panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Kanal Sehat -- Empat Manfaat Kasih Ibu bagi Kesehatan Anak Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
30 Juni 2012
Pergeseran Minat Calon Mahasiswa
  • Oleh Ida Pitalokasari
MENARIK saat membaca tajuk rencana Suara Merdeka berjudul ’’Minat Tinggi Menjadi Guru’’(SM, 26/6/2012) yang menjelaskan tentang minat tinggi para calon mahasiswa memilih kampus /fakultas keguruan dan ilmu pendidikan.

Itu artinya, minat calon mahasiswa menjadi guru semakin tinggi, entah dengan motivasi apa pun. Namun, jangan sampai mereka salah niat dalam memilih kampus keguruan, karena menjadi guru bukanlah untuk mengejar materi, melainkan murni panggilan hati untuk mengabdi dan ikut mencerdaskan bangsa.

Di sisi lain, hal ini memberikan angin segar bagi kampus yang menyediakan fakultas keguruan. Pasalnya, selama ini persaingan antarakampus semakin ketat, bahkan banyak kampus yang mengkomersilkan fakultasnya dengan beberapa tawaran yang menggiurkan bagi calon mahasiswa. Untuk itulah, maka kampus-kampus yang berbasis pendidikan juga harus menyambut hal ini dengan meningkatkan kualitas dan sistem pendidikannya.

Pergeseran Minat

Dewasa ini, pegawai negeri sipil, terutama profesi guru menjadi impian kalangan kawula muda. Bahkan, jumlah pendaftar di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan setiap tahun semakin tinggi.

Tahun ini, hampir separo pendaftar ujian masuk perguruan tinggi negeri memilih fakultas keguruan. Hal ini membuktikan bahwa profesi guru menjadi bidang pekerjaan yang menjanjikan.

Sebelumnya, profesi guru memang dianggap kurang menarik minat kaum muda. Namun, saat ini, tampaknya terjadi pergeseran minat. Artinya, ketika tingkat pengangguran kaum muda meningkat, lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan lowongan kerja, profesi guru mulai dilirik.

PTAIN

Selain itu, calon mahasiswa di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) pada 2012 mengalami kenaikan sangat tinggi, hingga mencapai 150% dibanding tahun lalu (SM, 19/6/2012). Pada tahun 2011 tercatat sebanyak 22.000 orang dan pada 2012 melonjak menjadi 54.636 calon mahasiswa. Dari jumlah itu, mereka akan memperebutkan kuota 52 ribu kursi dari 760 program studi (prodi) di 52 PTAIN yang tersebar di seluruh Indonesia. Dan yang paling mengherankan, hampir seluruh pendaftar, 80% masih mengidolakan Fakultas Tarbiyah yang mempelajari bidang pendidikan Islam.

Hal ini menunjukkan minat mahasiswa menjadi guru semakin tinggi. Jika dilihat dari fakta dan motivasi, fenomena memburu profesi guru ini melegakan sekaligus mengkhawatirkan. Melegakan, apabila mereka memang dimodali tujuan mulia mengabdi. Mengkhawatirkan, jika motivasi mereka hanya ingin mendapatkan materi atau uang. Guru bukan lagi profesi yang didasari panggilan jiwa untuk mengajar dan mendidik anak-anak bangsa, namun mereka hanya mengejar ‘’recehan’’ yang tak sebanding dengan nilai pengabdian guru.

Dengan motivasi apa pun, kita tentu tidak rela profesi guru dianggap sebagai pekerjaan tukang. Bukankah guru mengemban tugas berat mencerdaskan bangsa? Profesi ini membutuhkan sosok yang sungguh-sungguh bertanggung jawab secara profesional, sosial, dan moral; mendidik anak penuh cinta dan kasih sayang. Tugas yang tentu memerlukan kesungguhan dan kerja keras. Jika tidak menghayati makna profesi gutu, pendidikan kita tidak akan pernah bangkit dari keterpurukan.

Makin Diminati

Makin membaiknya penghargaan pemerintah kepada para guru, secara signifikan mendorong tingginya minat masyarakat menekuni profesi tersebut. Hal ini juga sejalan dengan masih terbukanya peluang menjadi guru, baik di sekolah negeri maupun swasta karena kebutuhan guru dari tahun ke tahun makin meningkat.

Contoh, di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, tahun ini peminatnya terus meningkat. Kebanyakan dari mereka memilih jurusan yang berbasis pendidikan, seperti Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Tadris Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris, dan sebagainya.

Hal ini membuktikan bahwa ‘’nafsu mahasiswa menjadi guru semakin tinggi. Terlepas dari itu, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan calon mahasiswa jika bertekad menjadi guru. Pertama, calon mahasiswa harus meluruskan niat jika memilih kampus keguruan, karena menjadi guru butuh keikhlasan dan perjuangan. Kedua, mampu membawa misi pendidikan, karena selama ini banyak guru yang ‘’buta’’ akan dunia kependidikan. Ketiga, menjadikan profesi guru sebagai profesi perjuangan, bukan profesi mencari uang dan materi.

Selain itu, yang paling penting adalah membekali diri untuk menjadi guru profesional, yang memiliki empat kompetensi guru, yakni kompetensi pedagogi, kepribadian, sosial, dan profesional. Kenapa demikian, selama ini banyak kampus keguruan yang mengintegrasikan antara ilmu agama, sosial, hukum dan pendidikan, namun hasilnya malah tidak maksimal. Banyak mahasiswa jurusan pendidikan yang buta akan dunia kependidikan. Maka dari itu, dengan meningkatnya pendaftar di jurusan kependidikan, kampus yang bersangkutan harus merekonstruksi sistem pembelajaran dan kurikulumnya, sehingga kampus itu akan mencetak calon guru yang siap mengabdi kepada masyarakat. (24)


—Ida Pitalokasari, mahasiswi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, aktivis Lembaga Pers Mahasiswa Islam Cabang Semarang.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER