Tanya: Saya seorang ibu rumah tangga, menikah enam tahun yang lalu. Sekarang sedang hamil anak pertama. Kebetulan suami dan saya berasal dari keluarga kecil, karena saya anak tunggal dan suami anak bungsu dari tiga ber-saudara. Kedua kakak suami ada-lah perempuan, tinggal di luar negeri mengikuti suaminya yang sedang tugas belajar. Orang tua kami masing-masing merasa senang sewaktu mendengar saya hamil. Karena sudah lama mereka mengharapkan cucu dari kami.
Kehamilan saya sekarang sudah tujuh bulan. Waktu ibu saya mengadakan syukuran tujuh bulan kehamilan saya, ayah dan ibu menyampaikan niatnya untuk ikut memberi nama bagi anak kami. Ketika hal itu saya sampaikan kepada suami, ternyata mertua saya juga sudah titip nama kepada suami untuk anak kami. Di samping rasa senang karena mereka memberikan perhatian dan rasa sayangnya kepada cucu, kami merasa bingung karena dua nama yang diberikan oleh mereka tidak mungkin kami gabungkan. Selain karena tidak selaras, nama itu akan terlalu panjang.
Saya dan suami tidak ingin mengecewakan orang tua kami. Ketika saya dan suami mencoba berbicara kepada orang tua kami masing-masing, ternyata keduanya sama-sama ingin nama yang diusulkan itulah yang bagus untuk anak kami. Sebagai anak tunggal, saya ingin membahagiakan orang tua saya, maka saya minta kepada suami agar nama yang diusulkan oleh bapak ibu saya yang diberikan bagi anak pertama kami, sedang nama dari mertua untuk anak kedua kelak. Tetapi suami juga punya keinginan agar usulan orang tuanya yang diterima. Akibat perbedaan pendapat itulah kami sering bertengkar. Bagaimana sebaiknya mengatasi hal itu? ( Ratna )
Jawab: Ibu Ratna, anugerah Allah yang berupa anak yang tidak lama lagi akan lahir perlu disyukuri oleh ibu beserta keluarga besar, dengan lebih mempererat tali persaudaraan. Termasuk orang tua Bu Ratna dengan mertua ibu. Suka cita yang mereka perlihatkan dengan ikut memberikan nama merupakan bukti kasih sayang mereka pada cucu yang akan lahir. Maka tujuan bersama yang baik itu perlu disertai sikap saling pengertian agar tercipta keharmonisan dalam hubungan keluarga. Nama yang diberikan oleh orang tua atau kakek/nenek, pada umumnya mengandung harapan agar anak itu kelak mempunyai sifat sifat atau sesuatu yang menjadi harapan keluarga.
Karena Bu Ratna memandang nama pemberian dari orang tua ibu lebih baik dari pemberian mertua, maka terjadi pertengkaran dengan suami yang berpendapat nama pemberian orang tuanyalah yang paling baik. Untuk menyelesaikan perselisihan itu, maka Ibu bersama suami perlu berbicara dari hati ke hati untuk melihat dampak dari pertengkaran itu bagi anak yang ada dalam kandungan. Kondisi psikis ibu berpengaruh terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak yang berada dalam kandungan.
Sekarang telah banyak yang membuktikan adanya pengaruh suasana batin ibu terhadap anaknya yang masih berada dalam kandungan. Beberapa orang tua yang mulai memberikan pendidikan Alquran sejak anak dalam kandungan telah memberikan kesaksian adanya pengaruh perkataan dan sikap ibu/atau ayahnya terhadap bayi mereka sewaktu masih dalam kandungan. Karena itu, Bu Ratna dan suami perlu segera mengakhiri perselisihan itu. Kemukakan kepada suami perlunya menjaga ketenangan dalam keluarga, serta dampaknya bagi bayi. Agar orang tua dan mertua juga mendukung terciptanya rumah tangga yang tenteram, maka Bu Ratna beserta suami perlu menjelaskan kepada mereka , dampak ketenangan batin suami dan istri bagi perkembangan bayi dalam kandungan. Ibu dan suami juga perlu mengajak orang tua dan mertua untuk duduk bersama guna mencari nama yang bagus dan sesuai harapan orang tua serta kakek nenek.
Jangan lupa mohon pertolongan Allah dan anugerah-Nya, sehingga anak yang akan dilahirkan Bu Ratna diberikan kesehatan jasmani dan rohani serta tumbuh menjadi anak yang saleh/salehah. (24)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad