panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Kanal Sehat -- Empat Manfaat Kasih Ibu bagi Kesehatan Anak Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Ragam
25 Januari 2013
Warna Merah dan Masjid Apung di Laut Merah
Sungguh menakjubkan dapat menikmati sunset di Laut Merah, Jeddah.  Begitu indah dan eksotis matahari yang seharian íímembakaríí Kota Makkah dan Jeddah. Pada sore itu perlahan-lahan, tapi pasti sang surya mulai tenggelam di Laut Merah.

Tak sedikit pengunjung yang berjajar di tepi laut berdecak kagum atas panorama sunset di laut yang bersejarah itu. Ya karena itulah, ribuan pengunjung dari berbagai negara usai menunaikan rukun Islam kelima, setiap hari menyempatkan diri berkunjung ke Laut Merah untuk menikmati sunset sekaligus dapat menunaikan sholat maghrib di Masjid Apung yang berada di tepi laut itu.

Bangunan ibadah itu dinamakan Masjid Apung karena  sebagian bangunannya menjorok ke Laut Merah. Dengan demikian kalau dilihat dari kejauhan seolah-olah masjid itu terapung-apung di laut.
Banyak pengunjung yang bertanya-tanya kenapa Laut Merah kok airnya tidak merah?  Ya, laut yang terletak di sebelah barat Jazirah Arab bisa disebut Laut Merah, karena konon  pada zaman nabi Musa dikejar-kejar Raja Firaun dan ribuan tentaranya untuk dibunuh, Musa lari ke tepi laut.

Dalam posisi sudah terpepet dari kejaraan Raja Firaun dan bala tentaranya, Musa mendapat wahyu dari Allah SWT agar memukulkan tongkat yang selalu dibawanya itu ke laut. Tiga kali pukulan, maka terbelahlah laut menjadi daratan sehingga bisa dilewati Musa bersama pengikutnya menyeberang.

Sesampainya di sebarang laut, Allah kembali memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya tiga kali dan daratan yang dilewatinya tadi  berubah menjadi laut lagi. Padahal saat itu Raja Firaun bersama ribuan tentaranya sedang melewati daratan tersebut. Tak ayal lagi, raja zalim berikut ribuan tentaranya itu tewas tenggelam dan air laut pun menjadi merah karena darah Raja Firaun dan ribuan tentaranya. Kemudian laut itu dinamai Bahrul Ahmar (Laut Merah-Red), hingga sekarang nama itu masih tetap dipakai.

Alang-Alang

Kenyataan sejarah tersebut sangat menarik bagi seorang ahli fisika dari University of Cambridge bernama Collin Humphreys yang juga seorang penulis ííThe Miracle of Exodusíí. Dia mencoba menguak tabir misteri yang ada di Laut Merah.

Kemudian dia mencoba melakukan penjelajahan ke pusat Teluk Aqabah dan faktanya laut itu tidak berwarna merah, tetapi seperti kebanyakan laut pada umumnya, airnya justru bewarna biru.

Di sana, Collin Humphreys hanya menemukan sekumpulan alang-alang yang tumbuh subur berkat keberadaan air tawar di sekitar tempat tersebut. Rupanya, pendapat atau perkataan orang-orang sering salah memahami ucapan yang biasa disebutkan dalam bahasa Inggris. Alang-alang dalam bahasa Inggris disebut dengan reed, namun oleh masyarakat setempat diucapkan dengan red (merah). Karena keberadaannya di laut, oleh masyarakat setempat dinamakan red sea (Laut Merah), padahal biasa disebut dengan the reed seas (Lautan Alang-Alang).

Hal ini juga juga dikuatkan oleh penemuan ilmuwan lain yang menyatakan, Laut Merah telah salah kaprah diterjemahkan selama berabad-abad. Aslinya kata itu adalah bahasa Ibrani dari kata Yam Suph yang artinya Lautan Alang-Alang.

Banyak cerita di masa lampau yang mengaitkan kondisi Laut Merah dengan warnanya. Ada yang menyebutkan, lautan itu berwarna merah karena banyak darah dari binatang-binatang yang mati dan membusuk. Namun, ada pula yang menyebutkan, lautan itu berwarna merah karena ada sebuah batu di dasar laut yang mengeluarkan cahaya berwarna kemerahan. Pada abad ke-20, orang Eropa menyebut daerah tersebut dengan Teluk Arab. Sedangkan, Herodotus dan Ptolemeus menyebutnya sebagai Arabicus Sinus. Air Laut Merah sendiri sebenarnya tidak beda dengan air laut yang lain.

Penjelasan-penjelasan ilmiah menyebutkan bahwa warna merah di permukaan muncul akibat Trichodesmium Erythraeum yang berkembang. Ada juga yang menjelaskan namanya berasal dari gunung kaya mineral di sekitarnya yang berwarna merah. Bahkan, ada yang mengaitkan penamaan merah itu dengan peristiwa yang terjadi di Sungai Nil. Ketika Firaun mengklaim dirinya sebagai tuhan dan kaumnya menyembah berhala-berhala yang dipertuhankan, termasuk Sungai Nil dan katak (kodok) yang dikeramatkan, Allah lalu menghukum mereka atas kesesatan yang dilakukan.

Apapun versi ceritanya, yang jelas Laut Merah terkenal di seluruh dunia berkat sejarah Nabi Musa dan mitologi Romawi Kuno. Bahkan sampai sekarang tempat itu masih ada dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang di seluruh dunia, termasuk jamaah haji dari Indonesia. (Moch Danny Fadly- 12)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER