panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Teknologi
03 September 2012
Skuadron Udara 21 Kini Benar-Benar Jadi Skuadron
LIMA tahun lamanya Skuadron Udara 21 di Lanud Abdulrachman Saleh harus menunggu datangnya pesawat pengganti dengan penuh ketidakpastian. Akibat beberapa musibah yang terjadi, akhirnya oleh TNI AU, pesawat OV-10 dinyatakan harus grounded, tidak boleh dioperasikan.

Penerbang dialihkan ke berbagai skuadron. Tak ada pesawat di Skuadron Udara 21 waktu itu, yang ada hanya komandannya, Mayor Pnb Fairlyanto, yang kini jadi Komandan Lanud Padang. Betapa sepi Skuadron Udara 21 waktu itu.
Skuadron Udara 21 membutuhkan pesawat pengganti. Melalui proses uji coba dan tes kelaikan yang disesuaikan dengan kebutuhan Skuadron Udara 21, tiga personel dari TNI AU mencoba serta melakukan tes terbang dari tiga pesawat. Mereka adalah Letkol Pnb Andi Wijaya yang kala itu jadi Komandan Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Letkol Novian Samyoga mantan ajudan Wakil Presiden, serta Letkol Haris Haryanto yang kini jadi ajudan Wakil Presiden.

Tiga pesawat yang diuji coba adalah EMB-314 buatan Brasil, KO-1B Korea Selatan, dan K-8 China. Dalam uji terbang dan kondisi pesawat secara keseluruhan, hanya Letkol Pnb Andi Widjaya yang mencoba tiga pesawat tersebut. Sementara Letkol Haris dan Letkol Andi menguji pesawat KO-1B, sedangkan Letkol Novian dan Letkol Andi menguji pesawat K-8 Catic.

TNI-AU sebenarnya sudah tahu karakteristik pesawat buatan Korea, di antaranya sudah digunakannya K0-1 Wongbee di Skuadron Pendidikan (Skadik) 102 Lanud Adisucipto, Yogyakarta.

Pilihan akhirnya jatuh pada Super Tucano EMB-314 dengan beragam kriteria. Dari daftar pembanding tiga pesawat itu, salah satu keunggulan Super Tucano adalah mampu membawa senjata yang terdiri atas bom, roket dan senjata mesin, sementara dua pesawat lainnya tidak punya kemampuan itu.
''Super Tucano melebihi kemampuan dari kebutuhan yang ada. Handling sudah modern, juga sistem avionic-nya termodern dari pesawat lain di lingkungan TNI AU,'' kata Kol Pnb Abdi Wijaya.
Jadi tidak salah, pilihannya jatuh pada pesawat dual seat buatan Embraer Brasil  mengadopsi mesin Pratt&Whitney PT-6A-68C/3 Turboprop 1.600 SHP ini. Apalagi, di kawasan Asia, hanya Indonesia saja yang menggunakan Super Tucano.

Kolombia telah menggunakan pesawat ini untuk menumpas gerilyawan FARC, ditambah lagi aksi Super Tucano yang juga telah digunakan dalam aksi serang darat di Irak dan Afghanistan. Super Tucano juga dioperasikan oleh perusahaan keamanaan swasta, Blackwater Worldwide.

Keunggulan

Super Tucano merupakan hasil pengembangan pesawat latih EMB-312 Tucano, dan dirilis pertama kali oleh Embraer pada tahun 1983, dan hingga kini telah terjual 650 unit di 17 negara, dengan jam terbang telah mencapai lebih 1 juta jam ini mengisyaratkan Super Tucano adalah pesawat yang tingkat  operasionalnya tinggi.
Untuk persenjataan, sebagai pesawat COIN, sistem senjata internal mutlak hadir di Super Tucano, elemen organiknya tak lain adalah SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm jenis FN Herstal M3P. Bila dibandingkan, OV-10F Bronco, pesawat yang pernah ikut di operasi Seroja ini ternyata lebih berbobot. Desain awal Bronco TNI AU dilengkapi 4 pucuk senjata M60 kaliber 7,62mm, tapi oleh Dinas Litbang TNI AU, diganti mengadopsi Browning kaliber 12,7mm.
Di Super Tucano hanya terpasang dua pucuk 12,7mm, masing-masing satu buah pada sayapnya, dan pada masing-masing sayap bisa di-upload maksimum 250 peluru.
Pesawat Brasil ini mampu menbawa 5 bom MK-82 masing-masing seberat 250 kg, 4 roket POD + 1 drop tank, 3 bom MK-82+ 2 roket POD, 2 bom MK-82 + 2 roket POD + 1 drop tank.

Sistem Avionic menggunakan Flir (Forward Looking Infra) untuk pengintaian dan pencarain (SAR), LRF (Laser Range Finder) untuk memandu laser guided bomb (LGB) dan menentukan koordinat secara aktual. NVG (Night Vision Google) untuk membantu penglihatan pilot saat malam hari, Ralt (Radar Altimeter) untuk mengetahui ketinggian aktual pesawat dari permukaan tanah serta Search Light yakni lampu dengan intensitas tinggi yang digunakan untuk pencarain (SAR) pada malam hari.

Tiga Komandan

Yang cukup unik di Skuadron Udara 21 ini, ada tiga komandan dengan beragam pengalaman. Mayor Pnb Fairlyanto, waktu itu, mungkin satu-satunya komandan yang tidak punya pesawat dan anak buah. Pasalnya, OV-10 dinyatakan grounded, penerbangnya dialihkan ke berbagai skuadron udara di Indonesia. Waktu 5 tahun bagi Fairlyanto akhirnya dinilai sebagai hikmah dan harus disyukuri.

Berkomentar tentang Super Tucano yang akhirnya di skuadron yang pernah dipimpinnya, ia hanya bersyukur dan bangga, pesawat itu datang dengan selamat dan akhirnya waktu yang ditunggu pun akhirnya datang. Ia hanya berpesan, jagalah dan rawatlah, karena TNI AU mempercayakan kepada Skuadron Udara 21.
Mayor Pnb James Singal, yang menggantikan Mayor Fairlyanto tidak ada kata lain selain bersyukur. Selain dapat kepercayaan ke Brasil melihat dan melakukan tes terbang secara langsung pesawat pesanan pemerintah Indonesia, kini ia juga mendapat kepercayaan memimpin Skuadron 21. Ia pun harus bisa mendidik pilot-pilot lain yang akan menangani pesawat tempur ringan ini.

Mantan komandan Skuadron Udara 21, Kolonel Pnb Andi Wijaya, sebagai salah satu penentu pilihan Super Tucano dengan menyisihkan dua pesaingnya, KT-1B dari Korsel dan KT-8 dari China, juga bangga karena kini Skuadron 21 menjadi hidup kembali bahkan menjadi kebanggaan di TNI AU dengan keberadaan peswat baru yang nantinya akan menjadi 16 buah lengkap sebagai satu skuadron pesawat tempur ringan. (Wiharjono-24)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER