panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
23 Agustus 2012
Geger Musda Dekase
Netralitas Diragukan, Libatkan Para Camat
SEMARANG - Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Kesenian Semarang (Dekase), berkembang isu-isu tak sedap. Para pengurus lama mengendus adanya orang-orang partai politik (parpol) yang mencoba memanfaatkan monentum tersebut.

Tudingan soal partai ini disikapi serius oleh Ketua Panitia Musda Dekase, Listiyani Widyaningsih. Sebab salah satu orang yang dituding membawa kepentingan partai adalah Listiyani sendiri. Meski mengakui menjabat sebagai sekretaris Dewan Etik DPD Partai Gerindra Jateng, Listiyani membantah dirinya membawa agenda tersembunyi.
”Di dewan etik tugas saya menghukum pelanggar etika dan aturan, masak saya melanggar etika sendiri. Tidaklah,” katanya, Rabu (22/8).

Advokat yang berkantor di LKBH Satria itu mengungkapkan, dirinya memperoleh mandat sebagai ketua panitia berdasarkan keputusan Musda Luar Biasa yang digelar di TBRS, Minggu (29/7) lalu. Ia menerima karena ingin menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk kesenian.

Untuk menghindari tudingan negatif, ia tidak mengedarkan proposal ke beberapa pihak. Seluruh dana penyelenggaraan Musda ia rogoh dari kantong pribadi. ”Saya ingin tunjukkan bahwa saya yang hanya pemerhati seni saja mau berbuat untuk Dekase, seharusnya teman-teman seniman bisa melakukan lebih,” katanya.
Dijelaskan, meski waktu persiapan singkat dan dipotong libur Lebaran, namun anggota panitia berusaha memenuhi amanat Musdalub untuk menggelar acara maksimal akhir Agustus.

Permasalahan muncul pada daftar pihak mana saja yang memperoleh hak suara dalam Musda. Sebab aturan dalam AD ART Dekase masih rancu. Panitia harus menyusun daftar baru yang mengakomodasi kelompok-kelompok kesenian yang sebelumnya belum masuk. Untuk itu panitia melibatkan para camat untuk mendata kelompok kesenian di wilayahnya. ”Kelompok kesenian di kecamatan-kecamatan itu banyak, selama ini mereka tidak dilibatkan jadi seolah-olah tidak peduli dengan Dekase,” jelasnya.

Tim Verifikasi

Saat ini dari 16 kecamatan, tinggal empat yang belum menyerahkan data. Setelah terkumpul semua, nantinya ada tim tersendiri yang akan memverifikasi data tersebut. Kelompok yang bisa mengikuti Musda harus memenuhi persyaratan, di antaranya aktif selama tiga tahun terakhir. ”Kami usahakan seimbang dan mewakili semua genre kesenian,” tambahnya.

Listiyani juga membantah dirinya telah memiliki calon sendiri untuk dimenangkan. Menurutnya, setiap orang berhak mencalonkan diri dan dicalonkan. ”Yang saya tahu sudah ada empat calon, tapi saya belum bisa sebutkan,” kata staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu.
Sementara itu, Ketua Dekase (demisioner) Marco Marnadi menegaskan, dirinya bukan menolak orang partai terlibat dalam Dekase. Hanya saja, menurutnya, antara politikus dan seniman sudah memiliki wadahnya sendiri sehingga masing-masing harus menghormati wilayah itu. ”Biarlah kesenian diurus sendiri hidupnya oleh teman-teman seniman,” katanya.

Terkait kepanitian yang dipimpin Listiyani, Marco menyampaikan apresiasi atas dibentuknya tim verifikasi. Ia mengharapkan tim itu diisi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai latar belakang yang benar-benar paham kesenian di Semarang. ”Harus merata, muda, tua, seniman, wartawan. Harus orang yang benar-benar ngerti, tidak hanya tahu setengah-setengah,” tegasnya.
Di samping itu, kepengurusan Dekase ke depan, menurutnya, jangan membedakan antara orang lama dan baru. Pengurus lama yang masih mampu dan mau bekerja harus diakomodasasi.  (H68-69)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER