panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Kedu
06 September 2012
Lulusan Ekonomi Mengajar Sejarah
  • Suka Duka Guru di Pelosok
ILMU yang diperoleh tak selamanya cocok dengan pekerjaan. Ini menjadi ''kewajaran'' karena kadang-kadang pekerjaan tak sesuai dengan ilmu ketika sekolah atau kuliah. Banyak yang mengalami demikian termasuk
Prayogo Setiawan SPd, peserta Program Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) Universitas Negeri Yogyakarta yang ditempatkan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Ia menceritakan di tempatnya mengajar, SMA Negeri 1 Tripe Jaya materi pelajaran akuntansi masih tergabung dalam rumpun mata pelajaran ekonomi. Akibatnya, ia harus mempelajari mata pelajaran ekonomi yang menurutnya cukup susah karena lulusan ekonomi mudah mengajar Akuntansi tetapi lulusan Akuntansi harus belajar ulang ekonomi.
Namun itu tak menjadikannya patah semangat membantu di daerah terpencil. Bahkan Prayogo merangkap mengajar mata pelajaran Sejarah karena tak ada yang mau mengajar itu.

Program Posdaya

''Sejak Februari 2012 guru sejarah di SMA Negeri 1 Tripe Jaya memilih mutasi ke kampung halamannya, Kabupaten Kuta Cane, Aceh Tenggara. Nah, sejak itu setiap pelajaran sejarah tak ada kegiatan belajar mengajar,'' ungkap Prayogo.
Hingga sekarang, ia menjadi guru ekonomi sekaligus sejarah. Dua mata pelajaran yang tak ada kaitannya sama sekali. Tak berhenti di situ, ternyata guru sejarah yang pindah itu juga punya tugas tambahan sebagai wali kelas X di sekolah. Akhirnya pria kelahiran Cilacap 16 Juni 1989 ini juga ditunjuk untuk menggantikan tugas wali kelas.

Selain tugas utamanya mendidik, Prayogo juga menjalankan program posdaya (pos pemberdayaan masyarakat). Kegiatan yang bisa dilakukan seperti pemberdayaan keluarga dan masyarakat, penuntasan buta huruf, pelaksanaan kegiatan pendidikan nonformal, pengelolaan kebersihan dan kesehatan lingkungan, pembinaan kepemudaan dan masih banyak lagi. ''Semua kegiatan posdaya berlangsung setelah mengajar atau saat hari libur tiba. Ada posdaya yang unik yakni  mengolah nilam. Minyak nilam adalah bahan dasar pembuatan parfum. Harganya cukup mahal Rp 500.000 untuk setiap kilogramnya,'' papar Prayogo.

Minyak nilam tergolong langka dan biaya produksinya juga mahal terutama bahan baku utama nilam. Setiap kali menyuling minyak nilam, dari tiga karung besar isi nilam sebagai bahan baku hanya diperoleh satu botol minyak nilam sebanyak 600 ml atau setara sebotol air mineral. Itu pun memakan waktu tujuh jam untuk merebusnya.
Produk minyak nilam Gayo, khususnya di Tripe Jaya, saat ini sudah menjadi langganan perusahaan parfum di Perancis, Jepang, dan Amerika Serikat. Minyak nilam Gayo lebih harum aromanya dibandingkan dengan minyak nilam hasil daerah lain di Indonesia maupun luar negeri.(Agung PW- 52,47)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER