panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
25 Juni 2012
Surat Pembaca
Bangunan Mangkrak
Bangunan mangkrak di Semarang memang banyak. Tidak hanya bekas hotel, pertokoan, asrama, tetapi juga di kampung-kampung banyak bangunan/tanah kosong yang mangkrak, sehingga menjadikan pemandangan tak sedap di daerah tersebut.

Ada tanah kosong yang bertahun-tahun dibiarkan yang empunya tanpa dirawat, sehingga rumput tumbuh liar setinggi orang. Juga rumah-rumah kosong bertahun-tahun tanpa penghuni sampai menjadi reyot dan terkesan kumuh yang mengganggu keindahan dan kebersihan lingkungan.  Ironisnya RT/RW tidak bisa berkutik karena untuk menghubungi pemiliknya terkendala. Alamat pemilik di luar jangkauan karena berada di luar kota seperti Jakarta, bahkan luar Jawa. Ada beberapa rumah/tanah sepertinya diperdagangkan, hari ini milik si A lusa sudah berganti milik B dan seterusnya, sehingga menyulitkan RT/RW untuk mengurusi iuran dan lain-lain.

Seyogianya ada semacam Perda atau aturan apa yang mengatur tentang penghunian/pembangunan rumah/tanah, umpamanya batasan waktu tanah/rumah sekian tahun tidak dibangun/dihuni mendapat denda atau sanksi lain yang mendorong mereka segera membangun/menempati tanah/rumah kosong tersebut.

Oentong Soetjipto
Jl Rejomulyo IV/17
Semarang

• • •
KFC Pandanaran
Mengecewakan

Kejadian ini saya alami pada Senin dini hari, 14 Mei 2012 pukul 00.45 di KFC Pandanaran. Seperti biasa, setelah selesai main futsal, kami lapar dan alternatifnya di KFC, karena buka 24 jam dan sudah langganan kalau saya lapar saat tengah malam. Sampai di lokasi saya langsung masuk dan ditawari. Kami pesan jumbo besar 1 @ 3 porsi untuk dibawa pulang, ditambah satu es krim Sunday untuk dimakan di tempat. Saya menunggu sambil makan es. Sampai es habis pesanan belum selesai.
Saya kira karyawan yang semula melayani menyiapkan, eh.., tak taunya malah mendahulukan orang lain di sebelahku. Apa karena pakaianku tidak rapi, sehingga dikesampingkan? Kemudian tugas pelayanan dilimpahkan ke karyawan lain, dan temannya segera menyiapkan, tapi nampaknya juga tidak sepenuh hati. Dengan alasan perut sakit, lalu pergi meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.

Singkat cerita, setelah selesai disiapkan, eh... ditinggal lagi. Kemudian saya langsung bicara ke karyawan yang semula melayani dan menanyakan berapa habisnya? Dia menjawab Rp 73.000, dan langsung saya bayar dengan uang Rp 100.000. Anehnya, dengan cepat-cepat dia cuma mengembalikan Rp 22.000, tanpa bukti pembayaran. Duh..., masa Rp 100.000 dikurangi Rp 73.000 sisanya Rp 22.000? Saya pun malah makin bingung. Demikian kejadian ini saya ceritakan dengan sebenarnya tanpa rekayasa. Terima kasih.

Agus Setyawan
Jl Menoreh IV N0 40 A
Semarang  0822 6505 9222

Surat Terbuka untuk
Bapak Kapolda

Yang terhormat Bapak Kapolda Jateng, saya Sudar (pensiunan guru) dari Pati. Saya sudah pernah lapor kepada Bapak tiga kali atas kasus penganiayaan dan penge­royokan terhadap anak saya karena merasa dipermainkan oleh oknum aparat Polres Magelang dan Kudus. Sampai saat ini kasus itu belum ada kepastian hukum, sehingga saya menulis surat terbuka ini untuk mencari kebenaran dan keadilan.
Untuk mengingatkan kembali kepada Bapak dapat uraikan kronologis kejadian yang menimpa anak saya :
Anak saya menjadi korban pengeroyokan/penganiayaan oleh empat oknum anggota Polres Kudus dan seorang oknum PNS Kudus, serta tiga oknum anggota Polres Magelang di Desa Ngablak, Kabupaten Magelang. Kejadiannya tanggal 9 Juli 2010 dan sudah saya laporkan ke Polres Magelang dengan bukti lapor Nomor: LP/180/IX/2010 tanggal 2 September 2010.
Pengeroyokan/penganiayaan tersebut dilakukan dengan cara disetrum, dipukul dengan kayu/bambu, dan sempat disaksikan oleh ratusan warga sekitar. Akibatnya anak saya menderita luka parah dan bekasnya sampai sekarang masih ada.
Setelah saya lapor, tiga bulan kemudian saya me-nanyakan ke Polres Magelang dan dijawab bahwa saksi-saksi belum diperiksa, dan saya disuruh menghadapkan saksi untuk diperiksa. Selang dua bulan berikutnya, setelah saksi diperiksa dan saya menanyakan kembali perkembangannya, dijawab bahwa visum belum ada sehingga saya dengan biaya sendiri berusaha mencari visum dengan harapan segera ada tindak lanjut terhadap laporan itu.
Apa yang saya harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Usaha saya untuk menghadapkan saksi dan mencari visum sendiri untuk melengkapi berkas laporan justru menjadikan kecewa. Hal ini karena setelah setahun berjalan dan saya menanyakan kembali ke Polres Magelang, dijawab bahwa saksi-saksi lain belum diperiksa. Dalam hati saya bertanya, apakah demikian seharusnya pelayanan polisi kepada masyarakat?
Saya merasa kecewa atas pelayanan terhadap penanganan kasus anak saya itu, sehingga melayangkan surat kepada Bapak Kapolda. Dengan laporan itu saya berharap segera mendapat kejelasan dan kepastian hukum, namun saya harus menelan kekecewaan lagi, karena setelah 1,5 tahun saya kembali menanyakan proses penanganan kasus itu oleh Polres Magelang dijawab bahwa laporan saya dilimpahkan ke Polres Kudus.
Berdasarkan penjelasan Pol-res Magelang tersebut saya me­nanyakan ke Polres Kudus de­ngan penuh harap, namun ja­waban yang saya dapatkan tak sesuai harapan. Penjelasan yang saya terima dari Polres Kudus menyatakan bahwa berkas anak saya masih mentah. Namun, berkas kasus yang dikatakan masih mentah tersebut diserahkan ke Kejaksaan Negeri, dan oleh jaksa yang menangani pun dipertanyakan mengapa kasus yang berkasnya belum lengkap diserahkan ke Kejaksaan. Otomatis pihak Kejaksaan mengembalikan berkas perkara ke Polres Kudus dengan penjelasan bahwa saksi-saksi yang mengetahui di tempat kejadian tidak ada.
Saya putus asa dan kecewa, kemana lagi saya akan mencari keadilan? Setiap kali saya menanyakan ke Polres Kudus dan Polres Magelang justru saling melempar dengan alasan saksi-saksi yang dipanggil tidak datang. Kemana dan kepada siapa saya akan mengadukan persoalan ini demi menegakkan hukum dan keadilan?
Dengan kronologis tersebut, saya memberanikan diri menulis surat kembali kepada Bapak Kapolda karena sudah dua tahun ini kasus anak saya tidak ada kejelasan dan kepastian hukum, dengan harapan ada perhatian lebih terhadap kasus itu.

Sudar
Mudalrejo RT 04/07 Kedungsari
Gebog, Kudus

* * *

Tanggapan Bank Sahabat

Menanggapi keluhan Ibu Yessy Nova R, tanggal 19 Juni 2012, berjudul ëíKecewa Pelayanan Bank Sahabatíí, perkenankan kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami.
Selanjutnya pada 19 Juni 2012 Bank Sahabat telah menjelaskan secara langsung atas permasalahan tersebut dan telah dicapai kesepahaman bahwa permasalahan sudah terselesaikan dengan baik. Demikian penjelasan dari kami, terima kasih.

Eddy Herry
Corporate Secretary & Communication
Bank Sahabat Purba Danarta

* * *

Uang Pembulatan Amal
di Rita Pasaraya Wonosobo

Kami sering belanja di Rita Pasaraya Wonosobo dan sudah sering kami menerima pengurangan uang kembalian tidak berupa uang, barang dan jasa, tetapi pembulatan uang belanja antara Rp 15-Rp 75 (fotokopi terlampir). Pada jam yang sama kami beli di conter Rita yang lain kena pembulatan Rp 75 lagi, jadi total kami terpotong Rp 150 dengan alasan untuk amal, tanpa konfirmasi kepada konsumen.
Kami ingin bertanya, kepada siapa uang amal tersebut akan diberikan? Bukankah Bank Indonesia telah menyediakan uang logam pecahan paling kecil demi kepentingan ekonomi rakyat? Bukankah pengumpulan dana dari masyarakat luas sudah diatur oleh Bank Indonesia? Kami mohon penjelasan kepada yang terkait.

AA R Wijaya
Banyuurip 117 Wonosobo 56311

* * *

Memerangi Kesepian
pada Hari Tua

Saya tertarik membaca Suara Merdeka, Rabu, 16 Mei 2012, dengan judul “Kesepian pada Hari Tua”.
Apa yang dialami oleh Ibu Harno sama dengan saya. Suami saya meninggal 4 tahun lalu, anak 7 meninggal 1 pada Tahun 2010. Ini ujian yang sangat berat bagi saya.
Saya pensiun sebagai karyawati pada tahun 1987 kebetulan hobi saya berorganisasi, membaca, dan menulis. Setelah pensiun kegiatan saya adalah di organisasi kemasyarakatan. Masalah bacaan dikirim oleh anak-anak, yaitu berupa buku-buku agama. Ini sangat besar manfaat dan hikmahnya.
Karena saya bukan seorang jurnalis, minta maaf Bu Harno, jika tulisan saya hanya (coret-coret) seperti saya menulis suka, duka, dan kesuksesan sebagai karyawati selama 40 tahun.
Ibu Harno, kesepian selalu menghantui, apalagi anak-anak berdomisili di luar daerah. Senangnya kalau liburan bisa berkumpul, itu saja waktunya sangat terbatas, karena masing-masing punya kewajiban dan tanggung jawab.
Kalau kesepian berlarut-larut, efeknya tidak baik. Untuk mengurangi hal tersebut sebaiknya mengambil tasbih dan membaca apa saja, yang akhirnya dapat menenangkan pikiran, sadar, dan rasa ‘’panarimo’’, shalat malam mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa dan selalu istighfar.
Salam manis buat Ibu Harno.

Hj M Poerwowasito
Gg Melati 9 RT IV, RW 6
Magelang
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER