
JARAK Bumi-matahari merupakan komponen fundamental dalam upaya memahami ukuran dan cara kerja tata surya. Upaya pengukuran telah dilangsungkan sejak masa Aristarchus (23 abad silam) dengan mengamati kedudukan bulan, namun saat itu hanya menghasilkan angka 2,96 juta km. Pengukuran Claudius Ptolomeus juga tak jauh berbeda, yakni 7,97 juta km atau setara 21 kali lipat jarak bumi-bulan saja.
Ini tergolong ''dekat'' dalam skala astronomi. Ptolomeus pun bersikukuh menggagas teori matahari mengelilingi bumi (geosentris), karena baginya tak ada bedanya dengan gerak bulan mengelilingi bumi.
Berabad kemudian, disadari pengukuran Aristarchus tidaklah akurat, demikian juga teori Ptolomeus.
Transit Venus menyediakan salah satu peluang untuk mengetahui jarak bumi-matahari yang lebih teliti. Sebab pengamatan tahap-tahap transit Venus dari minimal dua lokasi berbeda akan menyajikan selisih waktu-waktu kontak, sehingga paralaks matahari bisa diketahui.
Karena kita telah mengetahui diameter bumi, paralaks matahari pun bisa dikonversi menjadi jarak bumi-matahari lewat prinsip trigonometri sederhana.
Maka pada transit Venus 1761 dan 1769, jarak bumi -matahari yang lebih akurat mulai dihitung, dengan salah satu datanya berasal dari pengamatan Batavia (kini Jakarta, Indonesia).
Pada Transit Venus 1874 dan 1882 lebih banyak data diperoleh, dengan kesimpulan jarak bumi-matahari adalah 149,59 juta km, hampir 19 kali lipat lebih besar dibanding angka Ptolomeus. Keberhasilan ini menggugurkan teori Ptolomeus sekaligus mendefinisikan nilai Satuan Astronomi (SA) yang amat berguna dalam skala jarak di alam semesta. (*)
(/)