panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
30 November 2012
HIV/AIDS di Semarang (1)
Sosialisasi Gencar, Pengidap Menyebar

DUA orang penting dalam kehidupan seorang pengidap HIV/AIDS berinisial SA hilang dalam waktu setahun. Suaminya tanpa diketahui jenis penyakitnya meninggal, 110 hari kemudian disusul buah hatinya dipanggil Tuhan.

Misteri kematian dua orang penting di kehidupan perempuan berusia 30 tahun ini terkuak perlahan setelah seorang teman menyarankan untuk melakukan konseling dan tes darah untuk mengetahui ada tidaknya virus HIV.

Klinik voluntary counseling and testing  (VCT) ini membuka kejanggalan bahwa penyakit yang diderita dua orang yang telah mendahuluinya itu, adalah HIV.

Virus yang menggerogoti imunitas tubuh ini mematikan dan belum ditemukan obatnya. Deteksi dini telah membuat SA mengerti HIV juga menjangkiti tubuhnya.

Empat tahun usai terdeteksi penyakit ini, dia semakin terdorong mengampanyekan gaya hidup sehat. Seks bebas dan penggunaan narkotika dengan jarum suntik harus dihindari agar tak terkena HIV.

Dia kemudian bergabung dengan kelompok pendukung orang dengan HIV AIds (ODHA). Dia mendapatkan informasi soal penyakitnya, memperoleh pengobatan, dan SA bisa survive sampai sekarang. Bahkan SA kini mengabdikan hidupnya untuk menyemangati ODHA di berbagai tempat. “Sudah empat tahun dan saya bertahan. Umur itu urusan Tuhan, bukan berarti kita mati karena HIV/AIDS!” Kalimat terakhir yang diucapkan dengan lantang itu mendapat sambutan tepuk tangan bergemuruh.

Ketua LSM Peduli Kasih yang fokus pada pendampingan penderita HIV Aids, Aryatama (32) menjelaskan, dirinya terinfeksi HIV akibat bergumul dengan narkoba medio 1995-2000. Meski telah berhenti lama, Aryatama belum mengetahui bahwa virus HIV telah bersemayam di tubuhnya. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 2007, kenyataan itu baru diterimanya ketika dia jatuh sakit.

Di rumah sakit, kondisinya seperti sudah mendekati ajal. Cidifor-nya (salah satu sel darah putih) tinggal 2, padahal cidifor orang normal sekitar 500 hingga 1.500. “Kini, saya mengonsumsi obat HIV yang harus diminum per 12 jam, tidak boleh lupa,” katanya.

Di Jateng, Semarang menduduki peringkat pertama dengan jumlah ODHA. Jumlah kasus penderita HIV/AIDS sebanyak 81 penderita di tahun 2007 dan 96 penderita di tahun 2008. Pada tahun 2009 ada 115 kasus. Tahun berikutnya menjadi 176 kasus pada 2010, dan 2011 mencapai 427 kasus. Data Dinas Kesehatan Semarang hingga September mencapai 399 kasus. Jumlah ini diperkirakan meningkat pada akhir tahun nanti.

Fenomena ini bagai gunung es yang diperkirakan potensi penderita lebih tinggi dari data yang telah direkap dari berbagai VCT yang tersebar di berbagai rumah sakit di Semarang, antara lain di RSUP Dokter Karyadi dan Tugurejo. (Zakki Amali, Anton Sudibyo-39)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER