panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
19 Februari 2013
Ledakan Steroid di Jawa Tengah
  • Oleh Paulus Noor Mulia

"Steroid kini ditawarkan secara sembunyi-sembunyi di pusat kebugaran, dengan sasaran orang lama dan baru"

Semua cabang olahraha mengharamkan anabolic steroid (steroid) alias doping. Selain membahayakan kesehatan, penggunaan doping tidak senapas dengan sportivitas, intisari terpenting dunia olahraga. Bayangkan, bila sprinter 100 m atau pebalap sepeda menggunakan doping, mereka bisa memacu kecepatan yang membuat penonton ”geleng-geleng kepala”.

Untuk angkat besi, atlet dapat menambah angkatan, dalam tinju bisa memperpanjang  stamina petinju. Adapun dalam binaraga, penggunaan doping itu bisa memacu pertumbuhan otot secara instan. Penelitian yang dilakukan binaragawan kelas dunia Ade Rai (Jakarta) menyimpulkan dalam satu klub fitness, separuh dari 10 atlet patut dicurigai pernah menggunakan steroid.

Padahal banyak cerita sedih seputar penggunaan doping tersebut. Contohnya Steve Ukurip, binaragawan asal Papua, juara I kelas 80 kg di Kejurnas Prolab di Jakarta, pada Desember 2010. Usai mendapat kalungan medali emas, pria yang memiliki otot luar biasa besar itu mendadak jatuh di panggung, langsung koma, dan meninggal dunia. Dia terserang penyakit jantung, dan dicurigai menggunakan steroid.

Binaragawan asal Bengkulu Sofyan, peringkat V kelas 75 kg di Pra-PON Surabaya 2011 pemilik otot besar dan ”kering” (minim lemak) juga mendadak meninggal dunia pada awal 2012, akibat  penyakit jantung tapi dicurigai karena memakai steroid.

Menggunakan steroid merupakan jalan pintas menuju juara sekaligus kematian. Pengguna pun tak perlu ”berkeringat”. Untuk bisa menjadi binaragawan, seorang remaja berusia 18 tahun harus berlatih keras lima kali seminggu, sehari satu jam.

Selain itu, mengonsumsi vitamin yang direkomendasikan Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI)  minimal 3 tahun 6 bulan.

Bila ia menggunakan steroid, perubahan otot hanya butuh waktu setahun karena doping itu membuat pengguna tak cepat merasa lelah. Dengan suplemen biasa, atlet hanya bisa berlatih 1-2 jam, tapi bila memakai steroid bisa berlatih 5 jam tanpa merasa lelah kendati sejatinya memaksa kerja jantung, paru-paru, dan hati (liver).

Prestasi Instan

Buku Muscle and Fitness memaparkan risiko penggunaan steroid, antara lain kulit bercak-bercak (jerawat parah), gampang emosi, pada pria alat vital mengecil, pembesaran pada kelenjar prostat, tekanan darah tinggi, dan efek ketergantungan. Selain itu, menurunkan kolesterol baik (HDL-high density lipoprotein) dan sebaliknya meningkatkan kolesterol jahat (LDL-low density lipoprotein) yang mengantarkan pada risiko lebih besar terkena serangan jantung dan stroke.

Pemakai steroid bisa saja atlet atau bukan atlet. Steroid kini ditawarkan secara sembunyi-sembunyi di pusat kebugaran, dengan sasaran orang lama dan baru. Harga yang murah membuat orang tertarik, langsung membeli dan mengonsumsi tanpa menilik risiko. Steroid juga bisa menjerat atlet baru yang ingin segera mencetak prestasi juara secara instan.

Tapi juga bisa menjerat atlet tua, yang ingin terus menjadi juara. Seiring dengan pertambahan usia, kondisi fisik pasti menurun dan latihan keras tak bisa dilakukan seperti 10 tahun sebelumnya. Pemaksaan melalui latihan keras dengan bantuan steroid, sangat berbahaya, terutama bagi organ vital.

Kemerebakan pertandingan binaraga dan body fit di Indonesia, dan kini merembet ke Jateng, tentu membanggakan, dan sayang bila tercemari oleh atlet pengguna steroid. Pengurus PABBSI pemkot, provinsi, dan pusat harus memeranginya lewat sosialisasi tentang bahaya memakai steroid.

Pengelola klub fitness di Jateng perlu melindungi anggota dari pengaruh steroid. Jika ada yang menawarkan suplemen vitamin yang namanya asing, bisa menanyakan kepada instruktur atau mengonsultasikan kepada dokter. Matikan (hentikan pemakaian) steroid, sebelum doping itu mematikan Anda. (10)


--  Paulus Noor Mulia, mantan Humas Pengprov Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) Jateng, kini bergiat di Ryu Gym Semarang


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER