panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
04 November 2012
Parodi Prie GS
Lambang-Lambang Tumbang

SALAH satu indikator keruwetan sosial ialah jika sudah terjadi kekacauan lambang. Di Indonesia, sudah relatif lama tanda dilarang parkir, malah menjadi tempat parkir. Tanda dilarang berhenti, tetap berhenti, dilarang merokok tetap merokok, dan jembatan penyebarangan gagah diciptakan tetapi di bawahnya, orang-orang tetap memilih menyeberang jalan. Jika diteruskan deretan lambang yang dibangkangi itu akan terus memanjang.

Sementara lambang lama belum sanggup menarik kepatuhan, lambang-lambang baru telah bersiap menambah keruwetan. Klakson yang semula dibuat untuk menjaga kesadaran, kini oleh para sopir angkot telah dijadikan sarana mencari penumpang. Sejak tak sangggup membayar kernet, kini klakson itulah yang menjadi pengganti teriakan.

Akibatnya, seluruh pemakai jalan merasa diteriaki oleh klakson ini. Akibatnya lagi, jalan raya sedang baik-baik saja, tetapi kenapa di belakang kita, ada saja klakson menyalak tak henti-henti. Ia memang tak sedang mengklakson kita.

Tetapi siapa bisa menduga, karena sebetulnya, seluruh dari kita masih terikat simbol klakson yang sama, yakni sebagai tegur sapa. Setiap ada klakson berbunyi,  adalah teguran, jangan-jangan ada yang salah dengan diriku ini. Tapi kini, pertanyaan itu, tak mudah dijawab lagi. Satu klakson yang sama, bisa berisi pesan beraneka warna.

Sementara lambang lama belum berhasil dihidupkan, sementara lambang baru sudah dimunculkan, kini telah menyusul bibit kekacauan baru lagi, yakni simbol lama dan baru mulai didekonstruksi kalau perlu diajak tabrakan. Jika Anda mengadukan seseorang, bersiaplah untuk ganti diadukan karena pencemaran. Akhirnya menjadi tak jelas lagi, siapa tercemar, siapa pencemar.  Itulah kenapa kata tersangka saat ini menjadi kata yang labil. Karena kata itu tak melulu berarti calon pesakitan.

Pertama, ia bisa mengesankan dirinya sebagai korban. Kedua, posisi tersangka bukan lagi posisi bertahan, tetapi juga sekaligus menyerang. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, ia bisa ganti akan menyangka. Karena itu, jarang sekali tersangka kini yang masuk tahanan sendirian.

Betapa tidak mudah kini mendengar kata bantuan karena ia selalu punya ikutan. Pertama, kata bantuan, selalu dikaitkan dengan kata politis. Kini, pengikut itu sudah  bertambah lagi: pencitraan. Pencitraan itu bukannya tak ada.

Tetapi kebaikan itu pasti juga masih ada. Karena itu, jika kata pencitraan dipakai setiap kali untuk menyimbolkan dua soal yang sejatinya berbeda, tentu berbahaya. Simbol itu akan  kuat menjadi simbol karena kecocokannya dengan yang disimbolkan.

Kalau benar-benar kebaikan, tetapi dismbolkan dengan pencitraan, bisa memunculkan beberapa kemungkinan. Tapi dari sekian kemungkinan itu dua yang harus diwaspadai yakni: kemungkinan bahwa kebaikan itu ragu-ragu memunculkan diri karena cuma akan dinggap pencitraan, atau ia malah akan mati sama sekali. Maka dunia simbol ini sungguh bukan soal sederhana, karena ia adalah gambaran hidup yang sebenarnya.  Bagaimana caranya? Simbol itu harus benar-benar dicocokkan dengan kelakuan. (62)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER