panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
24 September 2012
SUARA GURU
Penambahan Jam Pelajaran
  • Oleh Fauzul Andim

WACANA penambahan jam pelajaran siswa di sekolah dari 26 jam/minggu menjadi 30 jam/minggu memunculkan polemik. Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), penambahan jam pelajaran bertujuan untuk menambah pendidikan moral dan pendidikan karakter. Hal itu dianggap sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan nilai karakter peserta didik.

Sementara Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai, rencana tersebut akan semakin menambah beban para guru. Sebab, selama ini para guru sudah terbebani dengan syarat untuk mengajar di depan kelas selama 24 jam dalam seminggu. Belum lagi kewajiban untuk membuat bahan ajar, membuat rencana pengajaran, melakukan penilaian dan pengayaan materi yang semua itu bukan pekerjaan mudah.

Hal itu akan semakin berat, karena guru juga memiliki kewajiban meningkatkan kualitas pribadi. Rencana penambahan jam pelajaran dikhawatirkan juga akan semakin membuat siswa semakin terbebani. Penulis sepakat dengan pendapat PGRI, bahwa Kemdikbud harus mempersiapkan rencana tersebut dengan matang sebelum benar-benar direalisasikan pada tahun ajaran 2013-2014. Pemerintah juga harus bisa menjamin bahwa penambahan jam pelajaran siswa benar-benar digunakan untuk menumbuhkembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik.

Jangan sampai penambahan jam pelajaran malah berdampak negatif pada psikologis peserta didik. Harus diakui, selama ini peserta didik sudah memiliki beban ganda, yaitu belajar di sekolah, belajar privat (bimbel), maupun belajar di rumah. Jika rencana tersebut benar-benar diterapkan, apakah tidak semakin menambah beban peserta didik? Meskipun materi yang diberikan tidak harus diajarkan di dalam kelas, melainkan bisa berbentuk pelajaran ekstrakurikuler. Kaji Ulang Pola pendidikan di negara-negara maju sebagian besar memang menerapkan sistem pembelajaran dengan rata-rata jam belajar lebih banyak empat jam per hari dibandingkan dengan jam pelajaran di Indonesia.

Hanya saja, hal itu hendaknya tidak dijadikan tolok ukur bagi Kemdikbud untuk menerapkan sistem tersebut, karena antara negara barat dan Indonesia memiliki kultur yang berbeda dalam masalah pendidikan. Berbagai konsekuensi yang nantinya akan ditimbulkan dengan adanya penambahan jam pelajaran di sekolah harus benar-benar dipikirkan. Pemerintah juga harus melakukan analisis matang sebelum melaksanakan rencana tersebut. Komunikasi dengan pemangku kepentingan pendidikan, baik guru, orang tua, maupun peserta didik perlu dilakukan, mengingat me

reka adalah orangorang yang akan terlibat langsung dalam rencana tersebut. Karena itu, rencana penambahan jam pelajaran patut dikaji ulang. Jangan sampai rencana tersebut hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu, misalnya menguntungkan guru yang telah tersertifikat, karena dengan adanya penambahan jam pelajaran, mereka dengan leluasa dapat menambah kuota jam mengajar. Bagi orang tua, dengan adanya penambahan jam pelajaran di sekolah, ditakutkan semakin membuat mereka lepas tangan dengan tidak mau berperan dalam mendidik anak, karena sudah merasa cukup belajar di sekolah. (37)

-- Fauzul Andim, guru SLB Negeri Ungaran


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER