panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
24 Maret 2013
LAPAS BERDARAH
  • Empat Pembunuh Anggota Kopassus Ditembak Mati di Sel
image

SLEMAN - Kasus penganiayaan di Hugo’s Cafe yang mengakibatkan anggota Kopassus Sertu ­Santoso (31) tewas pada Selasa (19/3), berakhir tragis. Empat tersangka pengeroyok ­Santoso tewas ­diberondong tembakan oleh belasan orang tak dikenal di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Cebongan,­ ­Sleman, Sabtu (23/3) dini hari. 

Keempat korban adalah Hendrik Angel Sahetapi alias Dicky (31), Yo­hanes Juan Manbait alias Juan (38), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33).

Tiga nama pertama tercatat sebagai warga Asrama NTT Jalan Tegal Panggung, Yogya­karta, sedangkan Dedi beralamat di Pu­geran, Maguwo­harjo, Depok, Sleman.

Para korban tewas dalam kondisi me­ngenaskan dengan luka tembak di ke­pala dan badan. Hing­ga semalam je­nazah mereka masih diautopsi di RS Dokter Sardjito.

Penyerbuan ber­darah itu terjadi da­lam waktu sing­kat, kurang dari 15 menit. Sekitar pukul 00.45, empat orang yang mengaku anggota Polda DIY mengetuk pintu depan lapas.

Mereka mengatakan ingin bertemu para tahanan kasus penganiayaan di Hugo’s Cafe. Keempat pria itu menunjukkan surat dengan kop berlambang kepolisian.

“Katanya mau bon (pinjam) tahanan. Petugas kami curiga, tapi kemudian diancam,” ujar Kepala Lapas Cebongan, Sukamto.

Tiba-tiba, muncul segerombolan orang bercadar memaksa masuk ke dalam lapas. Mereka mengancam sipir dengan senjata laras panjang dan granat, serta minta ditunjukkan ruang sel tempat para korban ditahan. Para petugas menolak.

Hal itu membuat para pelaku naik pitam. Mereka menganiaya delapan penjaga, lalu memaksa sipir menunjukkan sel keempat tersangka penganiayaan yang berstatus tahanan titip­an Polda DIY tersebut di Blok Anggrek kamar A5. Setelah menemukan target, gerombolan itu memberondongkan senjata api hingga keempat tahanan tewas seketika.

Puluhan tahanan dan narapidana yang berada satu ruang dengan korban menyaksikan kejadian itu. Pelaku juga membobol gudang senjata, tapi tak ada barang yang diambil. Setelah mengeksekusi keempat tahanan, para penyerbu mengambil rekaman CCTV, lalu kabur menggunakan sejumlah mobil.

Kapolres Sleman AKBP Hery Sutrisman mengatakan, tahanan lain yang selamat sudah dievakuasi.

”Korban disel dalam satu ruangan bersama 31 tahanan lain,” ujarnya.

Usai kejadian, tim Labfor Polda DIY langsung melakukan olah TKP.  Di tempat kejadian ditemukan sekitar 30 selongsong peluru. Pelaku penembakan diperkirakan berjumlah 17 orang, dan beberapa lainnya berjaga di luar. Mereka masuk ke area lapas dengan cara memanjat pagar setinggi 1,5 meter.

Hingga semalam, polisi telah memeriksa 43 saksi, terutama petugas dan penghuni lapas.

Pangdam Membantah

Berdasarkan keterangan para saksi dan waktu kejadian yang amat cepat, pelaku terlihat amat terlatih dan sangat menguasai senjata api. Kejadian itu pun memunculkan spekulasi, pelaku adalah rekan-rekan Sertu Santoso yang balas dendam. Namun, anggapan tersebut dibantah Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso.

Ia menegaskan, tidak ada anggota TNI yang terlibat penyerbuan di Lapas Cebongan.

”Pelaku adalah kelompok OTK (orang tidak dikenal),” katanya saat menghadiri acara olahraga bersama TNI-Polri di lapangan Batalyon Infanteri (Yonif) 403/Wirasada Prathista Jl Kaliurang Km 5,5, Kentungan, Yogyakarta.

”Saya akan marah sekali jika ada anggota saya yang terlibat. Jika terbukti, akan saya tindak,” imbuhnya didampingi Kapolda DIY Brigjen Sabar Rahardjo.

Saat berpidato di depan raturan anggota TNI dan Polri, Pangdam mengatakan, hubungan TNI dan Polri sudah baik. Jika polisi sakit, TNI turut merasakan.

”Jadi jelas ya, saya tidak mau mendengar dan tidak mau ada anggota TNI bersinggungan dengan polisi,” ujarnya dijawab teriakan ”siap” oleh peserta acara.

Karena begitu dekat hubungan kedua institusi, Pangdam menyatakan akan marah jika di lapangan ada anggota TNI tidak membantu polisi yang sedang menghadapi masalah.

”Mungkin kawan-kawan polisi tidak tahu, (dalam kasus Hugo’s Cafe) bahwa secara diam-diam saya sudah mengirim tim untuk mendukung pengusutan. Sebab, susahnya polisi juga susahnya TNI,” tegasnya.

Pangdam juga mengatakan bahwa Sertu Santoso terakhir merupakan anggota Kodam IV/Diponegoro, namun sebelumnya pernah ditugaskan di Kopassus. Ia membantah Santoso berada di Hugo’s Cafe untuk bersenang-senang, melainkan tengah menjalankan tugas deteksi wilayah bersama rekannya, Sertu Priyono. 

Pangdam memperingatkan para preman agar jangan pernah lagi melukai petugas, baik tentara maupun polisi yang sedang melaksanakan tugas di wilayah Kodam IV/Diponegoro yang meliputi Jateng dan DIY.

Bantahan juga dilontarkan Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo. Kepala Seksi (Pasi) Intel Grup 2 Kopassus Kapten Inf Wahyu Yuniartoto mengatakan, saat terjadi peristiwa itu, semua anggota berada di dalam markas.

“Tidak ada satu pun anggota yang mengajukan izin keluar dinas. Kalaupun ada anggota yang keluar, bisa diketahui, karena wajib mengisi buku absen di pintu gerbang utama Kopassus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jumlah anggota di dalam markas sekitar 800 orang.

Kapolda DIY Brigjen Sabar Rahardjo mengatakan, akan mengusut tuntas kasus itu.

Ia menolak peristiwa itu disebut sebagai kegagalan intelijen. Menurutnya, keamanan sudah kuat dan pemindahan para tersangka ke Lapas Cebongan pada Jumat (22/3) siang sudah dikoordinasikan sejak beberapa hari sebelumnya. Pemindahan itu dilakukan karena Mapolda DIY sedang direnovasi.

Pernyataan Kapolda dibantah tim penasihat hukum para tersangka penganiaya Sertu Santoso.

“Kami baru tahu kemarin (Jumat) pagi. Alasannya karena ada renovasi ruang sel Polda. Tapi sebelumnya tidak ada koordinasi dengan kami,” ungkap salah satu kuasa hukum, Wendy Marseli.

Di Jakarta, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Suhardi Alius mengungkapkan, pihaknya belum memastikan identitas kelompok penyerang. Polri belum melibatkan TNI dalam penyelidikan kasus itu. Sebab, belum ada dugaan kuat pelaku adalah anggota militer.

Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin mengakui, penembakan di dalam Lapas Cebongan Sleman merupakan bentuk ketidakberhasilan aparat melindungi warga. Karena itu, dia menyatakan penyesalan dan meminta maaf kepada keluarga korban.

Pihaknya juga meminta aparat mengusut kasus itu secara transparan. Para pelaku harus segera diadili dengan hukuman setimpal.

“Tindakan ini tidak hanya perusakan fasilitas negara, tapi juga penganiayaan aparatur dan pembunuhan keji,” katanya usai meninjau Lapas Cebongan.

Amir menegaskan, kejadian ini merupakan kali pertama dalam sejarah lembaga pemasyarakatan di Indonesia. (J1,H33,H46,P58,K24-59)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER