panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
23 Juni 2012
Ironis, Praktik Korupsi di Kampus
  • Oleh Fathul Jamil

AKHIR- AKHIR ini, terjadi banyak kasus korupsi di perguruan tinggi. Diberitakan di berbagai media massa, sekurangnya ada 18 universitas negeri di Indonesia yang terindikasi terjadi tindak pidana korupsi dengan rata-rata kerugian miliaran rupiah (Kompas, 7/6/2012).

Ini sangat ironis sekali, karena pada prinsipnya, kampus adalah media untuk mencetak peserta didik yang bermoral. Bagaimana mungkin kampus akan menciptakan peserta didik yang bermoral  jika di kampus sendiri terjadi praktik korupsi.

Penetapan dua tersangka kasus korupsi pengadaan peralatan dan penunjang laboratorium pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) merupakan salah satu contoh kasus.

Selain itu,  juga tersiar kabar bahwa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tersandung kasus pengadaan laboratorium senilai Rp 54 miliar.

Pada saat yang tak berjauhan,  di berbagai media massa juga diberitakan ada  indikasi sejumlah kasus  korupsi di Universitas Indonesia (UI).

Kasus tersebut mulai dari pengadaan teknologi informasi  perpustakaan, pemalsuan dokumen perpustakaan  dan pemalsuan tanda tangan untuk mencairkan sejumlah uang.

Indikasi korupsi tersebut, diperkirakan merugikan negara senilai  Rp 21 miliar.

Melihat banyaknya kasus dugaan korupsi di tubuh PT merupakan tamparan yang sangat keras terhadap lembaga pendidikan.

Sebab lembaga pendidikan seharusnya sebagai tempat atau wadah di mana orang-orang berkumpul, bekerja sama secara sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-prasarana untuk tujuan pendidikan.

Memang sangat menyedihkan ketika korupsi sudah merasuk ke dalam tubuh kampus. Di lingkungan kampus terdapat banyak  kalangan akademik dan terdidik, yang seharusnya menciptakan mahasiswa yang mandiri, jujur, kuat, dan siap menghadapi tantangan global.

Adanya praktik korupsi yang terjadi di kampus secara tidak langsung dapat berdampak negatif kepada peserta didik.

Lemahnya Kepemimpinan

Jika melihat fenomena praktik korupsi di PT, maka dapat dilihat ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya praktik korupsi di PT.

Pertama, lemahnya kepemimpinan. Lemahnya kepemimpinan dapat menjadi pemicu utama terjadinya praktik korupsi di kampus.

Ketika pemimpin PT tidak tegas terhadap bawahan, maka ada kemungkinan bawahan untuk melakukan penyelewengan.

Sebenarnya korupsi dapat diminimalisasi jika para pemimpin memberikan teladan yang baik. Apabila pemimpin di PT dapat memberikan teladan yan baik, setidaknya praktik korupsi tidak marak terjadi.

Kedua, penyimpangan tata kelola. Tata kelola di PT haruslah hati-hati. Adanya pengelolaan yang tidak transparan dapat menjadi pemicu PT melakukan korupsi.

Bagaimanapun, jika PT dikelola dengan baik dan transparan, maka akan memberikan keamananan PT dari korupsi. Sayangnya masih banyak lembaga pendidikan, khususnya kampus  yang kurang transparan dalam mengelola PT.

Pengawasan

Maraknya praktik korupsi di lingkungan kampus menjadi bukti betapa lemahnya para pemimpin kampus dalam mengelola dan mengawasi PT.

Jika saja para pimpinan dapat mengelola dan malakukan pengawasan secara maksimal, ada kemungkinan praktik korupsi tidak marak terjadi.

Pengawasan adalah kunci utama agar praktik korupsi di kampus dapat diminimalisasi.

Di samping itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sebagai lembaga yang salah satu fungsinya mengawasi atau mengontrol PT harus mengambil sikap yang jelas dan tegas terhadap institusi pendidikan yang terindikasi melakukan praktik korupsi.  

Masalahnya, selama ini tidak ada ketegasan dari Mendikbud dalam menyelesaikan korupsi di tubuh lembaga pendidikan.

Padahal Mendikbud sendiri sudah jelas-jelas mempunyai komitmen untuk mencegah korupsi.

Jika korupsi di tubuh lembaga pendidikan tidak dapat diselesaikan, bagaimana bisa menerapkan pendidikan antikorupsi yang digembar-gemborkan oleh Mendikbud.

Upaya penyadaran masyarakat kampus  agar tidak melakukan korupsi dapat dilakukan lewat beberapa hal. Pertama, gerakan kampus bersih, yakni upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kampus yang  bersih dari korupsi.

Tentunya dengan komitmen masyarakat kampus yang bersikap dan berperilaku jujur, benar dan adil.

Kedua, diharapkan Mendikbud mempunyai komitmen untuk menuntaskan korupsi di kampus.

Komitmen itu dapat diwujudkan dengan menerapkan aturan yang tegas dan konsisten terhadap setiap penyimpangan di PT.

Sudah menjadi kewajiban dan keharusan bahwa kampus harus bersih dari korupsi. Jika ada indikasi kampus melakukan korupsi, maka pemerintah  harus menindak dengan tegas dan pasti.

Di samping itu juga perlu diberikan sanksi terhadap PT yang terindikasi melakukan korupsi. Misal, sanksi berupa penundaan bantuan operasional kampus ataupun sanksi tidak mendapat  bantuan pengadaan barang.

Oleh karena itu, kampus harus diselamatkan dari tangan-tangan kotor dan orang-orang yang memiliki mental korup.

Bagaimanapun, kampus harus menjadi sebuah institusi pendidikan yang menjaga tata nilai, sebagai agen perubahan dan rumah pembelajaran bagi para mahasiswa. Bukan malah sebaliknya, menjadi lahan para koruptor untuk  melakukan praktik korupsi. (24)


—Fathul Jamil, mahasiswa Manajemen Dakwah dan pengelola Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat IAIN Walisongo Semarang.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER