panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
09 Agustus 2012
Idul Fitri Serentak 19 Agustus
  • NU dan Muhammadiyah Sama

SEMARANG- Bila awal Ramadan terjadi perbedaan antara pemerintah dan sejumlah ormas Islam di Indonesia, Idul Fitri tahun ini hampir pasti serentak jatuh pada Minggu Kliwon 19 Agustus 2012.

''Dapat dipastikan tidak ada perbedaan antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad, Al-Washliyyah, dan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII),'' kata Drs KH Slamet Hambali MSi anggota Badan Hisab Rukyat Pusat dalam halaqah alim ulama MUI Jateng "Memahami Hilal Syawal 1433H" di Hotel Semesta Jalan KHA Wahid Hasyim, Kranggan, Semarang, kemarin.

Acara yang dimoderatori Dr Muhyiddin MA itu menampilkan pembicara Dr Ing Khafid, Lajnah Falakiyah PBNU, Ketua Komisi Fatwa MUI Jateng KH Kharis Shodaqoh, dan Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia Dr H Ahmad Izzuddin MAg.

Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MA mengusulkan agar Presiden menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang kesepakatan penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal.

''PP tersebut berisi kesepakatan-kesepakatam para ahli falak, baik menyangkut imkanurrukyat, hisab, rukyah maupun itsbat. Dengan adanya PP itu nantinya semua harus taat dan patuh sehingga umat Islam Indonesia bisa melaksanakan puasa Ramadan serentak bersama-sama dan Idul Fitri 1 Syawal juga bersama-sama,'' tutur Kiai Darodji.

Menurut Dr Ing Khafid dari Lajnah Falakiah PBNU, umat Islam Indonesia aneh. Dalam satu keluarga bisa memulai dan mengakhiri Ramadan pada hari yang berbeda-beda.

''Situasi seperti ini tidak pernah terjadi di masa Rasulullah Saw ataupun pada masa para sahabat. Kesimpulannya tidak ada dalil yang membolehkan perbedaan semacam ini,'' tegasnya.

Hisab Pendukung

Ketua Komisi Fatwa MUI Jateng KH Kharis Shodaqoh menjelaskan, berdasarkan pendapat jumhur ulama, dalam penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal melalui metode rukyah atau istikmal. Maka metode lain, seperti melibatkan metode astronomi dan hisab, sifatnya hanyalah pendukung atau penguat rukyatul hilal. ''Sangat mungkin hilal itu wujud menurut ilmu hisab tetapi tidak bisa dirukyah. Dalam kondisi seperti ini jumhurul ulama menganggap belum rukyah (belum masuk tanggal),'' tegas pengasuh pesantren Al-Itqon, Bugen, tlogosari itu.

Menurut Kiai Slamet Hambali, berdasarkan hisab, pada Sabtu Wage 18 Agustus atau 29 Ramadan 1433 H, tinggi hilal kurang lebih 6 derajat dan matahari terbenam pada pukul 17.40.

''Muhammadiyah mempunya kriteria sendiri yakni hisab wujudul-hilal. Hilal dianggap sudah wujud bilamana saat matahari terbenam bulan tidak mendahului terbenam. Ijtimak sudah terjadi sebelum matahari terbenam. ''Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa awal Syawal 1433H jatuh Minggu Kliwon 19 Agustus 2012,'' katanya.

Adapun Nahdlatul Ulama (NU) meski dalam kalender takwim menyebutkan 1 Syawal 1433H jatuh hari Minggu Kliwon 19 Agustus, namun untuk kepastiannya tetap menunggu hasil rukyah 29 Ramadan mendatang. (B13,H84-77)


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER