panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
27 Juni 2012
Penjebakan Polisi dalam Razia
  • Oleh M Issamsudin
TERSEBAR luas lewat twitter kabar personel polisi mencoba menjebak seorang pengemudi dengan narkoba saat razia, beberapa waktu lalu. Disebutkan dalam razia yang digelar pada malam hari, ada polisi meletakkan narkoba di jok kendaraan mobil yang mereka setop.

Mengetahui hal itu pengemudi melakukan perlawanan. Di dekat lokasi razia ada apotek 24 jam dan berdasarkan tes urine pengemudi terbukti tidak mengonsumsi narkoba.
Polri memberi klarifikasi atas kabar itu, antara lain melalui pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Jakarta, terkait dengan razia terhadap wanita pengemudi dan wanita penumpangnya di depan Apotek K24 Jalan Bangka Raya Jakarta (Media Indonesia, 19/06/12)

Kabar polisi menjebak tersebar melalui twitter tersebut menuai banyak tanggapan. Tidak sedikit yang ”ikut” dengan mengeluhkan kisah serupa, dijebak oknum polisi. Siapapun pasti menyayangkan penjebakan oleh petugas Polri saat pelaksanaan razia. Ter­lebih lagi dengan cara meletakkan narkoba. Penje­bakan berisiko memosisikan korbannya pada tiga hal, yaitu menjadi pesakitan, sasaran pemerasan berkedok hukum, atau kedua-duanya.

Penjebakan tak hanya disangkutpautkan dengan narkoba, bisa saja melalui modus lain, misalnya terkait rambu lalu lintas atau peraturan yang mungkin saja belum diketahui oleh awam. Risiko itu makin besar bila korban tak berani melakukan perlawanan. Sangat tidak manusiawi seandainya  orang yang tidak bersa-lah harus mengalami kesusahan. Siapa tidak susah, berhadapan dengan sangkaan pasal narkoba?
Tidak itu saja karena bisa juga oknum polisi itu menjadi lebih jahat saat korbannya tidak mengaku, lalu dianiaya. Padahal, seorang tersangka yang diduga kuat melakukan tindak pidana saja punya hak untuk tidak mengaku dan hak untuk tidak dianiaya, mengapa korban penjebakan malah dianiaya?

Tindak Tegas

Penjebakan oleh oknum polisi bukan tindakan biasa melainkan kejahatan serius yang berbalut penyalahgunaan wewenang. Banyak faktor melatarbelakanginya dan semua bersentral pada mentalitas diri pelaku.
Sangat berbahaya seandainya pelaku berbaju Polri namun pola pikir, sikap, dan perilakunya tidak seperti Bhayangkara sejati, yang seharusnya melindungi dan melayani masyarakat. Hal itu sesuai dengan jati diri­nya sebagaimana ditegaskan dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Bila beredar informasi ada kejahatan lewat penjebakan yang dilakukan oknum polisi terhadap anggota masyarakat yang seharusnya mereka lindungi, Polri harus tegas. Pimpinan tidak boleh berhenti sampai tahap pemeriksaan yang dianggap selesai tanpa proses hukum tuntas.
Bila tidak dituntaskan secara internal, dikha­watirkan berulang kasus serupa.

Sangat naf kalau penjebakan itu benar terjadi dan makin merebak karena pimpinan Polri tidak tegas mengusutnya. Sebaiknya Polri jangan menunggu ada laporan resmi dari mereka yang akan atau telah dijadikan korban tapi harus aktif mencari fakta dan mengingatkan profesionalisme anggotanya.

Di sisi lain, Polri juga harus mengajak korban penjebakan oleh oknum, untuk melapor. Konsekuensinya, Polri harus memberi perlindungan yang baik serta jalur pengaduan yang cepat dan aman. Korps harus tuntas menangani kasus penjebakan saat razia sesuai aturan hukum. Termasuk memberi informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang razia dan bagaimana cara menghadapi kemungkinan dijebak.

Semua itu penting karena selama ini banyak razia bukan saja tidak sesuai aturan melainkan  juga berisiko salah maksud dan salah tujuan. Termasuk dengan menyalahgunakannya untuk menjebak dengan unsur jahatnya dan pasti akan memakan korban. Bagaimanapun polisi harus dapat melayani dan melindungi masyarakat, terlebih saat merazia pada malam atau dini hari. (10)

— M Issamsudin, peminat masalah hukum, tinggal di Semarang

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER