panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
24 September 2012
Tajuk Rencana
Kritik terhadap Fungsionalitas PON
Entah sudah dalam berapa periode Pekan Olahraga Nasional (PON) kita berdebat mengenai pembajakan atlet antardaerah, konsistensi aturan kepindahan oleh KONI Pusat, lalu persoalan efisiensi pembiayaan persiapan dan penyelenggaraan. Namun kita seperti tak pernah kapok. PON dengan segala perdebatannya masih terus berlangsung. Geger mutasi atlet antarprovinsi menjelang multievent puncak itu tetap muncul. Sejumlah daerah juga berebut untuk menjadi tuan rumah.

Sikap KONI Jawa Tengah yang akan menyampaikan rekomendasi kepada KONI Pusat patut kita baca secara kritis. Wakil Ketua Umum, Suhakar menilai banyak prestasi semu di PON XVIII Riau yang pekan lalu berakhir. Banyak prestasi atlet yang dicapai dengan cara-cara tidak fair, melalui pembajakan. Terutama dalam dua PON terakhir, tak sedikit daerah yang peringkatnya melejit dalam klasemen medali karena menggunakan banyak atlet dari daerah lain, termasuk dari provinsi ini.

Fenomena pencapaian prestasi secara instan ini telah lama kita diskusikan, tetapi tidak pernah memberi pencerahan yang mengubah mind set, apalagi bagi provinsi yang menjadi tuan rumah. Ambisi sukses dalam penyelenggaraan sekaligus pengumpulan medali membuat daerah siap melakukan apa pun secara materi untuk meraihnya, terutama dengan mengiming-imingi atlet tingkat kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan dengan yang diterima di daerah asalnya.

Dari sisi atlet, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan, karena bagaimanapun mereka memperhitungkan golden age prestasi yang memang pendek, sehingga pengorbanan waktu dan fokus untuk berprestasi membutuhkan kontraprestasi yang memadai. Mereka tidak hanya berpikir tentang masa sekarang, tetapi bagaimana setelah keluar dari masa edar. Kondisi psikologis dan realitas sosial inilah yang dimanfaatkan daerah-daerah tertentu untuk "menjaring prestasi".

Masalah jaminan masa depan ini memang belum sepenuhnya terpecahkan, walaupun Kementerian Pemuda dan Olahraga telah mencoba membuka peluang atlet-atlet berprestasi nasional bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Bonus juga menjadi bagian dari solusi. Persoalan pelik hingga sekarang adalah mekanisme mutasi yang dari sisi pembinaan menciptakan unfairness, karena daerah-daerah tertentu yang sudah membina intensif merasa ditelikung begitu saja.

Jadi masih pentingkah PON? Kita lihat proporsionalitas pembinaan. Keamburadulan di Riau karena ketidaksiapan infrastruktur, juga dugaan korupsi merupakan bias, dan uang rakyatlah yang terkorbankan. Fungsionalitas dalam penggunaan dan pemeliharaan pasca-PON perlu dikalkulasi ulang. Mengapa kita tidak lebih baik meningkatkan intensitas kejuaraan nasional tiap cabang olahraga, dan memperbanyak invitasi yang berkualitas ketimbang "pesta" multievent semodel PON?
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER