panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
24 September 2012
Tajuk Rencana
Peran Figur dalam Partisipasi Pemilih
Partisipasi pemilih dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta yang dimenangi pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama meningkat sekitar dua sampai lima persen pada putaran kedua dibandingkan pada putaran pertama. Berdasarkan data menurut hitung cepat, partisipasi pemilih pada putaran kedua tersebut berkisar 65 persen, sementara jumlah warga yang tidak memilih juga menurun dibandingkan pada putaran pertama. Peran figur disebut sebagai faktor kenaikan itu.

Meningkatnya partisipasi pemilih patut menjadi pelajaran untuk penyelenggaraan pesta demokrasi di masa depan, khususnya untuk Jawa Tengah, yang pada 2013 akan menggelar pemilihan gubernur. Partisipasi pada Pilgub Jateng 2013 pantas untuk mendapat perhatian serius jika menilik ”pengalaman buruk” pada Pilgub 2008. Pilgub 2008 dimenangi pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih dengan 6.084.261 suara. Namun, jumlah golput mencapai 11.854.192 suara.

Dibandingkan dengan tingkat partisipasi pemilih di provinsi lain yang rata-rata ketika itu di atas 60 persen, pemilih di Jateng yang menggunakan hak pilihnya hanya 56 persen. Rendahnya partisipasi pemilih dan tingginya angka golput selain mengurangi bobot keterpilihan kontestan pemilu, juga berdampak pada tingkat partisipasi warga dalam proses politik pembangunan di bawah pemimpin terpilih. Pilkada DKI Jakarta memberikan pelajaran sangat penting.

Memang ada banyak faktor yang mengakibatkan rendahnya partisipasi pemilih, misalnya faktor teknis seperti warga yang tidak mendapat undangan dan tidak memiliki kartu suara. Namun, faktor teknis itu biasanya tidak signifikan karena keengganan warga untuk tidak memilih sering kali lebih banyak ditentukan oleh kualitas calon yang hendak dipilih. Pilgub Jateng 2008 memperlihatkan, mesin partai tetap tidak mampu mendongkrak jumlah pemilih.

Hal yang sama juga terjadi pada Pilgub DKI Jakarta 2012. Kemenangan Jokowi-Ahok menegaskan bahwa partai politik bukan lagi faktor yang dominan dalam partisipasi pemilih. Figur calon yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan warga pemilih lebih banyak menentukan dan mendorong warga menggunakan hak pilihnya. Pada Pilkada DKI Jakarta, partai politik benar-benar hanya berfungsi sebagai ”kendaraan”, sedangkan sentrum utama adalah figur calon.

Kondisi warga yang melek informasi ikut menentukan tingkat partisipasi pemilih. Akses terhadap informasi telah membentuk warga pemilih menjadi lebih kritis dan termotivasi memilih atas dasar persepsinya terhadap figur calon, bukan semata atas dasar partai politik. Fenomena Jokowi perlu dijadikan pelajaran berharga agar partisipasi pemilih pada Pilgub Jateng 2013 juga bisa membaik. Sangat disayangkan apabila pilgub tahun depan kembali sepi pemilih.
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER