

Kabid Humas Polda Yogyakarta AKBP Anny Pudjiastuti menambahkan, aksesori yang dipakai kelompok  penyerang itu, di antaranya selain membawa senjata api, HT, dan granat tak ada yang mencolok. ”Mereka pakai jeans, sepatu kets, sebo, dan rompi. Rompi biasa, ada yang warna hitam, cokelat, dan biru,” katanya.
Para pelaku pun sempat saling berucap satu sama lain, kata ”ingat waktu, cepat” telontar dari salah seorang pelaku kepada yang lain.

Komnas Gagal

Untuk diketahui, empat tersangka tahanan titipan Polda DIY di LP Sleman yang tewas ditembak kelompok penyerang itu diduga terlibat dalam pengeroyokan dan penusukan Sertu Santoso, hingga tewas di Hugo’s Cafe. ”45 Saksi sudah diperiksa. Sebanyak 13 orang napi dan sisanya sipir,” jelasnya.

Sementara itu, Komnas HAM gagal melakukan investigasi di Markas Kopassus, Kandang Menjangan, Kartosuro, Sukoharjo, karena tidak mendapat izin. Ketua Komnas HAM, Siti Nurlaela mengatakan, karena tidak bisa ke Kopassus, pihaknya akan ke Mabes TNI. Komnas akan meminta Mabes untuk mengundang pihak Kopassus dalam pertemuan itu.

”Alasan birokrasi, yakni mereka belum dapat izin dari Mabes. Hanya itu yang disampaikan ke kami,” kata Siti Nurlaela usai bertemu dengan Kapolda DIY, Brigjen Drs Sabar Rahardjo di ruang kerjanya, kemarin. Pada kesempatan itu, dia menyerahkan sebuah proyektil peluru yang ditemukan timnya ketika melakukan investigasi di ruang A LP Cebongan Sleman.

Komnas HAM juga mendapatkan informasi bahwa setelah penyerangan LP Cebongan, masyarakat NTT merasa tidak aman.  Untuk itu, Komnas meminta Polda untuk menjamin kemanan mereka.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pun siap ke LP Cebongan. Sebab, sudah mendapat rekomendasi dari Komnas HAM untuk melakukan perlindungan pada 31 orang yang melihat eksekusi mati pada 4 tersangka kasus pengeroyokan di Hugo’s Cafe.

”Ada sekitar 31 orang saksi yang direkomendasikan untuk dilindungi, karena mereka mengalami trauma dan ketakutan,” ungkap Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai. 

Kepercayaan Publik

Pengamat intelijen, Wawan Purwanto mengatakan, kehadiran tim investigasi Komnas HAM itu harus didukung oleh semua pihak. Sebab, tim itu akan memberikan warna tersendiri dan membawa dampak bagi Indonesia.”Bagaimanapun, persoalan pelanggaran HAM bisa menjadi pintu masuk internasional untuk menekan Indonesia,” katanya. 

Dikatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk mengusut kasus itu. Sementara, Badan Intelijen Negara juga sudah menyatakan akan mem-back up secara penuh. Jadi, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menghalang-halangi pengungkapan kasus tersebut. Wawan mengatakan, bila ada pihak yang coba-coba menutupi fakta, maka sesungguhnya dia sedang mempertaruhkan kepercayaan publik.

Komisi Kepolisian Nasional (Kampolnas), Hamidah Abdurrahman mengatakan, pihaknya  juga merekomendasikan agar penyelidikan kasus tersebut dilakukan oleh tim penyidik gabungan Polri, TNI, dan penyidik independen.
Adapun Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Hendardi meminta Presiden membentuk tim independen seperti dalam kasus Munir. ”Tim tersebut menjadi kuat karena bekerja berdasarkan Keppres,” katanya.

Mantan Menko Polkam Wiranto mengatakan, sebenarnya tidak terlalu sulit membongkar kasus di LP Cebongan. Dia yakin polisi maupun TNI mampu mengungkap kasus itu dalam waktu singkat asalkan ada keinginan sungguh-sungguh mengungkap kasus tersebut. (K24,F4, P58, H28,J22,A20, H43, dtc-25,71)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER