panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
26 November 2012
UN Halangi Pola Pikir Kreatif
  • Ciptakan Generasi Hafalan
JAKARTA - Kritik terhadap ujian nasional (UN) masih terus disuarakan oleh berbagai kalangan. Diharapkan, UN tidak lagi dijadikan alat penentu kelulusan, tetapi sebagai pemetaan atas proses pendidikan.

Budayawan Romo Mudji Sutrisno mengatakan, UN justru menjadi tembok besar yang menghalangi siswa untuk dapat mengembangkan pola pikir dan kreativitas. Sebab, pelaksanaan UN hanya mengandalkan jawaban tertutup berupa pilihan ganda.
”Bagaimana kemampuan anak hanya diukur dengan pilihan-pilihan yang ada dalam UN,” ungkap Mudji, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, keberhasilan dunia pendidikan itu bagaimana menciptakan anak-anak untuk dapat berpikir kritis. ”Tapi sayangnya, seluruh isi pendidikan itu hanya direduksi oleh bahan-bahan UN yang hanya bersifat hafalan. Anak hanya dipatok untuk menghafal untuk mencari kelulusan melalui UN,” ujarnya.

Dia juga mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh yang menyatakan UN berhasil meningkatkan niat siswa untuk belajar. ”Kelirunya, pemerintah memanfaatkan ketakutan, ketegangan, dan kegelisahan siswa untuk belajar. Padahal pendidikan itu seharusnya menyenangkan, bukan paksaan,” tegasnya.
Pernyataan senada juga diungkapkan oleh anggota Dewan Kode Etik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Mayling Oey Gardiner. Pendidikan selama ini hanya mengutamakan hafalan, bukan membuat anak mengerti dan memahami materi pelajaran.

”Ketika saya mengajak berdialog mahasiswa tingkat pertama, susah sekali. Karena mereka tidak pernah ditekankan bagaimana memahami dan mengerti di jenjang pendidikan sebelumnya,” terangnya.

Membuat Stress

Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi riil saat ini, pelaksanaan UN hanya membuat sebagian siswa stress. ”Apa yang akan dihasilkan kalau mereka tidak bisa berpikir jernih? Kita sekarang ini hanya mendulang dan memaksakan hafalan, dan itu tidak bisa dilakuka terus pada era globalisasi ini,” tandasnya.

Guru besar ilmu matematika ITB, Iwan Pranoto, mengkritik kebijakan pemerintah yang memberikan porsi 60% UN sebagai alat kelulusan. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
”Kenapa UN diberi bobot porsi 60%, sedangkan sekolah hanya 40%? Padahal yang mengerti tentang kemampuan siswa itu sekolah dan para guru,” kritiknya.

Meski demikian, dia bukan anti-UN. Namun yang dia inginkan, UN dilaksanakan hanya sebagai pemetaan atas keberhasilan proses pendidikan di Indonesia. ”UN itu sejatinya dibutuhkan untuk memetakan pendidikan, bagaimana pelayanannya. Tapi memang tidak logis jika standar siswa di Papua disamakan dengan siswa di Jakarta,” ungkap Iwan. (K32-60)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER