panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
05 September 2012
Edukasi Kebencanaan bagi Perempuan
  • Oleh Ririn Handayani
KETIDAKSIAPAN menghadapi bencana sering harus kita bayar dengan korban jiwa dan harta dalam jumlah yang sangat besar. Tak hanya sampai di sini, ketidak siapan terhadap bencana juga bisa berdampak luas pada aspek ekonomi, sosial dan budaya masyarakat.

Hilang atau rusaknya sumber ekonomi masyarakat, tatanan sosial dan budaya akibat bencana bisa menimbulkan persoalan yang kompleks di kemudian hari. Proses rehabilitasi membutuhkan waktu lama yang tidak mudah dan murah. Sebagai negara yang sangat rentan terhadap bencana, karena berada di ring of fire, kesiagaan terhadap bencana adalah keharusan bagi Indonesia. Belajar dari banyak bencana yang kerap terjadi dengan korban jiwa yang tidak sedikit, pemerintah telah berupaya memperbaiki sistem penanggulangan bencana yang lebih baik dari waktu ke waktu. Tak lagi hanya sekadar sistem manajemen tanggap darurat bencana, melainkan juga manajemen risiko bencana dalam rangka memperkecil korban jiwa. Alokasi dana yang semula lebih difokuskan untuk tanggap darurat dan pemulihan pascabencana, sebagian mulai dialihkan untuk program minimalisasi jumlah korban. Salah satunya dalam bentuk sosialisasi dan edukasi kebencanaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kurikulum bencana mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah. Sayang, kegiatan ini belum berjalan secara intensif dan masif. Tidak semua sekolah mampu dan mau menyelenggarakannya. Padahal bencana bisa terjadi kapan dan di mana saja. Dalam konteks ini, pelibatan perempuan secara aktif dalam sosialisasi dan edukasi kebencanaan bisa menjadi akselerator terciptanya masyarakat siaga bencana. Peran strategis perempuan memungkinkan untuk menjalin rantai sosialisasi dan edukasi yang bisa menjangkau banyak komponen masyarakat. Apalagi, selain anak-anak, perempuan termasuk kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap bencana. Risiko Perempuan Studi yang dilakukan oleh The London School of Economics and Political Science terhadap 141 negara yang terkena bencana pada periode 1981-2002 menemukan data bahwa perempuan ternyata merupakan korban terbesar dari berbagai bencana alam yang terjadi. Pada bencana tsunami di Aceh tahun 2004, misalnya, sebanyak 55-70 persen korban meninggal adalah perempuan. Tren yang sama bahkan juga terjadi di sejumlah negara maju.

Pada bencana gelombang panas di Prancis tahun 2003, perempuan merupakan 70 persen dari 15,000 korban meninggal. Begitu pula saat terjadi badai Katrina di Amerika Serikat. Mayoritas korbannya adalah perempuan miskin keturunan Amerika-Afrika yang termasuk kategori masyarakat paling miskin di Amerika. Persoalannya, sebagaimana halnya di Indonesia. Fakta akan tingginya angka kematian perempuan belum ditanggapi dengan berbagai kebijakan yang memberikan perhatian kepada perempuan sebagai pihak yang sangat rentan terhadap bencana. Telah terjadi diskriminasi gender, bahkan sebelum bencana terjadi. Banyak perempuan tidak memiliki akses memadai terhadap informasi, sosialisasi dan edukasi kebencanaan. Banyak di antara mereka yang bahkan juga tidak mendapat peringatan sebelum bencana terjadi. Akibatnya, perempuan lebih banyak menjadi korban daripada laki-laki.

Di sinilah pentingnya sosialisasi dan edukasi kebencanaan bagi perempuan. Tidak hanya untuk meminimalisasi risiko mereka menjadi korban, namun juga mengantisipasi terjadinya diskriminasi kompleks bencana terhadap perempuan. Teknologi Informasi Komunitas perempuan yang jumlahnya lebih banyak dan sifatnya lebih intens dari komunitas laki-laki, bisa menjadi sarana sosialisasi dan edukasi kebencanaan yang efektif bagi perempuan. Sebut saja misalnya, Dasawisma, PKK, bahkan kelompok pengajian dan arisan. Agar bisa terealisasi dan berjalan efektif, harus ada motivasi dan keterlibatan pemerintah atau pihak yang kompeten dalam masalah ini. Meski ini tidak mudah, kaum perempuan harus diberi pemahaman yang cukup tentang risiko mereka dalam bencana dan potensi bencana yang sangat besar di negara kita.

Perempuan juga harus dimotivasi untuk aktif mencari dan membekali diri dengan informasi kebencanaan yang memadai. Kehadiran teknologi informasi, khususnya internet, bisa mengakselerasi sosialisasi dan edukasi kebencanaan bagi perempuan. Apalagi, jumlah perempuan pengguna internet terus mengalami kenaikan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan teknologi, secara mandiri perempuan dapat mengedukasi dirinya melalui informasi kebencanaan yang bisa diakses sebanyak mungkin di internet. Kecenderungan perempuan untuk berbagi informasi melalui blog dan jejaring sosial semakin memberi nilai tambah yang signifikan. Melalui catatan singkat, baik di blog maupun jejaring pertemanan dan citizen journalism, perempuan bisa memotivasi, mensosialisasi dan mengedukasi kaumnya bahkan masyarakat untuk lebih siap dan tanggap terhadap bencana.

 Dengan mengetahui dan mengenali tanda/gejala bencana yang mungkin dideteksi, seperti tsunami pascagempa dan gunung meletus, kaum perempuan bisa mengantisipasi dan meminimalisasi risikonya menjadi korban. Menguasai cara dan upaya menyelamatkan diri bisa menjadi bekal bagi mereka saat benar-benar terjebak dalam bencana. Tidak hanya bagaimana menyelamatkan diri sendiri melainkan juga bagaimana mengupayakan penyelamatan orang-orang terdekatnya, terutama anak-anak dan orang tua. Dengan informasi dan pengetahuan kebencanaan yang dimilikinya, kaum perempuan, terutama ibu, juga bisa menjadi mentor kebencanaan bagi anak-anak dan kerabat terdekatnya. Ini akan sangat membantu pemerintah dalam rangka mewujudkan masyarakat siaga bencana. (24)

 – Ririn Handayani, penulis dan ibu rumah tangga.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER