panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
04 Februari 2013
’’Gugur Gunung’’ Cegah DBD
  • Oleh Sunaryo

Jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Blora sudah di katagorikan kejadian luar biasa (KLB). Sebagaimana data yang dirilis Dinas Kesehatan kabupaten itu (SM, 29/01/13), sepanjang 2012 tercatat 752 kasus, dengan 12 korban meninggal. Bahkan, Januari ini kasus itu sudah mencapai 236 dengan 1 korban meninggal.

Kondisi ini tentu saja sangat mengkhawatirkan mengingat curah hujan masih akan terus berlangsung dalam tiga bulan ke depan. Nyamuk Aedes aegypti  sebagai pembawa virus de­ngue sangat menyenangi genangan air dan lingkungan yang kumuh. Di tempat tersebut  nyamuk mudah berkembang biak dalam siklus 10-12 hari.

Yang menggigit kulit manusia adalah nyamuk  betina, sedangkan nyamuk jantan memakan nektar (sari bunga). Nyamuk betina dewasa bisa hidup 2 hingga 3 bulan, sedangkan nyamuk jantan dewasa hanya berumur seminggu. Inilah yang membahayakan karena siklus perkembangbiakan nyamuk sangat cepat sehingga tidak mu­dah membasminya.

Permasalahannya, masyarakat kurang memahami siklus hidup, persebaran dan penularan, serta yang utama cara membasmi nyamuk. Masyarakat hanya kenal dengan fogging atau pengasapan, sementara upaya lain yang lebih komprehensif  kurang dikenal. Akibat­nya, ketika terjadi wabah di suatu tempat mereka hanya bisa me­nunggu program pengasapan yang tidak tentu waktunya. Sementara upa­ya-upaya preventif yang seharusnya bisa dikerjakan, tidak dila-kukan.

Dalam budaya masyarakat kita sebenarnya sudah ada nilai-nilai kearifan lokal yang mengikat masyarakat dalam satu kebersamaan dan senasib sepenanggungan. Nilai-nilai itu dahulu tumbuh subur dalam kehidupan ma­sya­rakat pedesaan di Jawa. Budaya itu biasanya disebut dengan idiom ’’gugur gunung’’. Secara istilah itu bisa berarti bekerja secara bersama-sama untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat supaya menjadi ringan, seolah-olah seperti meruntuhkan gunung.

Idiom ini bisa disinonimkan de­ngan kerja bakti, gotong royong, atau resik-resik kutha.

Kegiatan yang biasa dilakukan dengan gugur gunung antara lain membersihkan selokan, membuat jalan setapak, membuat jembatan desa, bersih-bersih lingkungan, memperbaiki saluran irigasi, memberantas hama ti­kus di sawah,  dan se­bagainya. Biasa­nya gugur gunung  di­la­kukan pada hari Ming­gu atau libur.

Cakupan itu bisa di tingkat RT, RW, atau satu kampung. Yang terpenting semua warga dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.

Budaya yang baik dan sudah mengakar di masyarakat ini bisa sangat efektif untuk memutus penyebaran DBD bila kita mampu mengungkitnya agar kembali hidup di tengah-tengah masyarakat.

Mereka tergerak untuk secara bersama-sama membersihkan lingkungan, mengubur barang-barang bekas, menutup genangan air, dan mencabut rerumputan yang rimbun.

Nilai Moral

Gugur gunung merupakan best practices leluhur bangsa yang harus terus dihidupkan. Di dalamnya terkandung pesan moral yang luhur. Hal ini  terekam dalam ungkapan: guyub rukun gugur gunung bakal rampung, yang artinya dengan bekerja sama dan saling membantu pekerjaaan yang sangat berat pun akan mampu diselesaikan. Pesan ini menyiratkan makna bahwa tak ada yang tidak bisa dikerjakan, sepanjang dilakukan secara bersama-sama.

Selain itu, dalam gugur gunung tidak memandang status dan keduduk­an seseorang. Semua sama dalam kebersamaan untuk tujuan dan kepentingan bersama.

Sikap tanpa pamrih ditunjukkan dari kesadaran diri warga dalam bekerja yang tidak berharap upah atau imbalan. Warga melakukan pekerjaan secara sukarela, penuh keikhlasan, dan hasilnya tidak selalu diukur dengan uang.

Kesederhanaan ditunjukkan dari kepekaan warga  membawa makanan dan minuman ke tempat gugur gunung sekadar untuk melepas dahaga dan sedikit me­nambah tenaga. Makanan yang dibawa biasanya sangat sederhana, seperti singkong, pisang, jagung, kacang, dan lain-lain.

Minuman yang dihidangkan pun cukup air putih, teh hangat, atau kopi.  Sementara tanggung jawab merupakan kewajiban warga terhadap kepentingan lingkungan yang dilakukannya, mulai dari kebersihan, keamanan, ketertiban, sampai keindahan. (10)


–  Sunaryo SPd MSi, pegawai Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah­raga Kabupaten Blora


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER