panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
21 Desember 2012
Pasien Pertama Flu Burung Dirujuk ke Rumah Sakit
  • Kendal Positif Terserang
SEMARANG- Seorang warga Bergas, Kabupaten Semarang, M (52), diduga terjangkit virus flu burung. Saat ini, dia dirawat intensif di kamar isolasi Ruang Vincentius Rumah Sakit (RS) Elisabeth Semarang. Kasus ini bermula dari tujuh ekor ayam yang baru saja dibeli oleh M di pasar mati mendadak. Tak lama kemudian, dia menderita flu. Karena risau, M pun berinisiatif memeriksakan diri ke rumah sakit. M telah menjalani perawatan sejak Senin (17/12) lalu di Elisabeth.

Kondisi kesehatannya membaik dan sudah bisa beraktivitas. Namun hingga kemarin, dia masih menempati kamar isolasi. “Perawatannya sama dengan penderita flu lain. Gejala awal waktu ke sini sama dengan orang yang menderita flu, seperti sesak nafas dan pilek. Daripada kecolongan, lebih baik dirawat dulu secara intensif,” kata Kepala Humas Elisabeth, Probowatie Tjondronegoro, Kamis (20/12). Semula, saat mendaftarkan diri untuk periksa di Elisabeth, dia menggunakan alamat Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Setelah dilacak alamat aslinya, ternyata M tinggal di Bergas, Kabupaten Semarang.

“M bersikap waspada. Dia langsung mendaftar serta memberikan informasi tentang flu yang menimpanya,” kata Probo. Pemeriksaan lewat rontgen thorax telah dilakukan. Dinas Kesehatan juga tengah memeriska usapan tenggorokan dan lendir di laboratorium untuk mengetahui terpapar atau tidaknya M oleh virus H5N1. Pemeriksaan intensif dilakukan Dinas Kesehatan karena instansi itulah yang mempunyai laboratorium untuk mengetahui paparan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Anung Sugihantono, mengatakan, pihaknya telah mendata dan melacak rumah terduga flu burung tersebut.

Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang pun telah mendirikan posko di sekitar rumah M untuk melakukan antisipasi.
“Sabtu (22/12) diperkirakan hasil laboratorium keluar. Ini kasus pertama suspect flu burung di Jateng tahun ini,” kata Anung. M diduga terjangkit flu burung akibat kontak langsung dengan unggas yang terserang virus H5N1.
Sepanjang tahun ini, kasus flu burung di Jateng belum pernah terjadi, baik suspect (terduga) maupun positif terpapar virus H5N1. Sejak November 2011, Dinkes Jateng mewaspadai flu burung yang meningkat pada musim hujan dengan sosialisasi serta advokasi di Sukoharjo, Pemalang, Pekalongan, Wonogiri, Kudus, Grobogan, Klaten, dan Banjarnegara. “Sebanyak 24 puskesmas telah siap mengantisipasi flu burung yang tersebar di kabupaten tersebut,” katanya.

Sebelumnya, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng, Whitono, menjelaskan, hingga Rabu (19/12), virus avian influenza (AI) baru yang menyerang unggas setidaknya telah membunuh 64.285 itik (0,78%) dari total populasi itik 8.159.311 ekor di 23 kabupaten/kota di provinsi ini. Agar tidak meluas, Whitono mengimbau pedagang tidak memperjualbelikan itik yang sakit. Apalagi AI baru ini tergolong zoonosis atau bisa menular ke manusia.

Enam Kecamatan

Di Kendal, virus AI atau H5N1 semakin mengganas. Virus yang lebih dikenal dengan istilah flu burung ini telah menyebar di enam kecamatan dan menyebabkan puluhan ribu itik mati mendadak. Peternak pun resah dengan kesehatan dan kerugian yang diderita.

Kabid Peternakan Dinas Peternakan Kendal, Eko Tri Jatmiko, mengatakan indikasi tersebut diketahui setelah melakukan rapid test (tes cepat) di beberapa peternakan. Sampel telah diambil dan berdasarkan pengujian, dipastikan kematian itik disebabkan virus H5N1.

Enam kecamatan tersebut adalah Weleri, Rowosari, Cepiring, Kaliwungu Selatan, Brangsong dan Patebon.
“Penyemperotan secara rutin harus dilakukan oleh peternak. Ternak jangan dijual,” kata Eko, Kamis (20/12).
Antisipasi lain yang harus dilakukan oleh peternak adalah menggunakan perlengkapan/pakaian tertutup dan steril saat memberi makan unggasnya. Mereka juga harus menjaga kebersihan kandang dan diri sendiri, terutama setelah dari kandang harus cuci tangan. Selain itu mengisolasi ternak yang sakit.

Mendadak

Ketua Kelompok Tani Desa Purwokerto, Purnomo, mengatakan akibat virus tersebut itik-itik milik peternak kelompoknya banyak yang mati. Itik mati mendadak, padahal sebelumnya terlihat sehat.
Rata-rata setiap hari ada 30-an itik mati mendadak. Ia sendiri kaget dengan kejadian tersebut. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, namun hasilnya nihil. “Padahal dulu ada 1.500 ekor. Ruginya sudah ratusan juta,” kata Purnomo. (H74,H81-43)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER