panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kesehatan
01 Agustus 2012
Mengantisipasi Infeksi Enterovirus

SULIT secara cepat menetapkan diagnosis penyakit infeksi enterovirus, khususnya enterovirus 71, dalam kehidupan keseharian. Pasalnya jumlah serotipe enterovirus yang begitu banyak. Apalagi hampir tidak ada serotipe yang memberikan gejala klinis dini yang khas. Hanya enterovirus 70 merupakan satu-satunya enterovirus yang khas menjadi penyebab konjungtivitis pendarahan akut.

Infeksi enterovirus melanda pada semua populasi manusia. Meskipun insidensi tinggi tergantung faktor letak geografis (kawasan tropis dan subtropis), musim (panas, gugur, hujan) dan usia pasien. Namun sebagian besar infeksi enterovirus bersifat asimtomatis atau bergejala ringan yang sembuh sendiri dalam 7 hari. Bahkan pada infeksi meningitis aseptik sekalipun.  

Masyarakat pada umumnya memiliki ungkapan diagnosis berupa ‘semacam penyakit masuk angin tapi tanpa pilek’. Namun disertai gejala mual atau muntah, kembung dan penurunan selera makan. Badan terasa pegal dan otot betis teraba lebih keras dan sedikit nyeri bila ditekan (miositis). Juga terasa kaku pada leher belakang.     

Sementara pada kasus lebih berat muncul vesikel (gelembung berisi air) pada kulit di daerah tangan, telapak kaki, dan pantat (bokong). Begitu pula pada mukosa mulut, lidah, tonsil, dan langit-langit (palatum) yang kemudian pecah (ulserasi) yang sering disalahdugakan dengan sariawan.

Bayi usia di bawah 3 bulan memiliki insidensi tertinggi. Infeksi enterovirus pada neonatus hingga usia 28 hari terkadang fatal, meski hingga usia satu bulan masih terproteksi oleh imunoglobulin (maternal) pasif lewat ASI. Bayi dan balita yang sehat jarang terkena infeksi enterovirus parah pada jaringan saraf otak dan komplikasi fatal pada organ jantung dan paru.

Imunodefisiensi

Enterovirus, tak terkecuali EV71, menyebabkan infeksi persisten pada sistem saraf pusat hingga fatal, mengingat enterovirus bermukim seumur hidup pada saluran cerna manusia. Singkatnya, sekali terinfeksi sepanjang hayat virus berdomisili dalam tubuh. Fenomena ini terutana dijumpai pada pasien dengan kelainan herediter imunitas tubuh (khususnya disfungsi limfosit B yang menurun secara genetik), leukemia, kanker, HIV/AIDS, agamaglobulinemia dan pascatransplantasi sumsum tulang.

Manifestasi klinis infeksi enterovirus pada pasien dengan daya tahan tubuh lemah (imunodefisiensi) berupa meningoensefalitis kronis dengan keluhan sakit kepala kronis, badan lemah (letargi), kaku leher ringan serta kelemahan anggota gerak atau kejang. Partikel enterovirus tak jarang tetap ditemukan dalam cairan otak, juga dalam organ otak, paru, liver, limpa, ginjal dan sumsum tulang.

Prognosis infeksi enterovirus pada pasien imunodefisiensi bersifat buruk. Injeksi intravena imunoglobulin (intravenous immunoglobulin, IVIG) tidak selalu efektif lantaran kekambuhan tetap terjadi. Belum ada antivirus yang efektif, meski obat pleconaril memberi secercah harapan. Selain itu, fluktuasi keparahan penyakit dipengaruhi faktor aktivitas fisik yang berlebihan, stres dingin, malanutrisi, kehamilan dan usia neonatus di bawah satu minggu. Karena itu, upaya pencegahan berupa perilaku hidup bersih teramat krusial. (11)                                                       


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER